Breaking News:

Catatan Peminat Sejarah Syafaruddin Dg Usman Tentang Seorang Pejuang 45 yang Terlupakan 

Jadi Ya` Syarif Umar ikut terlibat di situ, itu tahun 45, pasca merdeka, dan Ya` Syarif juga termasuk satu diantara pelaku sejarah

Penulis: Muhammad Rokib | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Almarhum Ya` Syarif Umar. Ist 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK- Catatan Syafaruddin Dg Usman sebagai Peminat Sejarah di Pontianak Kalimantan Barat. Dimana ia telah menuliskan tentang beberapa sejarah, satu diantaranya adalah seseorang pejuang 45 yang terlupakan. Sebagaimana hal tersebut tertuang dalam isi tulisannya.

Berikut ini adalah catatan Syafaruddin Dg Usman selaku Peninat Sejarah di Pontianak.

Almarhum Ya` Syarif Umar, nama itu tak begitu familiar di masyarakat Kalimantan Barat. Padahal Ya` Syarif adalah eksponen angkatan 45 sekaligus legiun veteran Republik Indonesia (LVRI) serta purnawirawan TNI. Tak hanya punya andil untuk Kalimantan Barat, Ya` Syarif juga punya andil kolektif di tingkat nasional.

Tokoh pejuang ini merupakan tokoh nasional yang ikut secara kolektif membidani kelahiran TNI AL melalui BKR (Badan Keamanan Rakyat) pasca Indonesia Merdeka.

Mengenal Museum 11 September, Peninggalan Bersejarah Kisah 9/11 World Trade Center

Ya` Syarif lahir di Ngabang, Landak 12 Desember 1924. Semula sekolah di Overgangschool di Ngabang, kemudian melanjutkan ke Pendidikan Guru Sekolah Rakyat (PGSR). Kedatangan tentara Jepang tahun 1941 memaksa ia berhenti. Namun di awal 1942, saat Jepang berkuasa Ya` Syarif justru ikut pendidikan militer laut (Kaiinyo Saijo) di Makassar (Sulawesi Selatan). Kelak, Ya` Syarif menjadi perwira militer AL.

Tahun 1944, saat ditempatkan militer Jepang di Pare-Pare, Ya` Syarif mengajak sejumlah pemuda untuk berjuang ke pulau Jawa.

Sebelumnya ia memang telah mendengar desas-desus dari orang Jepang sendiri adanya gerakan kemerdekaan Indonesia.

Maka menjelang bulan Agustus 1945, dengan menumpang kapal dagang Bugis, Ya` Syarif bersama beberapa temannya berlayar menuju Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya (Jawa Timur). Tiba di Surabaya, Ya` Syarif pun mengabungkan diri dengan para pemuda yang bergerak di angkatan laut.  

Dan kemudian mereka pun bermufakat membentuk apa yang dinamakan BKR laut, cikal bakal TNI Angkatan Laut. Jadi Ya` Syarif Umar ikut terlibat di situ, itu tahun 45, pasca merdeka, dan Ya` Syarif juga termasuk satu diantara pelaku sejarah peristiwa perobekan warna biru bendera Belanda yang berkibar di Hotel Yamato, Surabaya.

Pasca kemedekaan, Bung Karno memerintahkan bendera merah putih untuk dikibarkan, termasuk di puncak Hotel Yamato, yang di masa Hindia Belanda bernama Hotel Oranje.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved