Breaking News:

Oknum Guru Honorer Cabuli Dua Siswi SMP di Kecamatan Toba Kabupaten Sanggau

tersangka juga mengancam para korban bila bercerita diluar maka akan di keluarkan dari sekolah

Editor: Jamadin
Dok. Polres Sanggau
Wakapolres Sanggau Kompol Agus Dwi Cahyono, S. IK, M. AP gelar Pers Release tehadap kasus pencabulan oknum guru honorer pada dua siswi SMP, Senin 6 September 2021. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SANGGAU -Oknum guru honorer sekaligus pembina asrama disalah satu sekolah menengah pertama (SMP) di Kecamatan Toba berinisial AN berusia 33 tahun yang telah tega merenggut kesucian dua siswinya sekaligus berinisial W (15) Dan AA (14).

Kapolres Sanggau AKBP Ade Kuncoro Ridwan, S.I.K. melalui Wakapolres Sanggau Kompol Agus Dwi Cahyono, S. IK, M. AP dalam Releasenya menyampaikan bahwa aksi bejat yang dilakukan tersangka dilakukan sebanyak empat kali berturut-turut terhadap W (15) dan satu kali terhadap AA (14) di Gudang Asrama Putri dan Ruang Guru Sekolah tersebut, Senin 6 September 2021.

Wakapolres Sanggau membeberkan modus tersangka untuk mengelabuhi korban adalah dengan menjanjikan bahwa tersangka bisa mengembalikan kesucian korban setelah melakukan hubungan perserutuhan serta mengancam akan mengeluarkan korban dari sekolah apabila menceritakan kejadian persetubuhan terbut pada keluarganya.

Anggota DPRD Sanggau Prihatin Kasus Pencabulan Terhadap Anak Dibawah Umur

“Untuk modus tersangka melakukan persetubuhan terhadap korban, pertama-tama tersangka merayu korban dan mengiming-imingi dikembalikan kesuciannya setelah melakukan persetubuhan terhadap para korban, kemudian tersangka juga mengancam para korban bila bercerita diluar maka akan di keluarkan dari sekolah,” ucap Agus.

Wakapolres menyebutkan, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya saat ini tersangka sudah ditahan di Mapolres Sanggau.

“Tersangka saat ini sudah kita tahan, terkait ancaman hukuman untuk dua perkara ini tersangka masing-masing kita kenakan pasal 81 ayat 1, 2 dan ayat 3 undang-undang nomor 17 Tahun 2016 tentang penganti undang-undang nomor 1 tahun 2016 serta perubahan kedua undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun serta denda paling banyak Rp 5 Miliar,” pungkasnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved