Breaking News:

Puncak Robo-Robo, Raja Mardan Adijaya Lakukan Doa Tolak Bala' & Ritual Buang-buang di Kuala Mempawah

Kegiatan puncak dilaksanakan dengan doa tolak bala' dan makan Saprahan bertempat di Halaman Keraton Amantubillah Mempawah, Kelurahan Pedalaman, Kecama

Penulis: Ramadhan | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Raja Amantubillah Mempawah, Pangeran Ratu Mulawangsa Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim, saat tiba di Muara Kuala Mempawah untuk melakukan ritual Buang-buang, Rabu 6 Oktober 2021. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, MEMPAWAH - Rangkaian kegiatan ritual adat Robo-robo di Kabupaten Mempawah memasuki acara puncak ataupun hari puncak yang jatuh pada Rabu terakhir di bulan Syafar, bertepatan dengan Rabu 6 Oktober 2021.

Kegiatan puncak dilaksanakan dengan doa tolak bala' dan makan Saprahan bertempat di Halaman Keraton Amantubillah Mempawah, Kelurahan Pedalaman, Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah, sekitar pukul 06.00 WIB.

Kegiatan dihadiri langsung Raja Amantubillah Mempawah, Pangeran Ratu Mulawangsa Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim, Kapolres Mempawah, AKBP Fauzan Sukmawansyah, yang pada saat itu diwakili oleh Waka Polres Mempawah, Kompol Bermawis.

Bertekad Percepat Perluasan Vaksinasi, Pemda Mempawah Siap Gandeng Ormas dan OKP

Serta diikuti para kerabat kerajaan dan masyarakat Kabupaten Mempawah.

Selanjutnya setelah doa bersama dan makan Saprahan di Keraton Amantubillah Mempawah. Raja Mempawah beserta rombongan menuju Muara Sungai Kuala Mempawah untuk melakukan ritual buang-buang.

Diketahui juga bahwa kegiatan doa tolak bala' dan makan seprahan adalah rangkaian dari acara tradisi Keraton Amantubillah yang setiap tahunnya dilaksanakan yaitu di hari Rabu terakhir pada bulan Safar.

Dengan dilaksanakan doa tolak bala' dan makan seprahan oleh Raja Mempawah dan masyarakat Kabupaten Mempawah diharapkan dapat menjaga atau menghindari dari bencana yang melanda di Kabupaten Mempawah.

Sebelumnya, Raja Mempawah, Pangeran Ratu Mulawangsa Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim, mengatakan ritual Robo-robo dilaksanakan sebagai salah satu upaya agar kita tidak meninggalkan sejarah dan tidak melupakan sejarah. Juga sebagai adab akan adanya leluhur.

"Karena bagaimana pun kalau orang beradab, dia tau adat istiadatnya. Dia pasti menghormati leluhurnya," katanya.

Ritual ini juga kata Raja dilakukan setiap tahunnya sebagai langkah agar warisan leluhur tetap terjaga.

"Agar warisan leluhur ini tidak dilupakan, jadi kegiatan ini kita lakukan setiap tahunnya," tutupnya. (*)

Update Informasi Seputar Kota Pontianak

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved