Breaking News:

Ramadan 2021

Memelihara Iman Agar Senantiasa Bercahaya

Sebagai bukti dari ruhani yang telah terpelihara, dapat dilihat dari kemampuan diri dalam mengendalikan hawa dan nafsu yang memunculkan sifat tamak lo

TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Dr. Samsul Hidayat, MA, Wakil Direktur Pascasarjana IAIN Pontianak. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Salah satu upaya meningkatkan taqwa adalah dengan memelihara iman melalui berpuasa di bulan Ramadan. Iman yang terpelihara sejatinya adalah kitab diri yang bercahaya, dia adalah kitab yang tak pernah bengkok dan menjadi petunjuk bagi orang yang bertaqwa (QS 2: 2). Ciri orang taqwa juga dapat dilihat dari kesadaran menafkahkan harta, Kamis 29 April 2021.

Jika pada akhir Ramadan kita diminta menunaikan zakat baik fitrah atau harta serta infak dan shadaqah, sesungguhnya tidak lain karena ia tumbuh dari ruhani atau kitab diri yang telah teraktivasi, berada dalam pemeliharaan dan pengurusan Allah swt (QS 17: 85).

Sebagai bukti dari ruhani yang telah terpelihara, dapat dilihat dari kemampuan diri dalam mengendalikan hawa dan nafsu yang memunculkan sifat tamak loba riya dengki sombong dan sebagainya. (QS 64:15-16)

Bertaqwa juga adalah orang yang memelihara diri dari amarah. Amarah adalah sifat insan yang pantang kalah dan tak mau direndahkan. Pendidikan ruhani pada saat berpuasa akan memunculkan sifat mukmin yang lembut dan penuh kasih sayang sehingga mereka yang berpuasa secara benar akan mudah memaafkan kepada orang yang menyakitinya. Sifat emosional dapat padam juga semata karena pertolongan dan rahmat Allah swt (QS 12:53)

Artinya manusia tidak akan mampu memiliki ruhani yang bercahaya tanpa pertolongan dan intervensi tuhan. Manusia hanya bisa mengupayakan, berandai-andai dan berharap agar bisa memperbaiki diri sendiri. Tapi seluruh upaya manusia tidak akan mungkin berhasil jika tanpa bimbingan, petunjuk dan pertolongan Allah SWT.

Baca juga: Doa Puasa ke 17, Doa Puasa Ramadhan ke 17 dan Doa Puasa ke 18 Lengkap Latin Arab Serta Artinya

Tentu memelihara iman agar senantiasa bercahaya tidaklah mudah. Apalagi insan sering disebut kitab suci sebagai makhluk yang suka menzalimi diri sendiri (QS 3: 15) dengan sifat kufur, amarah serta sifat rakus tak pernah merasa cukup.

Oleh sebab itu, kita mesti senantiasa mengingat Allah swt dalam segala keadaan (QS 4:103) serta memohon ampun dan pertolongan-Nya. Mengingat Allah swt adalah inti orang yang terpelihara ruhaninya, dan dia terbit dari ketaqwaan hati (QS 22:32-33).

Dengan demikian sejatinya yang bertaqwa itu adalah si Iman yang di dalam dada. Itulah kitab diri atau ruhani (QS 42:52) yang harus dipelihara agar senantiasa bercahaya melalui ibadah puasa. Artinya puasa hakikatnya tidak mengurus fisik, tapi mengurus batin. Bahwa kita (ruhani) berasal dari tuhan dan akan kembali pada-Nya (QS 2:156).

Ruhani yang terpelihara melalui puasa, adalah si iman yang dapat mempuasakan kehendaknya untuk tidak memakai hawa-nafsu-dunia-syetan, sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari diikuti dengan niat berpuasa.

Si Iman yang telah berjarak dengan hawa dan nafsu, adalah mukmin yang terjaga dan terpelihara. Mereka ini lah yang disebut orang taqwa. Bagi mereka akan mendapatkan ampunan dari tuhan dan mendapatkan surga seluas langit dan bumi. (QS 3:133).

Cukuplah Adam dan Hawa sebagai pelajaran, saat godaan syetan menggelapkan hati lalu mengikutkan hawa nafsu mereka. Kegelapan hati adalah tanda kezaliman yang nyata pada diri manusia. Hanya ada satu cara menyelamatkan diri, yaitu bertaubat pada tuhan dan memohon ampun karena dia sebaik-baik pemberi ampunan.(QS 2:37). (*)

Penulis: M Wawan Gunawan
Editor: Rivaldi Ade Musliadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved