Breaking News:

Opini: Spiritualitas Guru di Masa Pandemi Covid-19

Temuan Save the Children menunjukkan ada 646.000 ribu di Indonesia yang ditutup selama pandemi covid-19

Editor: Stefanus Akim
THINKSTOCKPHOTOS
Ilustrasi ujian sekolah. 

Penulis: Agustinus Sungkalang SS | Guru di Persekolahan St Fransiskus Asisi Pontianak

Judul di atas menjadi pemikiran pribadi dan refleksi penulis sebagai seorang guru di tengah wabah pandemi covid 19 yang semakin mengkhawatirkan ini. Bagaimana nasib para siswa/i, generasi masa depan bangsa jika pandemi ini terus berlanjut? Tentu dampaknya akan berpengaruh pada psikologi anak ketika ruang tatap muka diganti dengan ruang dunia maya. Perlu ada gerakan moral dari setiap guru untuk memberikan semangat dan motivasi agar para siswa di tengah pandemi ini proses belajarnya tetap sesuai yang kita harapkan.

Prof Dr. Paul Suparno dalam webinarnya bersama para pendidik menekankan bahwa spiritualitas guru merupakan hal yang penting agar proses pendidikan tidak kehilangan makna di tengah wabah pandemi ini. Spiritualitas guru adalah roh, jiwa, kesadaran, keyakinan mendalam diri seorang guru yang memberikan semangat dan mendasari pemikiran tindakan di mana kita mendidik siswa/i. Dengan kata lain, bahwa spiritualitas adalah gerakan moral yang muncul dari guru untuk memberikan semangat yang besar untuk mau mendidik, memotivasi, dan membantu siswa/i yang merasa kesulitan belajar di tengah pandemi ini.

Sebelum penulis membahas lebih lanjut, mengapa penting spiritualitas guru itu perlu dikuatkan kembali di masa pandemi ini? Temuan Save the Children menunjukkan ada 646.000 ribu di Indonesia yang ditutup selama pandemi covid-19 dan membuat lebih dari 60 juta anak terdampak. Akibatnya, mereka harus melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara daring. Mirisnya lagi, setelah hampir 1 tahun pandemi, 4 dari 10 atau 40 persen orangtua motivasi belajar anak semakin berkurang.

Tata Sudrajat, Deputy Chief Program Impact and Policy Save The Children menyampaikan hasil temuannya bahwa penyebab utama anak-anak kehilangan motivasi belajarnya disebabkan karena kebosanan, terlalu banyak tugas, metode belajar daring yang tidak menyenangkan, tidak adanya interaksi, sinyal yang lelet, kurangnya fasilitas teknologi, serta minimnya pendampingan guru terhadap siswa yang bermasalah. Permasalahan lainnya yang ditemukan selama PJJ adalah 20 persen orangtua mengaku kesulitan menyediakan bahan belajar untuk anaknya. Bahkan, 1 dari 4 atau 26 persen orangtua mengatakan guru sama sekali tidak melakukan pemantauan kegiatan belajar anak.

Hal lain misalnya, melalui data dan fakta di lapangan yang dikumpulkan KPAI, saat melakukan serangkaian pengawasan di 42 wilayah Indonesia. Dalam sesi webinar bertajuk 'Sukses Belajar di Masa Pandemi, Bagaimana Caranya?' yang diselenggrakan oleh Suara.com, Jumat (6/11/2020), Retno pun menjabarkan berbagai penemuan KPAI temukan, yang bisa menjadi bahan pembelajaran bagi seluruh pihak di era masa pandemi ini. Pertama, kondisi psikologis anak. Pada PJJ fase pertama, kata Retno, KPAI tak melihat adanya perubahan yang signifikan, karena para siswa sudah sempat melakukan pembelajatan tatap muka selama kurang lebih 9 bulan. Saat pandemi dimulai, mereka mulai melakukan PJJ selama kurang lebih 2-3 bulan.

Namun, tantangan muncul saat PJJ fase kedua dimulai. Di mana anak-anak memulai tahun ajaran baru yang semuanya berubah. Mulai dari kelas, teman-teman, guru, mata pelajaran, bahkan sekolah baru bagi siswa yang baru lulus dari tingkat sebelumnya.
Belum lagi dengan adanya berbagai tuntutan yang terus-menerus diberikan, mulai dari tugas, hingga sulitnya meminta bantuan pada orang lain, karena mereka belum pernah berinteraksi satu sama lain sebelumnya. Hal ini lantas membuat siswa merasa tertekan.

Kedua, kesenjangan fasilitas penunjang. Meski saat ini sudah merupakan era digital, namun menurut data KPAI, 50 persen anak-anak yang berada di luar Jawa tidak terlayani PJJ secara daring. Jadi, mereka tidak bisa mengakses pelajaran melalui daring karena berbagai alasan. Banyak sekali anak-anak yang tidak punya gadget, tidak punya alatnya. Ini adalah fakta bahwa disparitas ini ada dari sebelum pandemi dan diperparah pada saat pandemi.

Ketiga, sosialisasi PJJ yang belum maksimal. Berbagai upaya yang dilakukan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) patut diapresiasi. Namun menurut Retno, setelah KPAI mendatangi 42 wilayah di Indonesia, sosialisasi mengenai PJJ ternyata belum maksimal dilakukan. Keempat, belum diterapkannya secara maksimal kurikulum darurat di sekolah-sekolah. Lebih lanjut, Sekjen KPAI melihat bahwa di salah satu wilayah di Cilegon, Banten, mereka sudah menerapkan kurikulum darurat, yakni kurikulum 2013 yang disederhanakan dan disesuaikan dengan masa pandemi. Sayangnya, dari 42 wilayah yang didatangi KPAI, hanya 2 sekolah yang menerapkannya karena sudah mendapatkan petunjuk jelas dari dinas pendidikannya dan 6 sekolah menerapkan tanpa petunjuk.

Paling tidak, dengan membaca dua hasil temuan tersebut maka pemerintah perlu untuk memperkuat peran guru agar lebih siap, proaktif, kreatif, inovatif, dan meningkatkan spiritualitas keguruannya di era pandemi ini. Bisa saja, temuan-temuan fakta di atas karena belum adanya sinergi yang kuat antara pemerintah dan daerah untuk benar-benar serius dalam menyelesaikan persoalan pendidikan di masa pandemi ini.

Tetapi satu catatan yang paling penting, jangan hanya masalah pandemi para siswa/i dikorbankan dan tidak mendapatkan hak sama sekali untuk memperoleh pendidikan yang layak dari gurunya. Kembali pada persoalan spiritualitas guru di masa pandemi, bahwa guru harus menyadari bahwa roh, jiwa, kesadaran, keyakinan mendalam diri seorang guru yang memberikan semangat dan mendasari pemikiran tindakan di mana guru mendidik siswa/i harus hadir di tengah kesulitan belajar siswa di masa pandemi ini.

Ada tiga hal utama wujud dan penyebab harus dimunculkannya spiritualitas guru di masa pandemi ini. Pertama, bahwa kesadaran mendidik adalah panggilan hidup. Ada dua hal yang ditekankan dalam hal ini yaitu membantu para siswa/i menjadi berkembang dan menjadi pribadi yang utuh. Kedua, guru dengan melakukan hal tersebut akan menjadi bahagia. Walaupun saat ini, siswa mengalami kesulitan melakukan pembelajaran secara PJJ tetapi dengan kesadaran guru untuk membantu siswa berkembang dan menjadi pribadi yang utuh akan membuat guru dan siswa tersebut bahagia. *

* Penulis adalah aktivis YKSPK dan Guru di Persekolahan St Fransiskus Asisi Pontianak,
Alumnus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved