BEDA Hamas dan Fatah Palestina! Dimana Fatah saat Hamas Bertaruh Nyawa Hadapi Serangan Israel
Lalu di mana peran Fatah saat Hamas berjibaku menghadapi serangan mematikan dari tentara Israel?......
Penulis: Marlen Sitinjak | Editor: Marlen Sitinjak
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Hamas dan Fatah adalah dua organisasi terbesar di Palestina yang berbeda ideologi.
Hamas dengan ideologi Islam sedangkan Fatah dengan ideologi nasionalis sekuler.
Dalam beberapa hari terakhir, Hamas dan Israel saling serang yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa termasuk anak-anak dan kaum perempuan.
Lalu di mana peran Fatah saat Hamas berjibaku menghadapi serangan mematikan dari tentara Israel?
Baca juga: Apa Arti HAMAS Palestina? Sejarah Hamas, Darimana Asal Hamas dan Seberapa Kuat Melawan Israel?
Seperti diketahui, setelah lebih dari satu dekade bertikai, faksi Hamas dan Fatah yang membelah Palestina menjadi dua wilayah dengan administrasi berbeda akhirnya mencapai kesepakatan dalam sebuah rekonsiliasi di Kairo, Oktober 2017 silam.
Pemerintahan bersama yang mengawasi seluruh Tepi Barat dan Jalur Gaza ditargetkan selesai terbentuk selambatnya pada Desember tahun itu.
Kesepakatan ditandai dengan penandatanganan oleh delegasi dari kedua faksi di Kairo selepas perundingan beberapa hari sebelumnya.
Penandatanganan itu dilakukan perwakilan Hamas Saleh al-Arouri bersama negosiator Fatah Azzam al-Ahmed di bawah pengawasan Kepala Badan Intelijen Mesir, Khalid Fawzi.
Berikut sejarah dan perbedaan Hamas dan Fatah
Hamas adalah organisasi Islam Palestina, dengan sayap militer terkait, Izz ad-Din al-Qassam, di wilayah Palestina.
Hamas didirikan pada 1987 oleh sejumlah tokoh pejuang Islam termasuk Ahmed Yassin, Mahmoud al-Zahar, dan Hassan Yousef.
Fatah atau Harakat at-Tahrir al-Wathani al-Filasthini atau Gerakan Nasional Pembebasan Palestina, adalah sebuah partai politik di Palestina yang didirikan pada tahun 1958.
Baca juga: UPDATE Serangan Israel ke Gaza Menewaskan 17 Anak-anak, Total Meninggal 67 Orang
Partai ini memiliki tujuan untuk mendirikan negara Palestina di daerah yang sedang menjadi tempat konflik Israel dan Palestina.
Fatah didirikan Yasser Arafat, Khalil al-Wazir, Salah Khalaf, dan Khaled Yashruti.
Konflik Hamas-Fatah juga disebut sebagai Perang Saudara Palestina dan Konflik sesama saudara, dimulai pada tahun 2006 dan terus berlanjut, dalam satu bentuk atau lain, ke tahun 2008.
Konflik antara dua pihak fraksi utama Palestina yaitu Fatah dan Hamas.
Mayoritas peperangan adalah terjadi di Jalur Gaza dimana dimulai pertikaian terjadi setelah Hamas memenangkan dalam pemilihan legislatif dan Hamas kemudian menguasai Jalur Gaza.
Ketegangan antara Hamas dan Fatah mulai meningkat pada 2005 setelah kematian pemimpin lama PLO Yasser Arafat yang meninggal pada 11 November 2004 dan kembali intensif setelah Hamas memenangkan pemilihan umum 2006.
Konflik ini disebut Wakseh antara Palestina, yang berarti merusak, dan roboh akibat kerusakan yang diakibatan oleh perbuatan sendiri.
Baca juga: ISRAEL Bombardir Gaza Palestina, 9 Anak-anak Jadi Korban Tewas | IDF Kirim 5 Ribu Tentara ke Gaza
Sejarah pertentangan Hamas dan Fatah
Hamas dan Fattah memiliki ideologi yang berbeda.
Hamas dengan ideologi Islam sedangkan Fatah dengan ideologi nasionalis sekuler.
Perbedaan ini semakin tajam ketika Fatah dan PLO bersedia berunding, bahkan mengakui eksistensi Israel.
Diantara perundingan PLO-Israel yang dimediasi oleh AS, yaitu Perundingan Oslo yang hasilnya adalah berdirinya Otoritas Nasional Palestina (PNA) pada tahun 1944.
Otoritas Palestina ini dipimpin langsung oleh Yasser Arafat.
Sepanjang kepemimpinan Arafat, Otoritas Palestina telah menjadi perpanjangan tangan Israel dalam menekan perjuangan gerilyawan Palestina, termasuk Hamas.
Segala bentuk serangan kepada Israel dikategorikan sebagai aksi terorisme dan Palestina berkewajiban membasmi gerakan tersebut.
Januari 2005, diadakan pemilihan Presiden Otoritas Palestina.
Hamas memboikot pemilu ini, dimana pemilu ini dimenangkan Mahmoud Abbas, pemimpin Fatah pasca Arafat.
Tapi kemudian, Hamas ikut dalam pemilu Legislatif bulan Januari 2006 dan berhasil meraup 42,9% suara.
Hal ini membuktikan mayoritas masyarakat Palestina mendukung perjuangan Hamas.
Kemenangan Hamas dalam pemilu legislatif mengakibatkan terpilihnya Ismail Haniyah sebagai Perdana Menteri Palestina.
Baca juga: Indonesia Kecam Serangan Teror Israel ke Warga Palestina di Masjid al-Aqsa
Namun karena selama ini Hamas cenderung melakukan serangan-serangan kepada Zionis Israel, negara-negara barat telah menempatkan Hamas sebagai organisasi teroris.
Apalagi setelah pernyataan Ismail Haniyah yang menyatakan bahwa tidak akan mengakui keberadaan Israel.
Israel tidak pernah menghentikan serangannya ke wilayah Palestina. Hamas membalas serangan itu dengan melemparkan roket ke wilayah Israel.
Hal ini membuat Israel dan Barat ( termasuk Sekjen PBB) menghentikan aksi senjata bahkan menyebutnya sebagai aksi teroris.
Fatah pun ikut-ikutan menentang Hamas bahkan membunuh tokoh-tokoh Hamas. Perang antara keduanya meletus dan menewaskan ratusan orang.
Puncaknya pada 14 Juni 2007, Presiden Otoritas Palestina membubarkan kabinet dan memecat Ismail haniyah.
Hamas menolak keputusan itu dan tetap menganggap Ismail haniyah sebagai Perdana Menteri.
Hingga kini Gaza dikuasai Hamas dan Tepi barat dikuasai Fatah. Sejak bulan Juni 2007 pula, Israel memblokade Gaza.
83 Orang Tewas
Israel mulai mengerahkan ribuan tentara ke perbatasan Gaza, sementara kelompok sayap bersenjata Palestina, Hamas, mengancam akan terus melanjutkan serangan roket dengan mengatakan menghantam kota seperti Tel Aviv lebih mudah dibandingkan meneguk air minum.
Juru bicara tentara Israel mengatakan 3.000 tentara cadangan telah dipanggil untuk bersiap.
Hamas terus meluncurkan roket ke Israel, dengan sirene bergaung di kota-kota Israel namun sejauh ini tak ada korban lebih lanjut.
Di Gaza, setidaknya 83 orang dilaporkan tewas akibat serangan udara Israel sejak serangan terjadi pada Senin 10 Mei 2021. Sementara di Israel, tujuh orang meninggal sejauh ini.
Wartawan BBC di Gaza mengatakan wilayah itu mengalami masa paling sulit sejak perang pada 2014.
Saling serang antara kelompok Palestina dan tentara Israel meningkat signifikan di Jalur Gaza dan PBB mengkhawatirkan terjadinya "perang skala penuh".
Lebih dari 1.000 roket diluncurkan oleh kelompok Palestina selama lebih 38 jam, kata Israel, sebagian besar diarahkan ke Tel Aviv.
Sementara Israel melancarkan ratusan serangan udara, menghancurkan dua blok gedung di Gaza pada Selasa dan Rabu 12 Mei 2021. (*)