Breaking News:

Ireng Maulana Sebut Pelaku Usaha di Sintang Merasa Terintimidasi dengan Razia Satgas Covid-19

Menurut Ireng, pelaku usaha mendukung langkah pencegahan corona yang dilakukan oleh Satgas, tapi harus dengan cara-cara yang elegan dan mendidik.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Agus Pujianto
Perwakilan pelaku usaha sintang, Ireng Maulana 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Perwakilan pelaku usaha sintang, Ireng Maulana merasa kebijakan Satgas Penaganan Covid-19 melakukan razia pengunjung warung kopi berimbas pada penurunan jumlah pengunjung.

Ireng merasa, tindakan swab di tempat yang dilakukan oleh satgas secara tidak langsung mengintimidasi pelaku usaha.

"Jumlah pengunjung menurun. Tapi ini memang diperparah dengan aktivitas yang dilakukan oleh tim patroli. Razia di warkop dan cafe, kami merasa bahwa kegiatan usaha kami sedang diintimidasi oleh Satgas," sesal Ireng, Senin 3 Mei 2021.

Ireng juga meminta agar Satgas tidak melakukan framing kepada masyarakat, dengan menyebut seolah-olah tempat usaha dan kegiatan ekonomi masyarakat sebagai tempat penularan corona.

Baca juga: Update Data Covid-19 Kabupaten Sintang : 1.607 Pasien Sembuh, 44 Kasus Meninggal

Padahal, menurutnya kasus covid bisa terjadi di tempat mana pun, termasuk kantor institusi pemerintah.

"Selama ini itu yang diframing, padahal kita tahu bahwa penularan corona tidak hanya di warung kopi. Jadi, kita sangat menyayankan misalkan begitu ditemukan satu pengujung positif corona, itu dibesar besarkan, tapi instansi lain tidak pernah dipublikasi secara luas," tegasnya.

Menurut Ireng, pelaku usaha mendukung langkah pencegahan corona yang dilakukan oleh Satgas, tapi harus dengan cara-cara yang elegan dan mendidik.

"Kami menyarankan ke satgas mungkin aktivitas patroli itu diganti dengan kegiatan monitoring, itu tidak perlu ramai orang, cukup 2 orang diutus ke warkop atau tempat lain yang jadi pusat keramaian, untuk memastikan kalau tempat usaha itu sudah menerapkan prokes apa belum. Bisa dicek, apakah tempat usaha itu menyediakan tempat cuci tangan dan lainnya, saya pikir itu lebih baik daripada melakukan patroli di malam hari," saran Ireng.

Selama ini, pelaku usaha was-was, terutama, terutama pengunjung, karena takut diswab di tempat.

"Kami merasa ketakutan, was was khawatir terutama pengunjung kami, yang merasa kalau mereka terancam akan diswab jika mereka nongkrong di warkop.

Kalau memang penerapan disiplin ini mau dilakukan secara komprehensif maka kegiatan ini jangan juga hanya menyasar warung kopi, dan di malam hari, sebaiknya ini juga dilakukan di siang hari dan tempat lain juga, yang jadi tempat kerumunan, jadi tidak ada tembang pilih.

"Kita sebenarnya setuju dengan swab, tapi lebih baik jangan membuat semacam image atau citra bahwa warung kopi tempat penularan covis," jelas Ireng. (*)

Penulis: Agus Pujianto
Editor: Try Juliansyah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved