Breaking News:

Ramadhan 2021

8 Kewajiban Nuzulul Quran 17 Ramadhan dan Bacaan Doa Nuzulul Quran Lengkap Arab Latin Indonesia

Yang paling penting adalah bagaimana interaksi kita dengan Al Quran di bulan yang disebut juga syahrul Quran ini.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID
Ilustrasi Nuzulul Quran 17 Ramadhan. 

Artinya: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al Alaq: 1-5).

Namun demikian, muncul perbedaan mengenai waktu pertama kali turunnya wahyu dari langit ke bumi kepada Rasulullah SAW.

Sebagian ulama berpendapat, turunnya wahyu Al-Qur'an ke bumi tetap merujuk pada malam Lailatul Qadar.

Sebagian ada yang mengatakan pada 17 Ramadhan.

Di Indonesia, pada 17 Ramadhan inilah yang biasa di peringati dengan Nuzulul Quran.

Namun di negera lain seperti di Mesir, peringatan Nuzulul Quran terjadi pada 27 Ramadhan.

"Yang di Indonesia yang diperingati adalah malam ketika pertama Rasulullah SAW mendapatkan wahyu."

"Sementara di negara-negara lain seperti di Mesir, ambilnya malam 27 Ramadhan."

"ini merujuk pada sebuah hadits yang menyebutkan malam Lailatul Qadar adalah malam turunnya Al-Quran terjadi pada malam 27 Ramadhan," terangnya.

"Jadi perbedaan-perbedaan ini karena sudut pandangnya berbeda." tambahnya.

Dalam kisah turunnya wahyu pertama, saat itu Rasulullah SAW menginjak usia 40 tahun.

Pada suatu malam, Rasulullah gelisah melihat masyarakat Mekkah karena saat itu banyak yang membuat patung untuk disembah sebagai Tuhan.

Maka, Nabi pun bergegas menuju ke Gua Hira untuk melakukan perenungan, berfikir, memohon petunjuk dan pertolongan dari Allah SWT.

Hingga pada malam 17 Ramadhan, turunlah Jibril dalam bentuk pemuda yang gagah, menghampiri Nabi Mihammad SAW dan menyampaikan wahyu pertama.

Lihat Pula Penjelasan Syekh Ali Jaber mengenai Lailatul Qadar

Disadur dari tribunnews.com yang dikutip dari Muslim.or.id, banyak umat islam yang memperingati hari Nuzulul Quran yang jatuh pada tanggal 17 Ramadhan dengan banyak cara.

Penuturan sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhu tentang apa yang beliau lakukan.

كَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ . رواه البخاري

Dahulu Malaikat Jibril senantiasa menjumpai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada setiap malam Ramadhan, dan selanjutnya ia membaca Alquran bersamanya.” (Riwayat Al Bukhari)

Demikianlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermudarasah, membaca Al Qur'an bersama Malaikat Jibril alaihissalam di luar salat.

Ternyata itu belum cukup bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Beliau masih merasa perlu untuk membaca Al Qur'an dalam salatnya.

Hal itu berdasarkan penuturan sahabat Huzaifah radhiallahu ‘anhu tentang pengalaman beliau shalat tarawih bersama Rasulillahshallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pada suatu malam di bulan Ramadhan, aku shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam bilik yang terbuat dari pelepah kurma. Beliau memulai salatnya dengan membaca takbir, selanjutnya beliau membaca doa"

الله أكبر ذُو الجَبَرُوت وَالْمَلَكُوتِ ، وَذُو الكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ

Selanjutnya beliau mulai membaca surat Al Baqarah, sayapun mengira bahwa beliau akan berhenti pada ayat ke-100, ternyata beliau terus membaca. Sayapun kembali mengira: beliau akan berhenti pada ayat ke-200, ternyata beliau terus membaca hingga akhir Al Baqarah, dan terus menyambungnya dengan surat Ali Imran hingga akhir."

Kemudian beliau menyambungnya lagi dengan surat An Nisa’ hingga akhir surat. Setiap kali beliau melewati ayat yang mengandung hal-hal yang menakutkan, beliau berhenti sejenak untuk berdoa memohon perlindungan.

Sejak usai dari shalat Isya’ pada awal malam hingga akhir malam, pada saat Bilal memberi tahu beliau bahwa waktu salat subuh telah tiba beliau hanya salat 4 rakaat.” (Riwayat Ahmad, dan Al Hakim)

Demikianlah cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingati turunnya Alquran pada bulan Ramadan, membaca penuh dengan penghayatan akan maknanya.

Tidak hanya berhenti pada mudarasah, beliau juga banyak membaca Alquran pada shalat beliau, sampai-sampai pada satu raka’at saja, beliau membaca surat Al Baqarah, Ali Imran dan An Nisa’, atau sebanyak 5 juz lebih.

Inilah yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan, dan demikianlah cara beliau memperingati turunnya Al Qur'an.

Tidak ada pesta makan-makan, apalagi pentas seni, nyanyi-nyanyi, sandiwara atau tari menari.

Anjuran untuk mengisi malam Nuzulul Quran dengan membaca Alquran juga disampaikan tokoh NU Sumedang, Jawa Barat, H Sa'dullah. 

Dikutip dari NU Online, kiai yang hafal Al-Qur’an lulusan PTIQ, Jakarta tersebut juga menjelaskan cara-cara yang baik mengisi malam Nuzulul Qur'an.

"Cara-cara yang baik untuk mengisi malam Nuzulul Qur'an yaitu, pertama istiqomah membaca Al-Qur'an. Minimal harus khatam satu kali selama bulan ramadlan. Kedua, harus memperbanyak i'tikaf, selama i'tikaf bacalah Al-Qur’an atau dzikir lainnya. Dan yang ketiga, perbanyaklah shalat malam dan doa," jelasnya.

(Artikel NU Online oleh Ayi Abdul Kohar/Abdullah Alawi lengkap bisa anda simak di tautan ini )

Ceramah Nuzulul Quran

Ceramah ini membahas Nuzulul Quran mulai dari arti, tanggal terjadinya hingga kewajiban kaum muslimin terhadap Al Quran disadur dari Bersama Dakwah

Arti Nuzulul Quran

Secara bahasa, nuzulul Quran adalah turunnya Al Quran. Secara istilah, Nuzulul Quran adalah diturunkanNya Al Quran secara sekaligus dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul Izzah (langit dunia) pada lailatul Qadar.

Lalu Al Quran diturunkan secara berangsung-angsur dari Baitul Izzah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama sekitar 23 tahun.

Di sinilah letak perbedaan tanggal Nuzulul Quran.

Mengapa ada yang memperingati Nuzulul Quran pada tanggal 17 Ramadhan seperti mayoritas umat Islam di Indonesia, sedangkan di negara lain ada yang memperingati pada tanggal lainnya.

Syaikh Wahbah Az Zuhaili menjelaskan dalam Tafsir Al Munir bahwa sebagian ulama berpendapat nuzulul Quran adalah turunnya Al Quran secara sekaligus ke Baitul Izzah.

Sedangkan sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa nuzulul Quran adalah permulaan turunnya Al Quran kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yakni wahyu pertama yang turun kepada beliau di gua hira.

Syaikh Manna Al-Qaththan menjelaskan dua perbedaan pendapat itu lebih terperinci. Pendapat pertama merupakan pendapat yang dipelopori Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berdasarkan Surat Al Baqarah ayat 185, Surat Ad Dukhan ayat 4 dan Al Qadr ayat 1.

Pendapat kedua dipelopori oleh Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi (seorang tabi’in besar, ahli hadits dan fikih, guru Imam Abu Hanifah).

Menurut beliau, Surat Al Baqarah ayat 185, Surat Ad Dukhan ayat 4 dan Al Qadr ayat 1 tersebut menerangkan tentang permulaan turunnya Al Quran kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Syaikh Manna Al-Qaththan kemudian menjelaskan bahwa dua pendapat itu sebenarnya tidak bertentangan karena Al Quran diturunkan dua kali yakni secara sekaligus ke Baitul Izzah lalu secara berangsur-angsur kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tanggal Nuzulul Quran

Karena dari awal telah ada perbedaan, maka lahirlah perbedaan kedua yakni tanggal nuzulul Quran.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengutip pendapat Ibnu Abbas bahwa Al Quran diturunkan sekaligus ke Baitul Izzah pada pertengahan bulan Ramadhan. Malam itu bertepatan dengan lailatul qadar.

Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfury dalam buku Sirah Nabawiyah-nya Ar Rahiqul Makhtum menjelaskan para pakar sejarah berbeda pendapat tentang kapan pertama kali wahyu turun kepada Rasulullah. Ada yang berpendapat Rabiul Awwal, ada yang berpendapat Rajab dan ada yang berpendapat Ramadhan.

Dari ketiga pendapat ini, yang kuat adalah bulan Ramadhan. Tanggal berapa?

Para ulama berbeda pendapat lagi. Ada yang berpendapat tanggal 7 Ramadhan, ada yang berpendapat tanggal 17 Ramadhan dan ada yang berpendapat tanggal 18 Ramadhan. Al Khudhari dalam Muhadharat-nya menguatkan tanggal 17 Ramadhan.

Agaknya pendapat Ibnu Abbas yang menyebut pertengahan Ramadhan dan Al Khudhari yang menyebut 17 Ramadhan inilah yang membuat mayoritas umat Islam di Indonesia meyakini nuzulul Quran tanggal 17 Ramadhan.

Adapaun Syaikh Shafiyurrahman sendiri menegaskan bahwa Rasulullah menerima wahyu pertama kali di gua hira pada hari Senin, tanggal 21 Ramadhan bertepatan 10 Agustus 610 Masehi.

Hujjah beliau, Al Quran diturunkan pada lailatul qadar sedangkan lailatul qadar menurut banyak hadits terjadi pada malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.

Hadits lain menjelaskan bahwa Rasulullah pertama kali mendapat wahyu pada hari Senin. Senin pada bulan Ramadhan tersebut jatuh pada tanggal 7, 14, 21 dan 28. Sehingga beliau menyimpulkan tanggal 21 Ramadhan.

Kewajiban Terhadap Al Quran

Yang penting bukanlah tanggal berapa nuzulul Quran karena ada perbedaan pendapat ulama. Yang paling penting adalah bagaimana interaksi kita dengan Al Quran di bulan yang disebut juga syahrul Quran ini.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (QS. Al-Baqarah:185)

Setidaknya, ada delapan kewajiban kita terhadap Al Quran.

1. Mengimani Al Quran

Bahwa Al Quran adalah firman Allah. Al Quran bukan makhluk. Al Quran adalah kalamullah. Sebagaimana ayat di atas, Al Quran diturunkan untuk menjadi petunjuk bagi kita. Tanpa mengimaninya, manusia tidak mungkin menjadikannya sebagai pegangan hidup.

وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآَخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

“Dan mereka beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat” (QS. Al Baqarah: 4)

2. Membaca Al Quran (Tilawah)

Al Quran adalah kalamullah yang membacanya bernilai pahala. Para sahabat biasa mengkhatamkan Al Quran sekali dalam sebulan. Dan banyak yang khatam lebih cepat dari itu. Membaca Al Quran merupakan perintahNya:

وَرَتِّلِ الْقُرْآَنَ تَرْتِيلًا

“Dan bacalah Al Quran dengan perlahan-lahan” (QS. Al Muzammil: 4)

3. Mentadabburi Al Quran

Yakni merenungkan Al Quran, sehingga kita mengetahui maksudnya dan mengambil pelajaran serta petunjuk dari Al Quran.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

4. Menghafalkan Al Quran

Al Quran-lah yang kita baca saat sholat. Yakni Surat Al Fatihah dan setelahnya. Maka hendaknya kita menghafal Al Quran sesuai kemampuan. Yang ideal adalah menghafalkan Al Quran seluruhnya, lengkap 30 juz.

Kedudukan para penghuni surga nanti akan berbanding dengan hafalan Al Quran-nya. Semakin banyak ia hafal Al Quran, semakin tinggi kedudukannya di surga.

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

“Akan dikatakan kepada shahibul qur’an (di akhirat): bacalah dan naiklah, bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membaca dengan tartil di dunia. karena kedudukanmu tergantung pada ayat terakhir yang engkau baca” (HR. Abu Daud)

5. Mengamalkan Al Quran

Yang kelima adalah mengamalkan Al Quran. Apa yang diperintah Al Quran kita lakukan, apa yang dilarang Al Quran kita tinggalkan. Pendek kata, kita menjadikan Al Quran sebagai petunjuk hidup.

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” (QS. Al Baqarah: 2)

6. Mendakwahkan dan mengajarkannya

Kewajiban kita berikutnya adalah mendakwahkan dan mengajarkan Al Quran. Mengajarkan Al Quran ini menjadikan kita menjadi manusia terbaik dalam pandangan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari)

7. Memperjuangkan dan membelanya

Kita juga berkewajiban memperjuangkan dan membela Al Quran. Memperjuangkan agar nilai-nilai Al Quran tegak dalam kehidupan dan membela jika Al Quran dihina atau dinistakan.

Pada hakikatnya, Allah tidak membutuhkan pembelaan kita. Namun dengan membela Al Quran, Allah akan membela dan menolong kita sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS. Muhammad: 7)

8. Menerapkan dalam kehidupan bermasyarakat

Tak cukup hanya mengamalkan Al Quran secara pribadi, kita perlu berupaya menerapkan Al Quran dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Sebab Al Quran adalah petunjuk hidup dan Allah menghendaki kita menerapkan Islam secara kaffah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208)

Bacaan Doa Lengkap Malam Nuzulul Qur'an

Allahummagfir Lii Wa Liwaalidayya Arhamhumaa Kamaa Robbayaanii Shoghiiroo.

Artinya :

Ya Allah ! Ampunilah aku dan kedua orangtuaku dan kasihanilah keduanya sebagaimana mereka nmendidikku semenjak kecil.

Bacaan doa Nuzulul Qur'an di atas bisa diamalkan pada saat sedang memperingati atau menjalani atau melewati Nuzulul Qur'an.

Do'a di atas mempunyai maksud untuk memohon dan meminta ampunan kepada Allah SWT atas semua kesalahan (dosa) diri kita sendiri maupun kedua orangtua kita.

Do'a lainnya:

Allahumma Innaka 'aufuwwun Tuhibbul 'Afwa fa'fu'anni.

Artinya: Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku.

Lalu bacaan doa malam Nuzulul Quran di atas bisa diamalkan pula karena sudah pernah diriwayatkan oleh Aisyah RA bahwa ia pernah bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang bacaan doa apa yang harus dibaca saat bertepatan dengan malam Lailatul Qadar, lalu Nabi Muhammad SAW menyuruh untuk membaca bacaan doa seperti di atas.

Semoga kita semua meraih keberkahan Ramadhan 1440 H ini, aamiin ya rabbal alamin. (*)

Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
Editor: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved