Breaking News:

Seorang Siswi SMP di Ketapang Melahirkan di WC Sekolah

Semoga kejadian ini menjadi pelajaran atau cambuk kita bersama supaya tidak ada lagi anak putus sekolah karena berbadan dua atau terpaksa kawin

Penulis: Nur Imam Satria | Editor: Try Juliansyah
KOMPAS.com/NURWAHIDAH
Ilustrasi bayi 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Informasi mengenai adanya kejadian seorang siswi SMP di Kabupaten Ketapang melahirkan di WC sekolah ramai beredar di media sosial.

Untuk memastikan kejadian itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ketapang Jahilin saat dikonfirmasi awak media membenarkan hal tersebut.

Menurutnya, kejadian itu terjadi di satu diantara sekolah menengah pertama di Ketapang pada Jumat 22 Oktober 2021.

"Informasi yang kami peroleh dari kepala sekolah dan seorang guru memang terjadi seorang siswi kelas 3 SMP tersebut melahirkan di WC itu tanggal 22 Oktober," kata Jahilin.

74 Desa di Ketapang dan Kayong Utara Belum Teraliri Listrik Negara

Jahilin melanjutkan, atas kejadian itu pihak sekolah termasuk guru, wali kelas dan kepala sekolah langsung menangani siswi tersebut dengan membawa ke bidan terdekat.

"Dan pada hari itu juga dijemput orangtua siswa tersebut dengan calon suami ataupun suami daripada siswa tersebut," jelasnya.

Jahilin menilai, kejadian ini terjadi karena siswi yang bersangkutan itu tidak pernah melapor kondisinya ke pihak sekolah. Terlebih siswi itu akan mengikuti ujian dan akan lulus dari SMP.

"Jadi itu benar-benar terjadi, karena kita maklum. Karena dua tahun tidak masuk sekolah, jadi anak tidak terdeteksi oleh kepala sekolah dan guru. Tau-tau masuk sudah berbadan dua," ungkapnya.

Untuk itu, Jahilin menegaskan, pihaknya merasa prihatin karena akibat pandemi Covid-19 seluruh siswa-siswi tidak masuk sekolah.

Yang mana akibatnya, para siswa dan siswi menjadi tidak dapat diawasi oleh para guru maupun juga orangtua.

"Semoga kejadian ini menjadi pelajaran atau cambuk kita bersama supaya tidak ada lagi anak putus sekolah karena berbadan dua atau terpaksa kawin. Karena umur masih muda jalanilah untuk sekolah lebih diutamakan," tegasnya.

Sementara mengenai nasib siswi itu untuk mengikuti ujian, Jahilin mengungkapkan bahwa jika yang bersangkutan memiliki kesehatan dan kemampuan untuk mengikuti ujian, maka siswi itu boleh mengikuti ujian.

"Kalau tidak pun dia bisa mengikuti program paket B. Dia bisa ikut pendidikan penyetaraan paket B karena dia SMP. Dan paket C nanti kalau SMA," pungkasnya. (*)

(Simak berita terbaru dari Ketapang)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved