Breaking News:

Aktivis WALHI Sebut Banjir yang Terjadi Mengonfirmasi Terjadi Krisis Iklim

Saat ini banjir di beberapa wilayah, mengkonfirmasi bahwa krisis iklim yang ditandai dengan kondisi cuaca yang ekstrim tengah terjadi

Penulis: Imam Maksum | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ISTIMEWA
Aktivis Walhi Kalbar, Hendrikus Adam 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kepala Divisi Kajian dan Kampanye WALHI Kalimantan Barat Hendrikus Adam mengungkapkan bencana ekologis banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Barat mengonfirmasi terjadinya krisis iklim.

“Saat ini banjir di beberapa wilayah, mengkonfirmasi bahwa krisis iklim yang ditandai dengan kondisi cuaca yang ekstrim tengah terjadi,” kata Handrikus Adam, kepada Tribun Pontianak, Senin 4 Oktober 2021.

Adam mengatakan curah hujan dengan intensitasnya yang tinggi belakangan hanyalah pemantik dari bencana banjir yang terjadi.

“Lebih dari itu, bencana ekologis yang kembali terulang dipicu debit dari curah hujan karena kondisi kawasan penyangga sekitar daerah aliran sungai selama ini mengalami kerusakan sehingga kehilangan kemampuan terkait daya dukung maupun daya tampung lingkungan hidup,” katanya.

Menurut Adam, praktek ekstraksi sumber daya alam yang berlangsung sejak lama melalui curah izin bagi korporasi maupun praktek perusakan lingkungan di daerah Kalimantan Barat, menjadikan bentang alam yang memiliki peran penting sebagai penyangga kawasan mengalami degradasi dan berbuah bencana seperti banjir.

Pemkot Pontianak Petakan Sasaran Vaksin & Target 70 Persen Warga Divaksin Akhir Oktober 2021

Selain itu, imbuh Adam, pembukaan badan sungai maupun bantaran sekitar daerah aliran sungai yang berlangsung sejak lama dan bahkan masih terus terjadi hingga saat ini juga telah menyebabkan terjadinya pendangkalan.

“Sehingga meluapnya air ke permukaan akibat debit hujan sampai ke pemukiman akhirnya berbuah bencana,” tutur Adam.

Adam menjelaskan seturut bencana ekologis yang terjadi dan ditandai dengan anomali cuaca ekstrim akibat krisis iklim.

“Di sisi lain juga berdampak pada masyarakat adat di komunitas yang terkendala dalam melanjutkan penanaman padi di ladang karena hujan yang belakangan terus terus terjadi,” katanya. (*)

(Simak berita terbaru dari Pontianak)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved