Breaking News:

Siapkan WBP Produktif dan Kreatif, Lapas Perempuan Kelas 2A Pontianak Gelar Pelatihan Menjahit

Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Perempuan Pontianak Astuti Setiawati, menjelaskan kegiatan pelatihan menjahit ini dilaksanakan selama 48 hari dengan

Penulis: Ferryanto | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Pembukaan Pelatihan Menjahit bagi warga binaan Lapas Perempuan Kelas 2 A Pontianak. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Guna memberikan keterampilan yang bermanfaat serta membuat warga binaannya produktif, Lapas Perempuan Kelas 2 A Pontianak menggandeng lembaga kursus menjahit untuk memberikan pelatihan menjahit kepada para warga binaan.

Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Perempuan Pontianak Astuti Setiawati, menjelaskan kegiatan pelatihan menjahit ini dilaksanakan selama 48 hari dengan peserta yang sebelumnya telah dilakukan seleksi.

“Kegiatan pelatihan menjahit ini akan berlangsung selama 48 hari dan dibagi menjadi 4 sesi teori dan praktek. Sementara peserta dari pelatihan menjahit ini ada 20 WBP, dan kita menggandeng lembaga kursus menjahit Cahyani” ujarnya Sabtu 12 Juni 2021.

Napi di Lapas Sintang Jadi Otak Pemalsuan Akun Medsos Palsu Sejumlah Kepala Daerah di Kalbar

Untuk menentukan 20 peserta lanjut Astuti, pihaknya  membuat kusioner untuk WBP dengan mengisi data minat dan bakat, kita seleksi ada beberapa WBP yang minat di bidang  jahit, perikanan, dan tata boga. Dipilihnya pelatihan menjahit karena dinilai memiliki prospek yang bagus untuk kedepannya.

“Untuk tahun 2021 kita lakukan pelatihan menjahit karna prospek kedepan yang baik, pelatihan ini juga merupakan upaya peningkatan SDM WBP agar punya keterampilan saat mereka bebas nanti. Disinilah tempat mereka untuk berkonsentrasi dalam melaksanakan pelatihan dan belajar, Insyalaah akan bisa meningkatkan skill/keterampilan  mereka,” ujar Astuti Setiawati. 

Dirinya menambahkan, materi yang akan diberkan diantaranya pembuatan bad cover, spray, gorden dan bordir,  karena diminati seluruh lapisan masyarakat, sehingga lebih mudah dalam penjualan produk kedepannya.

Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Pontianak Jaleha Khairan Noor, dirinya berharap dalam pelatihan menjahit ini WBP menjadi manusia produktif dan Lapas Perempuan dapat membuka konveksi.

“Kami tentunya iberharap mereka nanti setelah bebas ada bekal di masyarakatan, bisa menjadi contoh, bahwa didalam lapas tidak hanya menghabiskan waktu semata, tapi juga memperbaiki diri untuk menjadi manusia yang produktif," ujarnya.

"Pelatihan ini mereka dapat menjadi kebanggangaan keluarga, sebelum bebas nanti WBP bisa menabung karena hasil dari penjualan produk hasil karya WBP, akan diberikan upah kepada WBP  sebesar 15% dari keuntungan. Semoga setelah kegiatan ini bisa meningkatkat produktifitas dan Lapas Perempuan Pontianak bisa buka konveksi,” tutur Jaleha.

Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Kalimantan Barat, Suprobowati yang membuka langsung pelatihan menjahit tersebut pada Rabu 9 Juni 2021 menyampaikan, yang dilakukan Lapas Perempuan ini sesuai target kinerja Pemasyarakatan B06. Unit Pelaksana Teknis (UPT)  bisa melakukan kerjasama yang bersertifikat.

Pengetatan PPKM Mikro, Polsek Pontianak Timur Laksanakan Sosialisasi ke Masyarakat

“ini langkah bagus dari Lapas Perempuan, karena sudah bekerja sama dengan lembaga kursus dan pelatihan menjahit Cahyani untuk memberikan keterampilan pada WBP, dimana lembaga tersebut punya nilai yang bagus dan dapat mengeluarkan sertifikat untuk WBP,” ujar Suprobowati.

Menurut Suprbowati, pelatihan menjahit bagi WBP ini sangat baik karena dalam masa pandemi ini rutan dan lapas harus bisa meningkatkan kapasitas WBP.

Dirinya juga berharap Lapas Perempuan Pontianak memiliki produk unggulan karya WBP dan Setelah bebas dari Lapas Perempuan, keterampilan menjahit yang dimilki bisa dilakukan dirumah atau tempat dimana dia berada, sehingga dapat menghasilkan penghasilan, ataupun Dengan adanya sertifikat dapat membantu mantan WBP mencari kerja setelah keluar.

“Semoga dengan pelatihan menjahit ini bisa memunculkan hasil karya unggulan, sesuai harapan dari  Revitalisasi penyelenggaraan Pemasyarakatan. Bahwa semua WBP memiliki skil/keterampilan yang dapat menunjang hidup setelah bebas. Saya berharap dengan kegiatan seperti ini bisa muncul karya WBP yang menjadi produk unggulan tingkat Nasional,” tegas Suprobowati. (*)

(Update informasi Seputar Kota Pontianak)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved