Jurnalisme Keberagaman Mengikis Prasangka dan Bangun Pemahaman Antarsuku

LSKM merupakan lembaga yang berkomitmen dalam menjaga toleransi antar suku dan agama serta nilai-nilai Pancasila

Editor: Jamadin
Dok. lSKM Kalbar
Dian Lestari foto bersama dengan peserta pelatihan jurnalisme dasar untuk keberagaman, di Aula Rumah Dinas Wakil Wali Kota Pontianak, Sabtu 2 Oktober 2021 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK -Sebanyak 35 anggota dan pengurus Laskar Satuan Keluarga Madura (LSKM) berdiskusi tentang prasangka dan kerangka pemberitaan dalam pelatihan jurnalisme dasar untuk keberagaman, di Aula Rumah Dinas Wakil Wali Kota Pontianak, Sabtu 2 Oktober 2021

LSKM sebagai satu di antara beberapa lembaga etnis, menyelenggarakan pelatihan ini sebagai upaya turut mendukung upaya pemerintah dalam merawat toleransi dan keberagaman di Kalbar.

LSKM merupakan lembaga yang berkomitmen dalam menjaga toleransi antar suku dan agama serta nilai-nilai Pancasila.
Acara dibuka oleh Kepala Kesbangpol Kota Pontianak, Rizal S.Sos.

“Kegiatan ini sangat positif, apalagi di era digital seperti sekarang ini. Kegiatan ini memberikan pengetahuan bagaimana jurnalis itu mengambil peran dalam situasi, terutama dalam situasi konflik. Peranan media saat ini sangat menentukan situasi bagaimana kita mengelola keberagaman terutama di Kota Pontianak, merawat keberagaman tidaklah mudah dan itu bukan hanya tugas ormas, pemerintah tapi tugas kita semua,” katanya.

Rekrut Anggota Baru, DPP LSKM Kalbar akan Menggelar DIKSARGAB dan Harlah ke-8

Koordinator Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk) Kalbar, Dian Lestari  menjadi pemantik diskusi ini.

“Prasangka yang ada di kepala kita, bisa menggiring kita untuk membenci orang lain, curiga terhadap orang yang berbeda suku dan agama,” kata Dian Lestari.

Dian mengingatkan bahwa prasangka adalah satu di antara penyebab konflik. Prasangka dapat menimbulkan diskriminasi, yaitu tindakan terhadap seseorang atau kelompok berdasarkan apa yang telah diyakini.

Fokus Pada Persamaan

Dian memaparkan bahwa jurnalisme keberagaman pada praktiknya menyampaikan informasi kepada publik, agar menghilangkan prasangka dan membangun jembatan pemahaman antarmasyarakat.

Jurnalisme keberagaman menolak diskriminasi etnis, ras, gender, dan agama serta menentang radikalisme, intoleransi, dan ekslusivisme.

“Pada praktiknya jurnalisme keberagaman, apabila dalam suatu kejadian konflik maka yang diambil bukanlah masalah perbedaan, melainkan persamaan,” ujar Dian Lestari.

Dia menjelaskan bahwa dalam jurnalisme keberagaman terdapat tiga prinsip, yaitu mengedukasi, berempaty dan mengadvokasi.

Mengedukasi berarti media mampu memberikan informasi yang mendidik,valid dan mampu dipertanggungjawabkan memancing nalar kritis para pembaca.

Menyajikan berita yang tidak mendiskriminasi korban ataupun keluarga, mengadvokasi berita yang ditulis mampu mendorong agar pemerintah segera mengambil sikap terhadap situasi yang tengah terjadi tanpa adanya pembedaan.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved