Breaking News:

Penegakan Hukum Aktivitas PETI Upaya Terakhir, Kapolres Sintang : Kami Tidak Mau Terjadi Konflik

Kapolres sepakat untuk dilakukan pembatasan atas aktivitas PETI oleh pemerintah daerah, mengingat Ijin atas aktivitas PETI memang susah karena menjadi

TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Kapolres Sintang, AKBP Ventie Bernard Musak 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID,SINTANG - Kapolres Sintang, AKBP Ventie Bernard Musak menyampaikan bahwa penegakan hukum terhadap aktivitas Penambangan Eemas Tanpa Izin (PETI) merupakan upaya terakhir untuk dilakukan. Sebab, setiap penegakan hukum, ternyata tidak memberikan solusi yang permanen.

"Tidak semua PETI bisa ditindak karena terlalu banyak PETI di Kabupaten Sintang. Dari 14 kecamatan, 11 kecamatan ada aktivitas PETI. Alat yang digunakan seperti mesin dong feng, fuso dan panther serta jenis lain di darat dan sungai. Dalam penegakan hukum atas aktivitas PETI ini, kami tidak mau ada terjadi konflik,” ungkap Kapolres, Jumat 7 Mei 2021.

Kapolres sepakat untuk dilakukan pembatasan atas aktivitas PETI oleh pemerintah daerah, mengingat Ijin atas aktivitas PETI memang susah karena menjadi kewenangan pemerintah pusat.

Baca juga: Bupati Jarot Sebut 19 Lokasi Usulan WPR dari Pemkab Sintang Belum Direspon Pemprov Kalbar

"Akibat PETI adalah lingkungan rusak, erosi, longsor, banjir, pemukiman rusak, aliran sungai, habitat ekosistem sungai dan hutan yang rusak. Bila dibiarkan dan tidak dikendalikan, maka akan menjadi bola liar. Kami juga belum melalukan cek apakah para penambang menggunakan mercuri. Alat penambang ini seperti sebuah rumah di sepanjang sungai dan bisa berpindah," katanya.

Menurut Kapolres, PETI ini sangat bersinggungan dengan hukum karena tidak ada izin, dari sisi lingkungan hidup dan bisa menimbulkan konflik di masyarakat.

"Ini memang bukan hanya di Sintang, tetapi di Kalbar dan Indonesia. Di negara kita belum ada aturan yang mengatur soal aktivitas PETI. Namun, kalau tidak dikendalikan, akan bersinggungan dengan hukum, maka perlu dibatasi dan dikendalikan," harapnya. (*)

Penulis: Agus Pujianto
Editor: Hamdan Darsani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved