Breaking News:

Tidak Mandi Wajib Setelah Berhubungan Suami-Istri dan Tidak Sahur, Apakah Puasanya Diterima?

Tidak mandi wajib setelah berhubungan suami istri dan tidak sahur pula dan salat subuh karena kesiangan, apakah masih boleh berpuasa?

GRAFIS TRIBUN PONTIANAK/ANDHIKA PRASETYO
Ilustrasi 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Tidak mandi wajib setelah berhubungan suami istri dan tidak sahur pula dan salat subuh karena kesiangan, apakah masih boleh berpuasa?

Begini penjelasannya

Tribunners :
Ustaz. Bagaimana hukum berpuasa jika tidak sahur dan dalam keadaan junub. Namun malam harinya diniatkan untuk berpuasa. Apakah puasanya diterima?
08134737××××
Melly

Ketua DPW LDII Kalbar, Susanto :

Dalam sebuah riwayat HR Al Bukhori diceritakan kabar turunnya ayat 187 Surat Al Baqarah disambut suka-cita. 

Baca juga: Hukum Mimpi Basah ketika Puasa Ramadhan , Apakah Puasa Batal ? Simak Pandangan Muhammadiyah dan NU

Mengingat Firman Allah SWT tersebut memberikan kebahagian bagi para pasangan suami istri, yang selama ini dirasakan cukup berat untuk menahannya. 

Ayat itu berbunyi "Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa berkumpul (melakukan hubungan suami istri) dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. 

Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. 

Maka sekarang kumpulilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu (al ayat)". 

Namun namanya juga manusia yang ditakdirkan sebagai makhluk lemah, disaat siang mesti puasa dan bekerja, sedangkan malam menjalankan ibadah salat tarawih dan tadarus, serta berkumpul (bersetubuh) dengan suami istri membuat dirinya capek akhirnya bangun kesiangan. 

Akibatnya bukan hanya terlewatkan waktu subuh dan sahur. Apakah puasanya sah jika tidak sahur dan masih dalam keadaan junub?

Dalam sebuah riwayat dari Aisyah istri Rasulullah bahwa Nabi pernah menjumpai waktu fajar (subuh) sedangkan dirinya dalam keadaan junub (selain bermimpi) maka Nabi langsung mandi dan berpuasa (HR Muslim).

Berdasarkan hadits ini, karena kedudukan hadistnya mutafaqun alaihi maka bagi seorang muslim yang bersetubuh (suami istri) sehingga kesiangan bangun maka wajib mandi junub untuk membersihkan hadas besar dan menunaikan ibadah salat subuh serta melanjutkan puasanya. 

Dan apabila bangunnya setelah waktu salat subuh berakhir tetap wajib mandi junub serta mengqadha (mengganti) salat subuh serta melanjutkan puasanya. Semoga bermanfaat dan berkah. (*)

Penulis: Ridho Panji Pradana
Editor: Hamdan Darsani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved