Breaking News:

Orang Meninggal Namun Memiliki Hutang Puasa, Bagaimana Cara Membayarnya?

Berpuasa merupakan kewajiban umat muslim di bulan Ramadan. Namun bagaimana jika umat muslim tersebut meninggal dunia dan semasa hidupnya mempunyai hut

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID
Ilustrasi 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Berpuasa merupakan kewajiban umat muslim di bulan Ramadan. Namun bagaimana jika umat muslim tersebut meninggal dunia dan semasa hidupnya mempunyai hutang puasa?

Berikut penjelasannya.

Tribunners : 
Assalamualaikum ustadz, mau tanya sehubungan orang yang meninggal, tetapi memiliki hutang puasa. Jadi perlukah dibayar dan bagaimana caranya?

08952442××××
Danang Arjuna

Ketua DPW LDII Kalbar, Susanto :

Kematian akan menghampiri setiap jiwa, dan ini merupakan takdir Allah yang bersifat mutlak (mubram) tanpa campur tangan manusia. Dalam Surat Al Imran ayat 185, Allah SWT berfirman "Setiap yang bernyawa pasti merasakan kematian". 

Baca juga: Ada Banyak Keutamaan Menyayangi Anak Yatim Piatu, Khususnya Saat Ramadan

Keabsolutan tersebut dijelaskan dalam Surat Al Araaf ayat 34 yang berbunyi "Faidza jaa-a ajaluhum laa yasta'khiruuna saa'atan walaa yastaqdimuun”  Artinya maka jika telah datang waktu ajal, maka tak ada yang dapat memundurkan ataupun memajukan.

Ajal atau kematian seseorang merupakan rahasia Allah, sehingga saat bulan ramadan jika ajalnya datang, maka tidak bisa ditunda atau dirubah.

Maka apabila ada muslim yang meninggal dunia sedangkan dirinya memiliki hutang puasa maka wajib dibayar (diqadha/diganti) dengan beberapa ketentuan:

1. Ahli Waris yang membayar/mengganti puasa. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu anha bahwa Rasulullah SAW bersabda "Barang siapa yang meninggal dan dia masih memiliki tanggungan puasa maka ahli warisnya wajib mempuasakannya.” (HR Bukhori). 

2. Membayar fidyah kepada fakir miskin. Ketentuan ini hanya berlaku bagi seorang muslim yang sakit. Maksudnya saat bulan ramadhan ada seorang muslim tidak bisa berpuasa karena sakit, kemudian ditakdirkan meninggal maka cukup membayar fidyah. 

Hal ini dijelaskan dalam riwayat Ibnu Abas bahwa "Apabila ada orang sakit ketika ramadhan (kemudian dia tidak puasa), sampai dia wafat, belum melunasi utang puasanya, maka dia membayar fidyah dengan memberi makan orang miskin dan tidak perlu membayar qadha. 

Namun jika orang (jenazah) tersebut memiliki utang puasa nadzar, maka warisnya harus menggantinya.(HR. Abu Daud).

Dengan kedua hadits tersebut memberikan ketegasan wajibnya ahli waris melunasi hutang puasa bagi muslim yang meninggal. Bukan hanya puasa ramadan, termasuk  puasa nadzar. Insya Allah bermanfaat. (*)

Penulis: Ridho Panji Pradana
Editor: Hamdan Darsani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved