Breaking News:

Rizal: Sekolah Swasta di Pelosok Perlu Perhatian

Lebih lanjut dia menuturkan, sekolah itu hanya memiliki tiga ruang kelas untuk kegiatan belajar mengajar, dan tidak memiliki kantor untuk guru.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Wawan
Kondisi Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Swasta (Mis) Nur Maliki, Dusun Parit Rabu, Desa Kuala Pangkalan Keramat, Kecamatan Teluk Keramat, saat belum di renovasi dan belum di cat, Rabu 6 April 2021. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Agama Islam Sultan Muhammad Tsafiudin (IAIS) Sambas menggelar kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Dusun Parit Rabu, Desa Kuala Pangkalan Keramat, Kecamatan Teluk Keramat, Kabupaten Sambas, Rabu 7 April 2021.

Disampaikan oleh Koordinator penyelenggara kegiatan dari BEM IAIS Sambas, Rizal mengatakan selama kurang lebih dua Minggu mereka sudah melaksanakan PKM di wilayah tersebut.

Da kegiatan itu kata dia, mereka lakukan guna mengimplementasikan salah satu dari tiga Tri Dharma Perguruan Tinggi Mahasiswa.

Diungkapkan dia, kegiatan BEM mengabdi ini dilaksakan di Dusun Parit Rabu, dilakukan karena pertimbangan adanya salah satu lembaga pendidikan yang dianggap perlu untuk di berikan bantuan, yang tidak lain adalah Madrasah Ibtidaiyah Swasta (Mis) Nur Maliki.

Baca juga: BEM IAIS Sambas Gelar PKM di Dusun Parit Rabu

"Dengan bekerjasama dengan Polres Sambas, kami laksanakan PKM disini. Dengan sasaran kegiatan adalah merenovasi sedikit dari bangunan sekolah. Yaitu mengecor lantai dari pada MI Nur Maliki ini," ujarnya.

Kata Rizal, sebelumnya mereka sudah melakukan survei di enam Desa yang ada di Kabupaten Sambas. Dan memilih Desa Kuala Pangkalan Keramat sebagai lokasi PKM lantaran ada satu sekolah yang kondisinya sangat memprihatikan dan perlu untuk dibantu.

"Ada enam Desa yang kita survei. Dan kita pilih disini, dimana kegiatan ini hasil kerjasama dengan Polres Sambas. Pertimbangan kita karena ada satu sekolah yang tidak layak disini, sehingga kami rasa perlu kita bantu," katanya.

Lebih lanjut dia menuturkan, sekolah itu hanya memiliki tiga ruang kelas untuk kegiatan belajar mengajar, dan tidak memiliki kantor untuk guru.

"Muridnya ada kurang lebih 50 orang, dan hanya ada tiga ruang kelas lalu tidak ada kantor. Mereka juga belajar digabungkan, kelas satu dan dua di gabung dalam satu kelas, dan begitu seterusnya sampai kelas enam," ungkapnya.

"Jadi memang kita rasa masih belum layaklah untuk kegiatan belajar mengajar," tutupnya. (*)

Penulis: M Wawan Gunawan
Editor: Try Juliansyah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved