Breaking News:

Ahli Epidemiologi Paparkan Analisis Kenapa Zonasi Kabupaten dan Kota di Kalbar Masih Oranye

Ada beberapa wilayah di Kalbar masih menunjukan peningkatan kasus penularan dan penyebaran Covid-19. Hal tersebut, diyakininya lantaran masih adanya p

AFP
Ilustrasi virus corona Covid-19 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Ahli Epidemiologi sekaligus ketua tim kajian ilmiah Covid-19 Poltekkes Kemenkes Pontianak dan Ketua Muhmamadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) Kalimantan Barat, Dr. Malik Saepudin SKM,M.Kes menyampaikan, bahwa secara umum laju peningkatan kasus covid-19 Kalimantan Barat telah melambat dan cenderung stagnan.

Namun, diakuinya memang ada beberapa wilayah di Kalbar masih menunjukan peningkatan kasus penularan dan penyebaran Covid-19. Hal tersebut, diyakininya lantaran masih adanya pelonggaran penerapan protokol kesehatan covid-19 di masyarakat. 

"Sebagaimana disampaikan para Ahli Epidemiologi atas rekomendasi WHO bahwa pelonggaran yang dilakukan pada kondisi positive rate diatas 5%, sangat berbahaya karena faktanya angka penularan atau trasmisi lokal di Indonesia masih cukup tinggi, rata-rata positive rate di Indonesia 18,5%," ungkapnya.

Baca juga: Satgas COVID 19 Kalbar Tetap Wajibkan Tes PCR Bagi Penumpang Sebagai Syarat Terbang ke Kalbar

Berdasarkan data terkini perkembangan zonasi resiko Covid-19 Kabupaten/Kota di wilayah Kalbar, ia sampaikan sedikitnya ada dua kemungkinan yang membuat terjadinya dinamika zona ke arah resiko sedang (oranye) sampai tinggi (merah) . 

Pertama, ia sampaikan Pemerintah Kalbar memang menggalakkan uji corona dengan lebih masif, sehingga semakin banyak tes, maka kasus yang semula tidak terdeteksi menjadi muncul ke permukaan.

"Ini adalah hal yang positif, sebab pasien positif corona kemudian bisa mendapatkan perawatan atau melakukan karantina agar penyebaran virus yang bermula dari pusat Kota, Ibukota Kabupaten/Kota informasi tidak menyebar ke pedesaan. Jadi peningkatkan jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit adalah akibat masifnya pemeriksaan," ujarnya.

Namun perlu menjadi catatan penting, lanjut Malik, bahwa kasus yang dirawat adalah kasus dengan gejala sedang sampai berat. Meski yang tanpa gejala atau tidak sakit.

Maka ia menyarankan memang sudah seharusnya sesuai SOP melakukan isolasi mandiri (isoman) dan tetap menjalankan Prokes secara ketat.

"Nah bisa jadi penularan terjadi berasal dari sumber suspek tanpa gejala yang tidak menjalankan prokes 5 M dengan baik," katanya.

Baca juga: Dinas Kesehatan Pontianak Rencanakan Vaksinasi Massal, Handanu: Kekurangan Tenaga Vaksinator

Kemudian, yang kedua, ia sampaikan, bahwa masyarakat Kalbar pada umumnya memang tidak disiplin dalam menjaga jarak dan menggunakan masker. 

Halaman
123
Penulis: Muhammad Rokib
Editor: Hamdan Darsani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved