Breaking News:

Kajati Masyhudi: Pelaku Usaha Timbun Oksigen, Kami Pastikan Sanksi Berat

Ia memastikan pihaknya akan tuntut maksimal jika ada distributor nakal, sesuai pasal tersebut ancaman sanksi pidana penjara maksimal 5 tahun, dan/atau

Penulis: Hadi Sudirmansyah | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Kejaksaan Tinggi Kalbar juga menyorot kelangkaan oksigen yang terjadi di Kalbar, sehingga membuat Pemerintah Provinsi Kalbar harus meminta dukungan kepada Negara tetangga Malaysia. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kejaksaan Tinggi Kalbar juga menyorot kelangkaan oksigen yang terjadi di Kalbar, sehingga membuat Pemerintah Provinsi Kalbar harus meminta dukungan kepada Negara tetangga Malaysia.

"Mengetahui informasi seperti ini saya akan bentuk Tim khusus dari Pidana Umum dan Tim Intelijen Kejaksaan untuk turut memonitoring hal ini di lapangan,"ujar Kepala Kejati Kalbar DR Masyhudi pada Jumat 23 Juli 2021

Kepada Tribun Pontianak, Orang Nomor satu di Kejati Kalbar dirinya akan pastikan berikan sanksi pidana berat bagi perusahaan distributor yang nakal.

Dikatakannya lagi, "kita lihat nanti barang bukti atau fakta di lapangan penyidik menemukan apa untuk sanksinya, tetapi jika itu distributor Pasal 107 UU No. 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan tentang larangan menyimpan barang kebutuhan pokok atau barang penting dalam jumlah dan waktu tertentu pada saat terjadi kelangkaan barang, gejolak harga, atau hambatan lalu lintas perdagangan barang.,"ungkap Kajati Masyhudi

Ia memastikan pihaknya akan tuntut maksimal jika ada distributor nakal, sesuai pasal tersebut ancaman sanksi pidana penjara maksimal 5 tahun, dan/atau pidana denda maksimal 50 miliar rupiah bagi pelaku usaha yang melanggar.

"Saya akan minta bentuk tim Pidum Kejati Kalbar dan Tim intelijen untuk soroti hal ini, termasuk di jajaran Kejari dan Cabjari, hal ini akan saya bersama pak Wakajati akan monitoring,"katanya.

Kasus Covid Meningkat, Permintaan Oksigen di PT Megah Utama Prima Meningkat Hingga 300 Persen

Masyhudi juga menuturkan pihaknya turut menyoroti hal ini, sesuai amanah dari pak Jaksa Agung yang mengatakan bekerja dengan hati nurani dan mendukung pemerintah.

"Saat ini kita sedang di Landa pandemi Covid-19, kita sedang melakukan Herd Immunity , tapi ada kelangkaan bahan pokok yang sedang sangat dibutuhkan oleh masyarakat banyak, maka kami tak bisa hanya diam tapi harus juga turun tangan mendukung pemerintah, untuk atasi kelangkaan oksigen,"tegasnya.

Sehubungan dengan maraknya pemberitaan antrian pembelian tabung oksigen dan di duga ada distributor nakal yang mencoba mencari keuntungan ditengah penderitaan masyarakat yang terdampak.covid-19 di wilayah Kalimantan Barat.

Kajati Kalbar DR. Masyhudi, mengingatkan kepada para distributor untuk tidak coba-coba atau main-main dengan penderitaan rakyat yang terpapar virus corona khususnya di wilayah hukum Kalbar,

"Saya sudah perintahkan kepada tim Pidum dan Intelijen seluruh Kajari dan Kacabjari Se Kalbar untuk ikut membantu dan bersenergi dengan pihak Kepolisian dan instansi terkait untuk mendata, memantau dan mengecek kelapangan distributor alat kesehatan di wilayah hukum Kalbar. Para penimbun alat-alat kesehatan bisa kita tuntut dengan pasal berlapis."tegasnya lagi

Ia menjelaskan sudah Komitmen kami, para pelaku penimbun alat kesehatan ditengah masa pandemi covid-19 ini, saya pastikan akan kami tuntut maksimal. Mengingat oksigen sangat dibutuhkan masyarakat dan rumah sakit untuk kebutuhan pasien covid-19 yang tengah berjuang melawan penyakit. Saya sudah persiapkan jaksa-jaksa terbaik kami untuk menyeret mereka ke pengadilan.

Ini merupakan warning dari saya, agar memastikan tidak ada yang berani menimbun atau memainkan harga baik itu tabung oksigen maupun obat-obatan.
Para pelaku yang berani menimbun atau menjual di atas harga eceran tertinggi, bisa dituntut dengan Undang-undang tentang Perlindungan Konsumen, Kesehatan ataupun Undang-undang Perdagangan. (*)

(Simak berita terbaru dari Pontianak)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved