Breaking News:

Jembatan Gantung Rusak Diterjang Banjir, Masyarakat dan Pelajar Seberangi Sungai Gunakan Perahu

“Dan sekarang hanya satu satunya cara untuk menyeberang sungai tersebut dengan menggunakan perahu kecil,” kata Markus kepada Tribun Pontianak, Selasa

Penulis: Agus Pujianto | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Desa Keremoi disebut sangat terdampak banjir luapan sungai melawi di Kecamatan Ambalau, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, pada 2 Oktober 2021 lalu. Objek vital jembatan gantung keremoi tanjung penghubung antar dusun rusak berat. Padahal, jembatan itu yang biasa dilalui warga atau anak sekolah menyeberang sungai keremoi. Akibatnya, anak sekolah dan warga terpaksa menyeberangi sungai menggunakan sampan. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Desa Keremoi disebut sangat terdampak banjir luapan sungai melawi di Kecamatan Ambalau, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, pada 2 Oktober 2021 lalu.

Objek vital jembatan gantung keremoi tanjung penghubung antar dusun rusak berat. Padahal, jembatan itu yang biasa dilalui warga atau anak sekolah menyeberang sungai keremoi. Akibatnya, anak sekolah dan warga terpaksa menyeberangi sungai menggunakan sampan.

Markus, warga Desa Keremoi, mengungkapkan jembatan tersebut selain sebagai akses utama anak sekolah baik dari Dusun Keremue Tanjung dan orang tua atau dewasa menuju dua sekolah yaitu SD dan SMP di pusat Desa Keremoi. Jembatan itu, juga biasa di gunakan juga untuk akses para petani untuk pergi ke sawah kebun.

“Dan sekarang hanya satu satunya cara untuk menyeberang sungai tersebut dengan menggunakan perahu kecil,” kata Markus kepada Tribun Pontianak, Selasa 19 Oktober 2021.

Terkadang siswa tidak bisa berangkat ke sekolah jika permukaan air sungai pasang, terlebih jika musim penghujan.

“ Arusnya sungai deras, bahkan kemarin ada yang karam dan tidak jadi berangkat ke sekolah,” ungkapnya. “Dampak lainnya, perekonomian masyarakat, mereka susah pergi ke kebun untuk menorah dan ke sawah.”

Masyarakat kata Markus berharap pemerintah dapat membangun kembali jembatan gantung yang menjadi akses utama masyarakat.

Kecelakaan Renggut Nyawa Ketua BEM Unka Sintang, Rektor Antonius: Anaknya Sopan, Aktif di Organisasi

“Besar harapan masyarakat dan anak-anak agar pemerintah dapat membangun kembali jembatan kami,” harapnya.

Banjir yang terjadi sejak satu minggu yang lalu di Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat, berangsung surut. Namun demikian, tinggi muka air masih berada pada kisaran 100 hingga 200 cm pada Sabtu, 9 Oktober 2021. Tidak ada korban jiwa akibat peristiwa ini.

Banjir yang melanda 10 kecamatan itu dipicu meluapnya bebeberapa sungai di wilayah Kalimantan Barat. Hujan dengan intensitas tinggi mengakibatkan debit air Sungai Kapuas, Sungai Melawi dan Sungai Kayan membanjiri sepuluh kecamatan dengan ketinggian hingga 600 meter pada Sabtu pekan lalu.

Merespons kejadian tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sintang melakukan kaji cepat dan koordinasi dengan pihak terkait hingga tingkat desa dan kecamatan. BPBD juga mengimbau warga untuk selalu waspada dan siap siaga terhadap bahaya susulan maupun cuaca ekstrem. Menyikapi bencana banjir di sejumlah kecamatan, Pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat melalui Surat Bupati Sintang Nomor 360/1140/KEP-BPBD/2021 yang berlaku selama 14 hari, terhitung sejak 5 hingga 18 Oktober 2021.

BPBD Kabupaten Sintang mencatat lebih dari 8.000 rumah terdampak banjir ini. Data BPBD setempat hingga Sabtu (9/10) terhadap rumah terdampak sebagai berikut, Kecamatan Serawai 2.319 unit, Sintang 1.266, Dedai 1.242, Kayan Hilir 1.200, Ambalau 830, Tempunak 600, Kayan Hulu 600, Sepauk 400, Binjai 300 dan Ketungau Hilir 160. Total rumah terdampak mencapai 8.917 unit.

"Banjir menyebabkan 852 KK mengungsi sementara ke tempat yang aman. BPBD masih memutakhirkan jumlah warga yang mengungsi. Data sementara menyebutkan warga mengungsi di Kecamatan Serawai sebanyak 386 KK dan Ambalau 466 KK. Sedangkan total warga terdampak di sepuluh kecamatan tersebut sebanyak 8.917 KK, dengan jumlah terbanyak di Kecamatan Serawai," kata Abdul Muhari,Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB dalam rilis yang diterima Tribuh Pontianak.

BPBD Kabupaten Sintang sudah mengirim tim Rekontruksi dan Rehabilitasi untuk mendata kerusakan pasca banjir di Ambalau dan Serawai. Data yang dikumpulkan akan dikirim ke BNPB di Jakarta dan koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Perkim untuk memilah, mana kerusakan fasillitas umum yang bisa direkontruksi oleh Pemkab Sintang dan mana yang akan diperbaiki oleh BNPB. (*)

(Simak berita terbaru dari Jembatan Gantung Keremoi Tanjung Rusak Diterjang Banjir, Masyarakat dan Pelajar Seberangi Sungai Gunakan Perahu)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved