Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Hadiri Misa Perdana Dua Imam Diosesan di Stasi Pagung Nahaya

Misa syukur sekaligus misa perdana dua imam diosesan Keuskupan Agung Pontianak (KAP) yang berlangsung di Desa Pagung Nahaya dihadiri 11 Imam.

Penulis: Stefanus Akim | Editor: Stefanus Akim
IST/Komsos KAP
SAMBUTAN - Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus memberikan kata sambutan saat misa perdana RD Fransiskus Peran di tempat kelahirannya di Stasi Pagung Nahaya, Kabupaten Landak. 

Citizen Reporter

Oleh: Samuel | Komisi Komsos Keuskupan Agung Pontianak (KAP)

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, NGABANG - Injil hari itu mengingatkan umat untuk hidup bahagia dengan hidup harus berusaha. "Pendidikan paling baik berawal dari keluarga," kata RD Victorius Reno dalam homilinya di Misa Perdana Stasi Pagung Nahaya, Kabupaten Landak di kampung kelahiran RD Fransiskus Peran.

Misa syukur sekaligus misa perdana dua imam diosesan Keuskupan Agung Pontianak (KAP) yang berlangsung di Desa Pagung Nahaya dihadiri 11 Imam dan dihadiri langsung juga oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus. Acara dimulai pukul 09.00 WIB, Rabu pagi, 17 Maret 2021 yang dibuka dengan tarian penyambutan.

Setiap imam yang hadir diselempangkan kain kuning yang bertulisan dua imam Diosesan Keuskupan Agung Pontianak yakni RD Fransiskus Peran dan RD Victorius Reno. Pemberian selempang juga diberikan untuk Uskup Agung Pontianak, Pastor Paroki Salib Suci Ngabang dan 10 imam lainnya.

RD Fransiskus Peran mengaku terharu dengan kehadiran Mgr Agustinus Agus yang merupakan Uskup Agung Pontianak bersedia datang ke kampung kelahirannya. “Ini adalah kedatangan uskup pertama kalinya di Pagung Nahaya,” tutur RD Peran dalam sambutannya.

Dalam homilinya RD Victorius Reno mengatakan bahwa Yesus adalah teladan yang taat serta sosok suci yang rendah hati. “Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, begitu juga dengan Pastor Peran yang ternyata sejak dulu ayahnya bercita-cita ingin menjadi seorang imam namun tak kesampaian. Tapi sekarang kita menyaksikan semangat yang diwariskan oleh sang ayah sehingga bisa menjadi seorang imam,” katanya.

SAMBUTAN - RD Victorius Reno menyampaikan homilinya di Misa Perdana RD FRansiskus Peran di Stasi Pagung Nahaya, Kabupaten Landak yang merupakan kampung kelahiran RD Fransiskus Peran.
SAMBUTAN - RD Victorius Reno menyampaikan homilinya di Misa Perdana RD FRansiskus Peran di Stasi Pagung Nahaya, Kabupaten Landak yang merupakan kampung kelahiran RD Fransiskus Peran. (IST/Komsos KAP)

Ketua panitia, Faskalis Alamin mengatakan bahwa kegiatan ini sudah disiapkan sedari satu bulan sebelumnya dengan dasar bahwa Pastor Peran berkewajiban misa di kampung kelahirannya. Kedua, umat kampung bangga dan sekalian bersyukur kepada Allah atas rahmat Tahbisan imamat RD Peran dan RD Reno.

Kemudian ia juga menambahkan misa ini merupakan sebuah kegiatan yang harapannya menggugah iman umat dan semoga dengan kehadiran misa perdana ini bisa memotivasi orang muda di Pagung Nahaya untuk menjawab panggilan menjadi kaum religius.

Sebagai seorang ayah dan sekaligus ketua umat, Sodiram mengaku bangga dengan prestasi RD Peran karena berhasil menyelesaikan studi untuk siap melayani di panggilan imamatnya. Sebagai seorang ayah, Sodiram mendoakan selalu anaknya menjadi pelayan yang setia baik mulai dari ia ditahbiskan sampai akhir hayatnya. “Sekali pastor, tetap pastor sampai akhir,” ucapnya.

Kesempatan yang berbahagia itu, RD Peran mengucapkan syukur kepada Allah karena atas kebaikan dan rahmat suci dari Allah ia bisa menyelesaikan dan boleh memulai pelayanannya untuk umat Katolik. RD Peran berharap kepada umat kampung halamannya untuk mendoakan panggilan mereka supaya tetap setia dan teguh dalam jalan panggilan.

RD Bagara Darmawan OFM Cap turut bangga atas prestasi yang dicapai oleh putra daerah paroki yang menjadi imam yakni RD Peran, karena sudah berani menerima dan mendengarkan panggilan. Sehingga sekarang ada Imam Diosesan dari kampung Pagung Nahaya Paroki Salib Suci Ngabang.

Pastor Bagara mendoakan agar mereka setia dalam panggilan. “Maklum, seorang imam juga manusia oleh karena itu mereka juga punya kelemahan,” tuturnya pastor yang baru saja menyelesaikan doktoralnya di Filipina tersebut.

Ia juga menambahkan dengan kehadiran imam baru ini, semoga rahmat sukacita dan motivasi orang muda semakin banyak menjadi imam.

USKUP Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus bersama 11 imam atau pastor saat misa perdana RD Fransiskus Peran dan RD Victorius Reno di Perdana Stasi Pagung Nahaya, Kabupaten Landak yang merupakan tempat kelahiran RD Fransiskus Peran.
USKUP Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus bersama 11 imam atau pastor saat misa perdana RD Fransiskus Peran dan RD Victorius Reno di Perdana Stasi Pagung Nahaya, Kabupaten Landak yang merupakan tempat kelahiran RD Fransiskus Peran. (IST/Komsos KAP)

Kerjasama Tarekat
Sementara itu dalam sambutan Mgr Agustinus Agus menerangkan bahwa setiap imam projo yang ditahbiskan adalah milik keuskupan. “Jadi mereka imam projo adalah anak-anak saya. Untuk itu sebagai Bapak yang baik, saya juga mau memberikan persembahan dan kehadiran yang terbaik untuk dua imam ini,” katanya.

Sebagai Gembala Umat, Uskup Agung Pontianak mengatakan bahwa Gereja tidak bisa bergerak sendiri, maka butuh kerjasama antara tarekat dan imam keuskupan. Sedangkan di lain sisi keuskupan juga membutuhkan imam projo (diosesan) yang membantu karya keuskupan itu sendiri.

“Maka beda dengan imam tarekat yang sewaktu-waktu bisa dialih tugaskan oleh pemimpin masing-masing tarekat. Tapi bagaimanapun, imam projo juga membutuhkan tarekat-tarekat dalam mengembangkan misi gereja katolik,” tuturnya.

Mgr Agustinus Agus menambahkan bahwa misi Pendidikan yang Keuskupan Agung Pontianak kerjakan di STKIP Pamane Talino Ngabang bertujuan untuk memulai misi pendidikan berkualitas dari pinggir. Untuk itu sebagai bentuk kerjasama lembaga Pendidikan Keuskupan Agung Pontianak menjalin kerjasama dengan Pemerintah setempat dalam menyediakan 350 beasiswa selama 4 tahun- di tahun 2021 ini.

“Bagaimanapun, kesadaran pendidikan adalah hal yang paling penting untuk membangun sebuah daerah. Termasuk mereka yang mau menjadi imam, haruslah melalui jenjang pendidikan,” katanya.

Usai misa perdana di Stasi St Yosef Pagong Nahaya, acara dilanjutkan dengan foto dan makan siang bersama, yang dipandu sesuai dengan penerapan protokol kesehatan, berhubung dengan pandemi covid 19.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved