Breaking News:

Awas Pencurian Data Pribadi untuk Pinjaman Online, Begini Penjelasan Dosen Informatika

Mengenai aplikasi bertambah dengan semdirinya, Yus mengatakan bahwa mungkin aplikasi-aplikasi ini suudah saling saling bekerja sama.

Penulis: David Nurfianto | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Istimewa
Ketua Jurusan Informatika Fakultas Teknik Untan, Dr. Yus Sholva, ST., MT 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Maraknya terjadi kasus Pinjaman Online (Pinjol) Ilegal yang mencuri data pribadi membuat resah diberbagai kalangan masyarakat.

Ketua Jurusan Informatika Fakultas Teknik Untan, Dr. Yus Sholva, ST., MT mengatakan bahwa pencurian data itu terjadi sejak korban mendowload aplikasinya.

"Rata-rata semua pinjaman online ini menginginkan kita harus mendownload aplikasi dulu, baik di Play Store ataupun applestore. Jadi intinya harus ter-install diSmartphone mereka yang akan melakukan pinjaman, nah disinilah proses verifikasi data itu dilakukan," ujarnya. Kamis 21 Oktober 2021

Pada saat menginstal aplikasi, Yus mengatakan bahwa dari aplikasi biasanya meminta beberapa data untum dimasukkan.

Imbau Masyarakat, Yus Sholva : Hati-Hati Instal Aplikasi

"Jadi data itu langsung dikonfirmasi ke operator, data-data yang dimasukkan itu tentu data diri. Saya juga kurang tahu karena belum pernah menginstal, tapi yang pastinya ada di minta untuk megupload KTP dan? aplikasinya juga bisa mengaktifkan kamera," jelasnya.

Seperti halnya aplikasi perbankan, Yus mengungkapkan bahwa biasanya dilakukan vidiocall oleh aplikasinya.

"Jadi ktpnya juga ditayangkan di open camera, pakai kamera depan kemudian dilihat kan ke kamera kalau terbaca dengan baik, barulah data tervalidasi. Nah itulah data awal yang masuk pada aplikasi pinjaman online," paparnya.

Kemudian mengenai teror penyebaran data pribadi, Yus mengatakan bahwa ini terjadi ketika korban mengijinkan aplikasi pinjol tersebut mengakses data diSmartphone.

"Kemungkinan terjadi teror ini, biasa yang saya dapat informasi pihak pinjol semacam mengirimkan pesan ya pesan Whatsapp ataupun SMS ke kontak-kontak yang dimiliki. Ini terjadi karena secara teknologinya atau cara kerja aplikasinya biasanya akan meminta izin pembacaan phonebook," paparnya.

Lanjutnya, seluruh kontak yang ada di handphone itu diambil oleh aplikasi pinjaman online, kemudian disimpan ke databasenya. Kemudian data ini digunanya ketika korban tidak melakukan pembayaran, dan menyebarkan hal itu melalui pesan mungkin via Whatsapp maupun SMS.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved