Sadari Dampak Buruk Sebutan Anak Nakal
"Anak nakal" biasanya dapat disebabkan karena ingin melampiaskan rasa marah, kecewa, atau mencari perhatian orangtua dan guru.
Penulis: Rizki Fadriani | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Labelisasi atau pemberian istilah “anak nakal” biasa kita dengar sehari-hari di rumah, sekolah, dan sebagainya. “Anak nakal” dianggap sebagai masalah, beban, dan aib bagi orangtua serta keluarga. Bahkan di lingkungan sekolah dan bermain, “anak nakal” dicap sebagai tukang onar, sehingga dia dijauhi teman-temannya.
Untuk membahas lebih lanjut mengenai dampak buruk yang diakibatkan oleh sebutan tersebut, Fasilitator Sekolah Alam Terpadu Cerlang, Sri Wartati, S.Pd. M.Hum, menjelaskan terlebih dahulu mengenai penyebab anak dapat berprilaku demikian.
Menurutnya, definisi "anak nakal" atau bertingkah itu sangatlah relatif. Dan wajar jika anak kecil begitu aktif dan mengeksplorasi keingin tahuannya, sehingga dapat dibedakan antara anak yang ingin menunjukkan sifat impulsif dan yang mengeksplorasi, dari ekspresi wajahnya.
"Kalau anak yang mengeksplorasi, misalnya apabila dalam prakteknya menjatuhkan piring, maka biasanya wajahnya akan menunjukkan ekspresi terkejut, sedangkan anak yang dengan sengaja menjatuhkan piring, biasanya wajahnya datar," jelasnya saat TripTalk, Kamis 20 Mei 2021.
Baca juga: Pemkot Pontianak Dukung Penuh Indonesia Makin Cakap Digital
"Anak nakal" biasanya dapat disebabkan karena ingin melampiaskan rasa marah, kecewa, atau mencari perhatian orangtua dan guru.
Umumnya “anak nakal” disikapi orangtua dengan dimarahi dan diberi hukuman. Di lingkungan sekolah dan bermain, “anak nakal” dicap sebagai tukang onar, sehingga dia dijauhi teman-temannya.
Untuk itu, ia menyarankan agar orang tua atau guru dapat memberikan respon positif, contohnya ketika anak menjatuhkan piring, maka orang tua dapat memberikan respons seperti "hati-hati, nanti kakinya berdarah".
Kalimat tersebut dapat mengajarkan anak terhadap resiko untuk tindakan yang dilakukannya.
Dan jika ingin menegur anak, orang tua atau guru dapat terlebih dahulu melakukan observasi, jangan langsung mengambil tindakan memarahi, dan dapat membuat kesepakatan bersama anak.
"Kalau ingin memberi tahu anak setidaknya tujuh kali, sehingga kita harus sabar, jadi tidak ada yang instan," jelasnya.
Masyarakat umumnya menganggap julukan “anak nakal” sebagai hal lumrah. Dampak buruk pelabelan “anak nakal” seringkali tidak disadari orangtua, guru, dan orang-orang di sekitar sang anak. Labelisasi “anak nakal” bahkan bisa berujung tragis.
Seperti kasus pembunuhan yang baru-baru ini beritanya viral di media sosial. Aisyah, seorang anak usia 7 tahun di Temanggung, Jawa Tengah, diduga dibunuh orangtua dan dua tetangganya karena dianggap nakal. (*)
(Simak berita terbaru dari Pontianak)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/anak-nakal_20170417_101015.jpg)