Breaking News:

KMKS Konsisten Kawal Pembentukan KPAID di Sambas

Pada kesempatan itu, disampaikan oleh Ketua Umum KMKS, Muhammad Rifa'ie tujuan dilaksanakannya kegiatan ini adalah guna mendorong secepatnya pembentuk

TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Penyampaian paparan terkait kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak oleh KPPAD Kalbar dan Kasat Reskrim Polres Sambas, Iptu Siko serta, tanggapan DPRD Kabupaten Sambas, Anwari, M.Ap. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - Komite Mahasiswa Kabupaten Sambas (KMKS) melaksanakan Dialog Interaktif dengan mengusung tema "Mengkaji Pentingnya Pembentukan KPAID di Kabupaten Sambas". Yang mereka laksanakan di Balairungsari, Pendopo Bupati Sambas. 

Pada kesempatan itu, disampaikan oleh Ketua Umum KMKS, Muhammad Rifa'ie tujuan dilaksanakannya kegiatan ini adalah guna mendorong secepatnya pembentukkan KPAID di Kabupaten Sambas.

Hal ini kata dia, lantaran melihat kondisi Sambas yang sekarang berada pada tingkat kedua, tentang tingginya kasus kekerasan terhadap anak.

Baca juga: Dandim Sambas Jelaskan Program TMMD

Oleh karenanya, mereka di KMKS ungkap Rifa'ie merasa miris dengan kondisi tersebut, dan mengaku bahwa kondisi itu perlu di tanggapi serius baik oleh masyarakat dan juga Pemerintah Daerah.

"Miris sekali ketika Sambas yang konon katanya serambi Mekah ternyata menduduki posisi kedua setelah Kota Pontianak di Provinsi Kalbar," ujarnya, Jumat 26 Februari 2021.

"Bahkan kasus-kasus yang terjadi adalah kekerasan seksual yang mana dilakukan oleh keluarga korban itu sendiri atau istilahnya incest," ungkap Rifa'i.

Kata dia, di sepanjang 2020 saja terjadi 63 kasus kekerasan terhadap anak di Kabupaten Sambas yang mana kasus yang paling dominan adalah kekerasan seksual.

Karenanya kata Rifa'ie, mahasiswa harus memainkan perannya untuk mendesak terbentuknya Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAID) Kabupaten Sambas.

"Maka kita selaku mahasiswa sebagai agent of change dan agent of control tentunya sangat miris dan mendesak Pemerintah Daerah Kabupaten Sambas agar segera membentuk KPAID," tuturnya.

"Dengan harapan bisa menekan angka kekerasan terhadap anak dan juga bisa memberikan shock terapi kepada para korban," tutupnya. (*)

Penulis: M Wawan Gunawan
Editor: Hamdan Darsani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved