Breaking News:

Apa Saja Syarat Sah dan Rukun Jual Beli dalam Islam?

Menurut mazhab Hanafiyah, Jual beli adalah pertukaran harta (mal) dengan harta dengan menggunakan cara tertentu.

Penulis: Nasaruddin | Editor: Nasaruddin
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Ilustrasi jual beli. 

4) Suka sama suka (saling rela), yaitu atas kehendak sendiri, tidak dipaksa orang lain.

Rasulullah SAW bersabda:

“Dari Abu Said al-Khudri, Rasulullah saw. bersabda, “Yang namanya jual beli itu hanyalah sah jika didasari asas saling rela.” (HR. Ibnu Majah)

Syarat sah barang yang diperjualbelikan

1) Barang itu suci, oleh sebab itu tidak sah jual beli barang najis seperti bangkai, babi dan sebagainya.

Rasulullah SAW bersabda:

"Dari Jabir bin Abdillah ra., beliau mendengar Rasulullah saw. bersabda di Mekah, saat penaklukan kota Mekah, “Sesungguhnya, Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli khamr, bangkai, babi, dan patung.” (HR. Bukhari dan Muslim).

2) Barang itu bermanfaat, oleh sebab itu barang yang tidak bermanfaat seperti lalat, nyamuk dan sebagainya tidak sah diperjualbelikan.

3) Barang itu milik sendiri atau diberi kuasa orang lain.

4) Barang itu jelas dan dapat dikuasai oleh penjual dan pembeli.

Oleh karena itu tidak sah jual beli barang yang masih ada di laut atau di sungai dan sebagainya.

5) Barang itu dapat diketahui kedua belah pihak (penjual dan pembeli) baik kadarnya (ukuran dan timbangannya), jenisnya, sifatnya maupun harganya.

Dalam jual beli, di samping syarat sah di atas harus ada kesepakatan harga antara penjual dan pembeli dan harus ada ijab kabul.

Ijab adalah pernyataan penjual barang sedangkan kabul adalah perkataan pembeli barang.

Dengan demikian, Ijab kabul merupakan kesepakatan antara penjual dan pembeli atas dasar suka sama suka. Ijab dan kabul dikatakan sah apabila memenuhi syarat sebagai berikut:

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved