Breaking News:

Webinar Series EKSPEDISI

Agroindustri Sawit Kalbar Buktikan Kebal Pandemi

Minggu ke-2 Agustus 2021, harga CPO berada 12.800, sementara untuk TBS di harga Rp 2.600.Ini merupakan harga tertinggi yang pernah terjadi di Kalbar

Penulis: Muhammad Riski Farisal | Editor: Nina Soraya
Tribun Pontianak /Muhammad Riski Farisal
Suasana Webinar Series EKSPEDISI Tribun Pontianak bersama Isuzu mengangkat tema “Kebal Pandemi, Sawit Kalbar Masih Diandalkan,”Selasa 14 September 2021. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Pandemi Covid-19 ternyata tak menjadi hambatan bagi sawit untuk harganya bergerak naik. Pasalnya harga sawit di masa pandemi terus menunjukkan kenaikan yang signifikan.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar, Muhammad Munsif, mengungkapkan pada Minggu ke-2 Agustus 2021, harga CPO berada di Rp 12.800. Sementara untuk harga Tandan Buah Segar (TBS) di harga Rp 2.600.

“Ini merupakan harga tertinggi yang pernah terjadi di Kalbar. Sementara pada awal pandemi, harga sawit kita (TBS) pernah sangat rendah sekali yakni Rp 1.200,” ungkap Munsif saat membuka acara Webinar Series EKSPEDISI (Ekskalasi Perkembangan Industri Lokal) Tribun Pontianak bersama Isuzu yang mengangkat tema “Kebal Pandemi, Sawit Kalbar Masih Diandalkan” pada Selasa 14 September 2021. 

Dia menuturkan memang sejak 2019 dan awal pandemi seluruh harga instrumen sawit dengan tren terjadi penurunan. Namun dengan perjalanan waktu dan masih di kondisi pandemi, harga sawit justru bergerak menukik naik.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar, Muhammad Munsif.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar, Muhammad Munsif. (Tribunpontianak.co.id/Istimewa)

Munsif mengaku optimis dengan harga sawit yang akan terus menggeliat naik. Hal ini turut didukung dengan beberapa kebijakan pemerintah yakni implementasi B30 di seluruh Indonesia yang kemudian dilanjutkan dengan B50 pada 2021.

B50 adalah penerapan mandatori campuran biodiesel sebesar 50% dalam bahan bakar minyak jenis Solar. Jadi nantinya 50% kandungan minyak jenis solar berasal dari biodisel. Program ini harus berlanjut untuk kembangkan energi terbarukan terbarukan (EBT).

“Mudah-mudahan dengan obsesi pemerintah yang secara bertahap kita mengarah pada B50, bahkan  bisa B100, karena ini kan secara teknologi tidak ada masalah. Maka Kita tentu akan menempatkan posisi negara kita termasuk Kalbar mandiri dalam konteks energi dan pangannya berbasis sawit. Bahkan kita tidak bisa digoyang dengan isu tidak bernalar soal keburukan sawit yang digemborkan Eropa,” kata Muhammad Munsif.

Ketua Gapki Kalbar, Purwati Munawir, mengatakan kontribusi sawit bagi daerah dan masyarakat saat ini sangat signifikan karena harga terus tangguh meski pandemi masih menghantui.

Menurutnya ada beberapa isu strategis yang mempengaruhi hal tersebut. Di antaranya dengan ditetapkannya sawit sebagai komoditas pangan strategis. Serta ada kebijakan mandatori B30 dan hilirisasi yang kian meningkat.

Ketua GAPKI Kalbar Purwati Munawir.
Ketua GAPKI Kalbar Purwati Munawir. (TRIBUN PONTIANAK/MUHAMMAD RISKI FARISAL)

“Dahulu kan hanya CPO saja, sudah bergeser produk yang dihasilkan menjadi lebih hilir sehingga daya saing produk kita makin baik,” katanya dalam Webinar tersebut.
Dia menyampaikan kehadiran Pelabuhan Kijing turut menjadi faktor pengungkit agro industri sawit Kalbar. Sawit Kalbar menjadi mendapatkan nilai tambah dengan adanya kegiatan ekspor melalui pelabuhan tersebut.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved