Breaking News:

Dampak Pandemi Covid-19, PGD di Kabupaten Sekadau Kembali Ditiadakan

Pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak pada pembangunan, pendidikan dan perputaran ekonomi. Event-event besar berskala lokal dan nasional yang sejatin

Penulis: Marpina Sindika Wulandari | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
Tribunpontianak.co.id/ MARPINA SINDIKA WULANDARI
Ketua Dewan Adat Dayak Kabupaten Sekadau, Welbertus Willy 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SEKADAU - Pandemi Covid-19 tak kunjung usai sejak tahun 2019, sejumlah event besar di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat kembali terdampak, Minggu 13 Juni 2021.

Adanya pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) sejak akhir tahun 2019 hingga pertengahan tahun 2021 menjadi bencana non alam yang memberikan banyak dampak negatif di masyarakat. Tidak hanya menganggu perputaran ekonomi, pendidikan hingga program pembangunan pemerintahan. Pandemi ini juga berdampak pada event-event baik di tingkat lokal, nasional bahkan internasional.

Hal itupun terjadi di Kabupaten Sekadau yang berjuluk Bumi Lawang Kuari, yang merupakan satu diantara 14 Kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia.

Pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak pada pembangunan, pendidikan dan perputaran ekonomi. Event-event besar berskala lokal dan nasional yang sejatinya berlangsung di Kabupaten Sekadau pun harus tertunda bahkan ditiadakan untuk menghindari terjadinya penyebaran virus Covid-19 di masyarakat.

Satu diantaranya adalah Pekan Gawai Dayak yang merupakan agenda tahunan di Kabupaten Sekadau. Pekan Gawai Dayak ini biasanya dilaksanakan pada pertengahan hingga akhir bulan Juli.

Namun akibat adanya pandemi Covid-19, sejak tahun 2020 event kebudayaan tersebut tidak dapat dilaksanakan secara meriah. Pada tahun 2021 juga dipastikan tidak terlaksana secara meriah seperti tahun-tahun sebelumnya.

Operasi Yustisi di Kabupaten Sekadau, 3 Pengunjung Keramaian Terminal Lawang Kuari Positif Covid-19

Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Sekadau, Wellbertus Willy mengatakan untuk tahun 2021, Pekan Gawai Dayak (PGD) kembali dilaksanakan hanya sebatas ritual adat tanpa adanya kemeriahan.

Ada dua alasan tidak terselenggaranya event tersebut secara meriah, yakni tidak adanya anggaran yang tersedia lantaran seluruh anggaran (hibah) dari Pemerintah Kabupaten Sekadau bagi organisasi masyarakat ditiadakan. Anggaran tersebut dialihkan guna menanggulangi pandemi Covid-19.

Alasan kedua adalah penerapan protokol kesehatan, dimana terdapat langkah 5M, yakni memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi yang harus diterapkan secara disiplin oleh masyarakat.

"Di kampung-kampung sekarang sudah mulai gawai, biasanya pada pertengahan atau akhir bulan Juli kita tutup dengan gawai di Kabupaten. Tapi karena Covid-19 kita lakukan ritual adat saja secara sederhana, untuk memenuhi kebiasaan kita setiap tahunnya," jelas Willy.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved