Breaking News:

Kasus Covid-19 Meningkat, Ahli Epidemiologi Sarankan Dua Strategi Agar Masyarakat Disiplin Prokes

Bahkan kasus kematian juga dikatakannya terjadi peningkatan dan lebih dari 75 persen tempat tidur pasien covid-19 di Rumah Sakit sudah terisi pasien c

Penulis: Muhammad Rokib | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ Muhammad Rokib
Ketua tim kajian Covid-19 sekaligus ahli epidemologi Poltekkes Kemenkes Pontianak, Dr. Malik Saepudin, SKM.,M.Kes. 

Malik menerangkan, bahwa seorang dokter penyakit menular di University of California, San Francisco, Dr Monica Gandhi mengatakan, masker medis sangat penting bagi orang-orang dalam keadaan tertentu. 

Misalnya, Malik sampaikan, orang dewasa yang bekerja di lingkungan dalam ruangan yang padat dan orang-orang yang rentan secara medis pergi ke dalam ruangan dengan transmisi tinggi seprti di rumah sakit merawat pasien covid-19, rumah tempat isolasi mandiri dengan ruangan yang tertutup ber AC, serta sirkulasi udara yang buruk.

"Oleh karennya pemerintah provinsi/Kabupaten/Kota memerlukan kerja keras dan strategi yang tepat agar pelaksanaan protokol kesehatan diterapkan oleh masyarakat dengan baik," pesan Malik. 

Lebih lanjut dijelaskannya, setrategi pertama, yang bisa dilakukan adalah membuat peraturan setingkat perwal/Pergub yang lebih tegas dan mengikat, baik ke dalam maupaun keluar. 

Menurut Malik, penerapan itu haruslah dimulai dari lingkungan pegawai di lingkungan pemerintahan, baik provinsi/Kabupaten/Kota, dari semua level bawah sampai atas, dalam penerapan berdisplin protokol Kesehatan, terutama pemakaian masker dan protokol kesehatan lainnya di lingkungannya.

"Jika diperlukan dilakukan penegakan disiplin harus lebih sering dilakukan kepada semua pegawai atau karyawan yang tidak menjalankan protokol kesehatan, jika perlu dimasukan dalam sistem penilaian kepegawaian dalam penegakan disiplin," paparnya.

"Jika pihak pemerintah telah melakukan dengan baik secara internal, tentu ini akan menjadi contoh arau diteladani oleh masyarakat, serta memiliki kewibawaan dalam bertindak dan berkata kepada masyy untuk menerapkan protokol kesehatan," jelasnya.

Kemudian, Malik menyampaikan, Strategi yang kedua dapat dilakukan denga menggunakan key person. Dirinya mengatakan sosialisasi secara masif harus disesuaikan dengan latar belakang, seperti pendidikan atau daerah asal kelompok yang disasar agar pesan yang dibawa tersampaikan. 

Selain karena keterbatasan petugas penyuluhan dinas kesehatan kabupaten/Kota, maka diperlukan pemberdayaan masyarakat setempat, yaitu key person sebagai juru bicara toma dan toga dari masyarakat setempat, justru mungkin jauh lebih efektif memilih juru bicara, misalnya yang ada di masjid yang paling penting adalah yg dianggap sebagai tokoh (keyperson) yang disegani dan mewakili, serta menjadi acuan pada kelompok masyarakat tersebut.

"Mungkin pelaksanaan sholat jamaah yang tidak melakukan prokes, tertentu yang punya wibawa di situ yang menjadi Key person atau imam dan tokoh agama. Baru kemudian aparat, satpol PP dan Polisi menjadi back up. Karena orang bisa tertib karena takut," ungkapnya.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved