Breaking News:

Ramadan 2021

Rizki Waldan: Matinya Ke'aku'an

Jika kembali fitrah yang selama ini kita maksud adalah pesta lebaran atau perayaan idul fitri secara ceremonial, maka pemahaman kita tersebut tentulah

TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Waldan, SPd, MM, Dosen Menajemen Dakwah IAIN Pontianak. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - Akhirnya kita kembali memasuki bulan yang penuh rahmat, bulan yang ditunggu umat muslim diseluruh dunia. Bulan dimana pintu toubat dibuka lebar dan segala amal baik dilipat gandakan pahalanya. Maka, pantaslah jika kita sebut bahwa tiada bulan yang lebih indah dari bulan ramadhan.

Tujuan dari berpuasa adalah agar kita mampu menggapai kejayaan diri, suci, bersih atau sering kita sebut dengan “kembali fitrah”. Tentu saja untuk menggapainya memerlukan sebuah proses yang tepat sehingga tidak menciderai makna “kembali fitrah” yang selama ini kita maksudkan.

Pertanyaannya apakah definisi kembali fitrah yang selama ini kita maksudkan sudah benar? Dan apakah proses yang kita jalani sudah sesuai dengan tujuan hakiki dari puasa itu sendiri?

Jika kembali fitrah yang selama ini kita maksud adalah pesta lebaran atau perayaan idul fitri secara ceremonial, maka pemahaman kita tersebut tentulah kurang tepat. Kembali fitrah harus dimaknai dengan meningkatnya dimensi spiritualitas diri dengan sang khalik.

Merasakan bagaimana diri ini kembali suci dengan membuang racun yang berasal dari hadirnya ego (keakuan diri). Ego atau keakuan diri dapat mengakibatkan rusaknya kedekatan kita kepada Allah. Keakuan diri yang tidak benar atau palsu akhirnya akan menjatuhkan kita kedalam syirik kepada Allah.

Lantas apa itu keakuan diri? Keakuan diri merupakan salah satu bentuk ego yang hadir di dalam diri. Egoisme secara bahasa merupakan tingkah laku yang didasarkan atas dorongam untuk keuntungan diri sendiri dari pada untuk kesejahteraan orang lain.

Baca juga: Bacaan Doa Qunut Malam 15 Ramadhan Malam Ini, Tata Cara Bacaan Qunut Witir Ramadhan Arab dan Artinya

Dari sifat inilah muncul berbagai penyakit hati seperti rasa iri dengki, riya’, cinta dunia, sombong dan membanggakan diri yang akhirnya semua penyakit hati tersebut akan bermuara pada syirik.

Ego/keakuan muncul dari nafsu/diri yang merasa memiliki seseuatu atau memiliki rasa ke’aku’an padahal segala hal yang melekat pada diri kita sebagai manusia sejatinya adalah titipan dari sang pemilik hakikat yaitu Allah. Kita merasa memiliki harta, jabatan, keluarga padahal sejatinya itu hanyalah milik Allah bahkan yang kita sebut sebagai “diri” itu sendiri jugalah miliknya.

Puasa seyogyanya melatih kita untuk membuang segala ego diri yang merusak hati. Mulai dari menahan lapar dan haus, kita dilatih mengendalikan nafsu serta mengurangi berbagai makanan yang mampu menghadirkan sifat hewan di dalam diri.

Menahan berbicara yang tidak baik untuk melatih diri untuk tidak riya’ dan sombong. Mengendalikan pikiran dan hati untuk memusnahkan racun berupa dengki, iri dan segala penyakit hati lainnya. Dan terakhir kita dilatih untuk berbuat amal ibadah yang mampu mendekatkan diri kepada Allah. Tak sekedar dekat, dengan membunuh keakuan diri maka yang akan hadir di dalam diri bukanlah aku ego melainkan hanya Allah.

Maka dari itu melalui momentum ramadhan ini, mari kita buang segala keakuan diri yang menimbulkan keangkuhan yang mampu meracuni hati dari kecintaan kepada Allah. Mari kita jalani puasa dengan penuh Ikhlas yaitu meluruskan niat tulus hanya karena Allah. Tiada niat selain dia, karena hakikatnya segala sesuatu merupakan kepunyaannya. (*)

Penulis: M Wawan Gunawan
Editor: Rivaldi Ade Musliadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved