Breaking News:

Sekjen PTIC Ingatkan Tantangan Ormas Penerima Program Organisasi Penggerak

Dodi mengatakan waktu penyampaian laporan keuangan dan laporan kegiatan kalau memang terjadi transfer bantuan dana dari pemerintah maka harus diselesa

Penulis: Imam Maksum | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Sekjen PTIC, Dodi Iswanto. ISTIMEWA 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Perkumpulan Teacherprenuer Indonesia Cerdas (PTIC) mengapresiasi langkah kolaboratif pemerintah menggandeng ormas untuk ambil bagian mencari solusi masalah pendidikan di Indonesia.

Sekjen PTIC Dodi Iswanto menjelaskan bahwa Kamis, 9 September 2021 di Hotel Millenium menjadi saksi penandatanganan MOU dan Perjanjian kerjasama antara Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) dengan ormas penerima Program Organisasi Penggerak (POP).

“Artinya program POP yang cukup lama tertunda akan segera bergulir. Namun ada kekhawatiran dan tantangan cukup besar yang harus dihadapi oleh ormas penerima dana POP ini,” ujar Dodi dalam keterangan resmi yang diterima Tribun Pontianak, Rabu 15 September 2021.

Dodi mengatakan waktu penyampaian laporan keuangan dan laporan kegiatan kalau memang terjadi transfer bantuan dana dari pemerintah maka harus diselesaikan setidak-tidaknya 31 Desember 2021 atau selambat-lambatnya harus selesai di awal tahun 2022.

Mengingat, ujar Dodi waktu efektif yang tersisa sekitar tiga bulan untuk implementasi ini merupakan tantangan tersendiri untuk menyelesaikan laporan.

“Belum lagi kita bicara tentang kemampuan ormas Penerima POP untuk menyerap dana yang diberikan secara benar,” katanya.

Coach Bigdon Buka Tempat Kursus Basket Pertama untuk Anak-anak di Pontianak

Dodi mengungkapkan Ormas POP juga akan dihadapkan dengan permasalahan teknis lain seperti beberapa daerah sasaran yang dilaksanakan secara daring. Menurutnya pasti serapan anggaran akan kecil sehingga bisa saja banyak dana yang tersisa.

“Bisa sisa nantinya, dan ini bagus sebenarnya bisa dilakukan pengembalian saja ke kas negara,” tambahnya.

Bagi sasaran yang ditetapkan secara tatap muka akan menghadapi tantangan tersendiri karena harus mematuhi protokol kesehatan dan banyak lagi syarat administrasi lain yang harus dipenuhi.

Dodi mengatakan Ormas penerima POP selama ini seperti IGI misalnya yang sangat luwes sekali gerakannya karena tidak memikirkan laporan keuangan maupun laporan kegiatan hanya fokus kepada hasil.

“Belum lagi kita bicara kepada hasil yang diinginkan Kemendikbudristek agar Ormas POP ini menghasilkan inovasi baru dalam pendidikan, bisa-bisa nantinya Ormas POP hanya fokus mengerjakan laporan saja agar terlihat baik,” ujarnya.

Menurut Dodi perlu peran semua elemen untuk mengawal POP agar rencana awal yang dijanjikan ke pemerintah untuk dipenuhi dan juga memberikan rekomendasi serta catatan kepada Kemendikbudristek Nadiem Makarim terhadap capaian dari setiap Ormas POP.

“Sehingga niat baik Pemerintah yang ingin mendapatkan masukan inovasi pendidikan baru yang cocok dengan kondisi Indonesia terwujud. Itu langkah terbaik yang bisa dilakukan sekarang mengawal uang negara agar tidak terbuang percuma,” ujarnya. (*)

(Simak berita terbaru dari Pontianak)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved