Prestasi Apa yang Pernah Diraih pada Masa Utsman bin Affan?

Beberapa saat sebelum meninggal, Umar bin Khattab r.a. tidak menunjuk seseorang yang akan menggantikan kedudukannya.

Penulis: Nasaruddin | Editor: Nasaruddin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID
Ilustrasi - Utsman bin Affan. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Utsman bin Affan adalah khalifah ketiga dalam daftar khulafaurrasyidin.

Utsman menggantikan Umar bin Khattab yang meninggal dunia karena dibunuh.

Beberapa saat sebelum meninggal, Umar bin Khattab r.a. tidak menunjuk seseorang yang akan menggantikan kedudukannya.

Ketika beliau didesak untuk menunjuk seorang pengganti, beliau menjawabya dengan bijaksana:

”Andaikata saya menunjuk siapa yang akan menjadi khalifah sesudah saya, maka telah ada seseorang yang lebih baik daripada saya yang telah melakukan hal ini (yakni Abu Bakar telah melakukan penunjukan). Dan kalau saya tidak menunjuk, telah pernah pula yang lebih baik dari saya (maksudnya Rasulullah Saw.) yang berbuat demikian”.

Mengapa Utsman bin Affan Diberi Gelar Dzun Nuraini?

Meskipun tidak menunjuk seseorang yang akan menggantikan kedudukannya, akan tetapi beliau menyarankan agar khalifah berikutnya adalah salah satu dari enam sahabat yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah SAW.

Mereka adalah Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin ’Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash dan Abdurrahman bin ’Auf.

Dewan pemilihan khalifah yang beranggotakan enam sahabat ini disebut ahlul halli wal aqdi.

Dari keenam sahabat pilihan khalifah Umar di atas, maka sahabat Usmanlah yang terpilih menjadi khalifah yang menggantikan khalifah Umar bin Khattab.

Khalifah Usman dipilih menjadi khalifah pada saat berusia 70 tahun.

Prestasi Abu Bakar as Siddiq Selama Menjadi Khalifah

Khalifah Usman memikul tugas yang berat untuk melanjutkan pemerintahan khalifah Umar bin Khattab.

Khalifah Usman memerintah dengan penuh kelembutan dan santun.

Ia merupakan khalifah terlama di antara empat khalifah khulafaur rasyidin, yakni menjabat selama dua belas (12) tahun.

Prestasi khalifah Utsman bin Affan di antaranya adalah:

1. Menumpas Pemberontakan di Daerah

Semenjak khalifah Umar wafat, daerah-daerah yang sudah dikuasai Islam pada masa khalifa Umar melakukan pemberontakan.

Mereka ingin membangkitkan kekuasaan pemerintahan lama yang telah dikalahkan.

Para mantan penguasa dan pejabat pemerintahan lama di Persia menyusun kekuatan untuk menjadikan mereka berkuasa lagi.

Pemberontakan ini terjadi di Khurasan.

Di samping itu, kota Iskandariah yang dulunya telah dikuasai oleh pemerintahan Islam diserang oleh bangsa Romawi yang dipimpin oleh panglima Manuel dari Armenia.

Khalifah Usman mengirim pasukan untuk menumpas kedua pemberontakan di atas. 

Pasukan yang dikirim khalifah berhasil menumpas kedua pemberontakan tersebut.

Dengan kemenangan ini daerah Khurasan dan Iskandariah berhasil dikuasai kembali oleh pemerintahan Islam.

Kedua daerah tersebut kembali aman tentram di bawah panji-panji Islam.

Pengertian Khulafaur Rasyidin dan Sejarah Singkat Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman dan Ali

2. Menghadapi Pertentangan Bangsa Romawi

Khalifah Usman berhasil mengirim pasukan untuk melawan pasukan Romawi yang dipimpin kaisar Constantin.

Sementara pasukan Islam dipimpin oleh Abdullah Ibnu Abi Sarah, Gubernur Mesir.

Peperangan ini terjadi di laut tengah dekat Kota Iskandariah pada tahun 31 Hijriah.

Peperangan ini melibatkan banyak kapal perang sehingga perang ini dinamakan perang Dzatis Sawari (peperangan tiang kapal).

Pasukan Islam hanya berjumlah 200 kapal, sedangkan pasukan musuh berjumlah 1000 kapal.

Namun pasukan Islam berhasil membuat pasukan Romawi kocar kacir.

3. Membukukan Mushaf Al-Qur’an

Pada masa khalifah Usman daerah kekuasaan Islam semakin luas dan sahabat Nabi banyak menyebar di berbagai daerah.

Hal ini menyebabkan beragamnya dialek pembacaan al-Qur’an.

Perbedaan ini dapat memicu perpecahan di antara umat Islam.

Karena itu, khalifah Usman membuat keputusan untuk menyeragamkan bacaan al-Qur'an dalam satu mushaf.

Akhirnya beliau membentuk tim penulisan al-Qur’an yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit.

Hasil dari penulisan al-Qur’an dijadikan sebagai mushaf standar (mushaf yang dijadikan acuan) yang disebut mushaf Usmani.

Terdapat 6 buah mushaf.

Satu untuk khalifah Utsman yang lain dikirim ke Makkah, Madinah, Basrah, Kufah dan Syam/Syria.

Mushaf al-Qur’an selain yang enam tersebut diperintahkan untuk dibakar.

Mushaf al-Qur’an yang ditulis pada masa khalifah Usman yang sekarang banyak menjadi rujukan kaum Muslimin seluruh dunia hingga saat ini.

Pada masa sahabat Usman, banyak gubernur dan pejabat yang hidup mewah dan gemerlap.

Anjuran khalifah sebelumnya (khalifah Umar) sudah tidak diperhatikan lagi. 

Karena itu, banyak pejabat yang menumpuk kekayaan, terutama gubernur Syam (sahabat Muawiyah).

Sebagian masyarakat ada yang tidak puas dengan kondisi ini sehingga berkhianat kepada khalifah Usman dan bersekongkol dengan kaum Yahudi yang dipimpin Abdullah bin Saba’.

Hal ini menunjukkan bahwa khalifah Usman menjadi korban kebencian sebagian rakyatnya.

Sebab yang melakukan pemborosan dan bermewah-mewah yang dibenci rakyat adalah para pejabat di bawah khalifah Usman, di antaranya Marwan bin Hakam.

Para pejabat tersebut sering membuat kesalahan dan menutup-nutupi di hadapan khalifah.

Kelembutan dan kesantunan khalifah Usman dimanfaatkan oleh kelompok yang menguntungkan diri sendiri.

Sumber: Buku SKI Kelas 5

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved