Breaking News:

Kembangkan Ekonomi Daerah, BI Kalbar Gelar Seminar Akselerasi Perkembangan Industri Sawit

Industri sawit juga mendorong ketahanan energi nasional program mandatory biodesel 30 persen (B30) telah tersalurkan 8,6 juta KL tahun 2020.

Penulis: Imam Maksum | Editor: Try Juliansyah
Kembangkan Ekonomi Daerah, BI Kalbar Gelar Seminar Akselerasi Perkembangan Industri Sawit - istimewa-bi-1.jpg
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Istimewa
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Kalimantan Barat Agus Chusaini saat memberikan sambutan pada webinar Akselerasi Pengembangan Industri Kelapa Sawit untuk Mendukung Ekonomi Berkelanjutan di Provinsi Kalimantan Barat
Kembangkan Ekonomi Daerah, BI Kalbar Gelar Seminar Akselerasi Perkembangan Industri Sawit - kepala-kantor-perwakilan-bank-indonesia-wilayah-kalimantan-barat-agus-chusaini.jpg
ISTIMEWA
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Kalimantan Barat Agus Chusaini saat memberikan sambutan pada webinar Akselerasi Pengembangan Industri Kelapa Sawit untuk Mendukung Ekonomi Berkelanjutan di Provinsi Kalimantan Barat.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kantor Perwakilan Bank Indonesia wilayah Kalimantan Barat mengadakan seminar pengembangan ekonomi daerah tahun 2021.

Seminar tersebut dibuka langsung oleh Gubernur Kalbar Sutarmidji secara virtual pada Kamis 16 September 2021.

Kepala KPwBI Kalbar Agus Chusaini mengatakan seminar ini dilaksanakan dalam rangka mendorong perkembangan industri sawit untuk mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan di Kalimantan Barat.

Direktur Hasil Hutan dan Perkebunan Kemeterian Perindustrian RI, Emil Satria mengatakan total luas lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia 16,3 juta hektar tersebar di 26 provinsi penghasil.

Ia mengungkapkan total produksi minyak sawit tahun 2020 mencapai 52,14 juta ton. Angka tersebut naik dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 51,89 juta ton tahun 2019.

Gubernur Sutarmidji Buka Seminar Akselerasi Perkembangan Industri Sawit

“Harga CPO pada September 2021 mencapai USD1185,26/MT harga ini cukup tinggi. Indonesia mengekspor kurang dari 37,3 juta ton. Indonesia menempati 55 persen market share kelapa sawit global,” ujarnya

Selain itu, imbuh Emil sektor kelapa sawit di Indonesia merupakan industri padat karya menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 4,2 juta orang dan tidak langsung 12 juta orang.

Industri sawit juga mendorong ketahanan energi nasional program mandatory biodesel 30 persen (B30) telah tersalurkan 8,6 juta KL tahun 2020.

Ia menyampaikan faktor fundamental penyebab trend peningkatan harga CPO dikarenakan kebijakan tarif pungutan ekspor oleh Indonesia selaku produser terbesar minyak sawit. “Kemudian kebijakan mandatory biodesel yang konsisten sejak tahun 2018 yang menyebabkan Indonesia menjadi konsumen terbesar minyak sawit dunia,” ucapnya.

Faktor fundamental tersebut ditambah dengan faktor masa pandemi ialah lockdown di negara-negara penghasil minyak nabati yang menjadi kompetitor Indonesia. Serta meningkatnya kebutuhan bahan sanitasi dan personal wash. “Jadi produk turunan sawit ini bisa digunakan untuk sabun, dan kebutuhan sanitasi, handsaitizer dan lain-lain,” katanya.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved