CHINA Pamerkan Drone Tempur Mungil Terbaru, Tak Sampai 1 Ons | Rival Drone Amerika Black Hornet Nano

Terungkapnya sosok drone tempur mungil milik militer China itu setelah negara berjuluk Negeri Tirai Bambu itu turut meramaikan pameran senjata IDEX 20

Editor: Ishak
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA/ REUTERS/Mike Blake VIA KONTAN.CO.ID
Satu di antra prajurit Marinir AS memamerkan Drone tempur berukuran mini milik militer Amerika, Black Hornet Nano. 

Black Hornet Nano dibuat oleh Prox Dynamics Norwegia dan digunakan militer AS sejak 2012.

Meskipun begitu, Fengniao dapat mengirimkan gambar dari jarak 400 meter lebih jauh.

Keduanya memiliki waktu operasi yang kurang lebih sama, yakni sekitar 25 menit.

Keunggulan lain dari Fengniao adalah baterainya bisa diganti setelah penerbangan usai, tidak seperti Black Hornet yang harus menunggu untuk diisi ulang.

Fengniao juga memiliki kombinasi kamera yang memungkinkan gambar panorama diambil pada ketinggian yang relatif tinggi.

Baca juga: CHINA Vs Amerika Serikat di Ketegangan Laut China Selatan, Tiongkok Diminta Tak Gunakan Senjata

Juga, ada dukungan kamera termal untuk penglihatan malam hari.

Fitur unggulan lain yang melekat pada Fengniao termasuk sensor laser di empat sisi untuk membantunya mendeteksi dan menghindari rintangan.

Laser tersebut juga mendukung tautan data jaringan, yang berarti dapat digunakan sebagai bagian dari armada hingga 16 drone dalam sebuah misi.

Dengan sistem itu, drone Fengniao dapat dikendalikan melalui smartphone dengan aplikasi khusus.

Ini juga memberikan keunggulan signifikan dari Black Hornet yang cenderung lebih kuno.

Huaqing Innovation sebagai pengembang mengatakan drone mikro ini dapat digunakan di berbagai bidang, seperti pengawasan dan patroli keamanan publik, serta memeriksa tempat-tempat berbahaya semacam gudang kimia dan jaringan pipa yang sulit dijangkau.

Baca juga: CHINA Bohongi Dunia Global Soal Covid-19, WHO Ungkap Dugaan Asal Usul Virus Corona di Wuhan Tiongkok

Setelah hadir di IDEX pekan lalu, Huaqing mengatakan, Fengniao telah menarik minat dari negara-negara Timur Tengah.

Sejauh ini, Timur Tengah memang menjadi pasar utama untuk produk kendaraan udara tak berawak (UAV) buatan China.

Drone pengintai serta drone serbu berukuran besar, seperti seri Caihong dan Wing Loong, banyak digunakan di wilayah tersebut.

Halaman
123
Sumber: Kontan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved