Breaking News:

Hira Kurnia, Sosok Penting di Balik Human Capital XL Axiata 

Program XL Axiata Baik wujud komitmen dan niat baik dari jajaran direksi dan karyawan XL Axiata yang ingin berbuat baik kepada sesama

Penulis: Muhammad Riski Farisal | Editor: Nina Soraya
Dok/XL Axiata
Chief Human Capital Officer XL Axiata, M. Hira Kurnia. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Perusahaan penyedia layanan telekomunikasi yang bisnis intinya adalah memberikan layanan konektivitas jaringan menghadapi tantangan di era transformasi digital. Transformasi digital ini menjadi jawaban di tengah situasi pandemi Covid-19 yang masih belum mereda.

Transformasi digital membutuhkan human capital yang memiliki pola pikir digital (digital mindset) yang merupakan sikap dan perilaku yang berorientasi pada pemanfaatan teknologi digital dalam melakukan berbagai aktivitas.

XL Axiata sebagai perusahaan telekomunikasi terbesar telah menyiapkan strategi menghadapi hal tersebut terutama mengoptimalkan peran human capital dalam mendukung tercapainya tujuan perusahaan.

Chief Human Capital Officer XL Axiata, M. Hira Kurnia, mengungkapkan ada dua hal yang mempengaruhi transformasi digital yakni persaingan bisnis dan kebutuhan pelanggan. Jika bicara persaingan bisnis maka di industri telekomunikasi tantangannya adalah dalam hal memberikan yang terbaik.Misalkan ada upaya merger dari kompetitor, XL Axiata harus merespons ini secara baik dengan berupaya lebih.

HUT ke-25 XL Axiata Berikan Promo Diskon 25% Untuk Semua Produk

Hal kedua dari sisi keinginan pelanggan, di mana saat pandemi ini segalanya berubah. Dulu perusahaan menyiapkan jaringan secara besar-besaran disiapkan untuk mendukung kawasan bisnis (hotel, café, kantor, pusat perbelanjaan). Tapi ketika pandemi, 90 persen populasi di kawasan bisnis ini pindah ke residensial (perumahan).

“Secara organisasi harus mampu menjawab situasi di mana mesti memberikan terbaik pada saat berkompetisi, di saat yang sama pula kita juga harus memberikan pelayanan. Walaupun customer pindah, maka layanan ini harus terlihat seamless. Makanya perusahaan ini secara human capital untuk people, kita equip dengan sistem, proses, dan kemampuan untuk bekerja merespon secara digital,” ujarnya kepada Tribun Pontianak. 

Alumnus Teknik Telekomunikasi Universitas Brawijaya menuturkan pada pengembangan SDM berfokus pada tiga aspek yaitu orang, organisasi, budaya kerja.

Pada organisasi, perusahaan membuatnya se-liquid atau dinamis dan siap menerima perubahan dan saling mensupport. Jika dulu sentralisasi maka sekarang harus terintegrasi.

Komitmen Bangun Jaringan di Wilayah 3T, Layanan 4G XL Axiata Meluas Hingga Mentawai & Natuna

Lalu untuk budaya kerja sudah 100 persen menerapkan digital. Contoh saja, karyawan dilengkapi perangkat dan tools yang menunjang mereka bekerja di manapun bahkan ketika berada di rumah. Seperti tools Miro yang sebenarnya adalah virtual whiteboard tidak terbatas. Virtual whiteboard dapat difungsikan untuk menampung dan mengkomunikasikan ide-ide bersama tim kerja.

“Sebelum pandemi mungkin hanya 10-20 persen saja karyawan yang mau pakai tools digital ini. Tapi ketika pandemi harus 100 persen menggunakan. Sekarang tidak ada satupun orang di XL Axiata yang tidak bisa menggunakan tools digital. Dan itu dikoneksikan dengan benefit bagi karyawan. Kalau karyawan tidak menggunakan itu tidak akan mendapatkan benefitnya,” tegasnya.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved