Breaking News:

Polres Ketapang Kembali Amankan Pelaku PETI

Primas melanjutkan, keenam pelaku merupakan warga yang berasal dari Kabupaten Landak yang masing-masing berinisial RO (21), YO (40), RI (40), AB (52),

TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Barang bukti yang diamankan jajaran Polres Ketapang pada penertiban PETI di lokasi tambang Indotani. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Jajaran Polres Ketapang kembali melaksanakan kegiatan penertiban Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di lokasi tambang Indotani Jalan pelang - tumbang Titi, Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Sabtu 27 Februari 2021

Dari penertiban tersebut, polisi mengamankan enam pelaku saat sedang melakukan aktivitas penambangan di lokasi tambang.

"Tim gabungan Satuan Reskrim bersama anggota Polsek Matan Hilir Selatan bergerak menuju lokasi tambang. Sesampainya di lokasi, tim menemukan aktivitas penambangan illegal yang dilakukan oleh enam orang oknum warga," kata Kasat Reskrim Polres Ketapang, AKP Primastya, Senin 1 Maret 2021.

Primas melanjutkan, keenam pelaku merupakan warga yang berasal dari Kabupaten Landak yang masing-masing berinisial RO (21), YO (40), RI (40), AB (52), HE (19) dan SO (30).

Baca juga: Wartawan Kunjungi Lokasi Pra TMMD Ke-110 Kodim 1206/Psb, Dandim 1203/Ktp: Peran Awak Media Penting

Dari tangan para pelaku, petugas berhasil mengamankan sejumlah barang bukti yang digunakan dalam kegiatan pertambangan diantaranya tiga karpet, empat selang, dua cangkul, satu dodos, satu buah pump, satu mesin Dompeng, satu jerigen solar berisi 20 liter dan satu jerigen oli berisi lima liter.

Barang bukti yang diamankan jajaran Polres Ketapang pada penertiban PETI di lokasi tambang Indotani.
Barang bukti yang diamankan jajaran Polres Ketapang pada penertiban PETI di lokasi tambang Indotani. (TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA)

"Saat ini keenam pelaku dan barang bukti sudah di amankan di Mapolres Ketapang guna dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan dasar Laporan Polisi Nomor : LP/ 72 -A/II/Res.5.5/2021/ResKtp/Sek MHS, tanggal 26 Februari 2021," jelas Primas.

lebih lanjut, kepada para pelaku diancam dengan pasal 158 undang-undang nomor 3 tahun 2020 tentang perubahan atas undang-undang nomor 4 tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batubara.

"Di mana setiap orang yang diduga melakukan tindak pidana penambangan tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam pasal 35, dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp 100 miliar," pungkasnya. (*)

Penulis: Nur Imam Satria
Editor: Rivaldi Ade Musliadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved