Breaking News:

Maria Goreti Ajak Pondok Pesantren Membumikan Spirit Pancasila

Setahun lebih kehadiran Senator Maria Goreti dari daerah pemilihan Kalimantan Barat ditunggu oleh komunitas Pondok Pesantren Harapan Kita Sejahtera.

Editor: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
Maria Goreti Ajak Pondok Pesantren Membumikan Spirit Pancasila
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Maria Goreti Ajak Pondok Pesantren Membumikan Spirit Pancasila. Pondok Pesantren ini terletak di Desa Sungai Rengas, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kuburaya, Provinsi Kalimantan Barat.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KUBURAYA - Setahun lebih kehadiran Senator Maria Goreti dari daerah pemilihan Kalimantan Barat ditunggu oleh komunitas Pondok Pesantren Harapan Kita Sejahtera.

Pondok Pesantren ini terletak di Desa Sungai Rengas, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kuburaya, Provinsi Kalimantan Barat.

Beberapa hari lalu, Maria Goreti hadir dalam acara sosialisasi empat pilar.

Peserta adalah para guru, karyawan yayasan, dan masyarakat sekitar pondok pesantren.

Pimpinan pondok pesantren, Suhardi menyambut baik dilaksanakannya sosialisasi empat pilar yang baru pertama kali di tempatnya.

“Sungguh merupakan kehormatan bagi kami sebagai komunitas akademis santri atas kerelaan Senator Kalimantan Barat, Maria Goreti dapat hadir dan berdiskusi bersama tentang landasan hidup berbangsa kita, Pancasila”, Kata Suhardi dalam sambutannya.

Suhardi juga mengatakan komitmennya untuk senantiasa menjaga Indonesia sebagai bangsa yang plural, multi etnis, multi budaya, multi bahasa, dan multi keyakinan.

Maria Goreti dalam dalam paparannya mengatakan bahwa fakta Indonesia adalah bangsa yang beragam atau multikultural.

“Multikultural berasal dari kata “multi” yang berarti lebih dari satu/ banyak dan “kultural” yang berarti budaya. Multikultural untuk menjelaskan pandangan seseorang mengenai ragam kehidupan di dunia ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap adanya keragaman, dan berbagai macam budaya yang ada dalam kehidupan masyarakat yang menyangkut nilai-nilai, sistem, kebiasaan, dan politik yang mereka anut.” Ujar Senator yang sudah memasuki periode keempat sebagai perwakilan Kalimantan Barat.

Komunitas pondok pesantren, yang notabene adalah orang-orang muda Indonesia yang hidup di tengah-tengah masyarakat multikultural menghadapi dua fenomena, yaitu segi kultural dan ekonomi yang terfragamentasi yang memiliki struktur kelembagaan yang berbeda satu sama lain.

Yang lainnya adalah masyarakat yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa dan budaya.

Di sinilah peran strategis pesantren dalam dunia Pendidikan Indonesia, yaitu orang muda yang sedang belajar untuk mempersiapkan diri terlibat pada kebaikan bersama.

Pertanyaannya adalah Bagaimana pendidikan dapat membantu mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi multikulturalisme?

“Kalau kita mencermati intensi Pendidikan dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa “Pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”. Kata Maria Goreti dihadapan para santri.

Maria Goreti juga menekankan pentingnya Pendidikan multikultur merupakan pendidikan nilai yang harus ditanamkan pada generasi muda agar memiliki persepsi dan sikap multikulturalistik.

Terbiasa hidup berdampingan dalam keragaman watak dan kultur, agama dan bahasa, menghormati hak setiap warga negara tanpa membedakan etnik mayoritas atau minoritas, dan dapat bersama-sama membangun kekuatan bangsa.

Alasan lain mengapa pendidikan multikultur diperlukan yaitu Perubahan kehidupan manusia Indonesia yang disebabkan oleh kemajuan ekonomi memperbesar jurang sosial antar kelompok mayarakat.

Adanya mobilitas penduduk yang cukup tinggi yang menyebabkan pertemuan secara intens antar kelompok dengan budaya yang berbeda.

Semakin terbukanya daerah-daerah pedesaan.

Berbagai konflik sosial-budaya yang muncul akhir-akhir ini memperlihatkan adanya kesalahpahaman budaya yang sangat besar antar-kelompok yang bertikai.

Menghapus mitos dan tafsiran sejarah yang tidak menguntungkan bagi persatuan bangsa.

“Karenanya, pengembangan pendekatan multikultural harus didasarkan pada tiga prinsip. Pertama, keragaman budaya menjadi dasar dalam menentukan cara pandang. Kedua, keragaman budaya dijadikan sebagai dasar dalam mengembangkan berbagai komponen kurikulum seperti tujuan, konten, proses, dan evaluasi. Ketiga, budaya di lingkungan pendidikan adalah sumber belajar dan objek studi yang harus dijadikan bagian dari kegiatan para pembelajar.” Kata Maria Goreti, yang merupakan anggota Badan Sosialisasi MPR RI. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved