Lantik DPP Paroki St Pius X Bengkayang, Mgr Agustinus Ingatkan Manajemen Paroki Harus Transparan
Uskup Agung Keuskupan Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus, melantik Pengurus DPP Paroki Santo Pius X Bengkayang.
Penulis: Stefanus Akim | Editor: Stefanus Akim
CITIZEN REPORTER
Oleh: Samuel | Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, BENGKAYANG - Uskup Agung Keuskupan Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus, melantik Pengurus DPP Paroki Santo Pius X Bengkayang periode 2021-2024, Minggu pagi, 18 Juli 2021.
Mgr Agustinus Agus melantik sebanyak 71 pengurus DPP Paroki Santo Pius X Bengkayang. Ia mengingatkan semua untuk agar menjaga kesehatan dan tetap mematuhi protokol kesehatan serta mendukung pemerintah dalam penanganan virus covid19.
“Di pihak lain harus tetap ingat bahwa Tuhan tetap mencintai umatnya,” kata Mgr Agustinus.
Mgr Agustinus Agus menggaris bawahi bahwa Dewan Pastoral Paroki (DPP) merupakan dewan perwakilan dari umat yang dalam kesatuan dengan pastor paroki dan pastor rekan bersama-sama membangun umat Allah.
Dalam pandemi covid-19 ini, menurut Mgr Agustinus Agus, umat Katolik terlebih khusus Dewan Pastoral Paroki ditantang untuk hidup dalam dua hal untuk diseimbangkan, yaitu antara takut mati atau jiwa selamat.
“Saya selalu mengatakan, mati adalah sebuah keharusan. Karena kalau manusia tidak mati, maka tidak bisa melihat kerajaan Allah. Tapi bunuh diri juga dosa, maka dari itu sebagai umat Katolik harus mampu menyeimbangkan kedua-duanya,” lanjut Uskup.
“Untuk itu dimasa pandemi Covid-19 ini, umat Katolik harus sehat secara jasmani dan sehat secara rohani.”
Uskup Agung mengungkapkan tugas DPP juga adalah tugas yang diemban sebagai gembala yang mampu bekerjasama dalam menghadapi masalah-masalah konkret terutama dalam situasi pandemi Covid-19.
Di masa ini, menurut Mgr Agus, dewan pastoral diminta untuk tetap melihat dan mampu mengkoordinasikan serta turut membina umat dalam perkembangan umat yang lebih baik di Paroki Bengkayang.

Manajemen Gereja Transparan
Misa pelantikan DPP Paroki Santo Pius X Bengkayang dihadiri juga oleh Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis SE MM bersama istri.
Dalam homili, Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus menegaskan pentingnya tugas dari DPP dalam membantu pewartaan dan pembinaan umat baik dalam bidang-bidang yang dipercayakan.
Ada tiga prinsip yang Mgr Agustinus Agus sampaikan yakni Transparansi (Transparency), Akuntabilitas (Accountability) dan Integritas (Integrity).
“Manajemen Gereja harus transparan serta mampu menjadi gembala bagi umat untuk Katolik di Bengkayang,” demikian inti dari homili yang disampaikan oleh Mgr Agustinus Agus.
Transparansi yang Mgr Agustinus Agus maksudkan adalah tugas dewan paroki untuk transparan baik dalam hal rencana bahkan keuangan agar bisa dipertanggungjawabkan baik tingkat keuskupan maupun tingkat KWI.
Poin yang kedua yakni manajemen DPP paroki Bengkayang haruslah memiliki akuntabilitas yang baik, sehingga manajemen paroki lebih teratur dan terukur. Selanjutnya, poin yang ke tiga adalah intergritas dari setiap pengurus.
“DPP adalah contoh dan teladan untuk umat-umat yang dibina, maka dari itu intergritas merupakan poin penting dalam membina dan menyeleraskan tujuan baik dalam hal kemanusiaan maupun iman akan Tuhan,” ujar Mgr Agus.
Pada misa yang dipimpin langsung Mgr Agustinus tersebut didampingi RD Yulius Endi Subandi sebagai Pastor Paroki, dan RP Euqine CSE Rektor Institut Shanti Buana Bengkayang.
Sejarah Singkat
Paroki St Pius X Bengkayang merupakan sebuah paroki Gereja Katolik di Keuskupan Agung Pontianak; berpusat di Kecamatan Bengkayang, di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.
Sedari didirikannya pada 1 September 1934, Paroki Bengkayang berkembang pesat hingga saat ini. Mulai dari awal, jumlah orang yang hanya sedikit dari misi yang dirintis oleh imam Kapusin, kini menjadi semakin banyak disertai dengan jumlah stasi yang berkembang. Kini gereja Bengkayang ditangani oleh imam diosesan (Keuskupan) untuk melanjutkan misi yang sudah dirintis oleh pendahulu.
Sejak berdirinya paroki, gereja (gedung) telah mengalami empat kali perubahan. Gereja pertama bernama Santo Yosef kemudian direnovasi pada tahun 1975 dan diberi nama Santo Pius X. Setelah digunakan selama hampir 13 tahun, dengan melihat pertumbuhan dan perkembangan umat, maka dibangunlah sebuah gedung gereja baru di atas sebidang tanah kosong di sebelah gereja. Gereja baru ini dibangun pada akhir 1988, selesai pada 1990.
Kemudian setelah sekitar 21 tahun Gereja St Pius X digunakan, terlihat semakin banyak orang memenuhi gereja setiap minggunya meskipun misa diadakan 3 kali. Oleh karena itu diputuskan untuk membangun dan memperluas lokasi gereja yang ada. Perluasan dimulai pada awal Juli 2011 dan selesai pada 2013.
Paroki Bengkayang yang berdiri sejak 1 September 1934 ini, tidak sedikit gejolak, perubahan, serta perkembangan umat.
“Banyak tragedi dan peristiwa terjadi bahkan menjadi rekam jejak serta bukti dalam perkembangan sejarah iman katolik di Keuskupan Agung Pontianak,” kata RD Subandi selaku Pastor Paroki Bengkayang dalam diskusi usai misa pelantikan DPP. *