Breaking News:

Belajar Tatap Muka Dimulai, Ahli Epidemiologi Ingatkan Perlu Sangat Berhati-Hati

masih ada kekhawatiran dengan dibukanya pembelajaran tatap muka di sekolah masih berisiko terpapar Covid-19 serta menimbulkan persoalan baru

NET
Ilustrasi 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Sejumlah sekolah yang berada pada zona kuning di Kalimantan Barat direncanakan akan melakukan pembelajaran secara tatap muka di tengah pandemi virus corona yaitu dimulai pada 22 Februari 2021.

Namun tetap dengan penerapan protokol kesehatan covid-19, sesuai dengan Surat Keputusan Bersama SKB 4 Menteri.

Menanggapi hal tersebut, Ahli Epidemiologi sekaligus ketua tim kajian ilmiah Covid-19 Poltekkes Kemenkes Pontianak dan Ketua Muhmamadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) Kalbar, Dr. Malik Saepudin SKM,M.Kes mengatakan, memang sudah disampaikan dalam SKB 4 Menteri itu, menyatakan bahwa pembelajaran tatap muka harus dimulai karena sistem jarak jauh dengan daring disebut tidak ideal dan memiliki banyak kelemahan.

Ia menilai, bahwa keputusan tersebut disambut baik oleh Pemprov maupun Pemkot atau Pemkab dan pihak sekolah yang sudah menyiapkan pelaksanaannya.

"Termasuk dalam penerapan protokol kesehatan, dalam pembelajaran tatap muka. Semoga dapat dilakukan secara cermat pada era new Normal (adaptasi kebiasaan Baru)," ujarnya.

Baca juga: Berikut Langkah Pemulihan dan Antisipasi Terhadap Long Covid Menurut Ahli Epidemiologi

Kendati demikian, Malik Saepudin mengatakan, masih ada kekhawatiran dengan dibukanya pembelajaran tatap muka di sekolah masih berisiko terpapar Covid-19, serta menimbulkan persoalan baru yaitu meningkatkan kasus dan kematian Covid-19 pada usia sekolah.

Hal tersebut dikatakakannya, lantaran data kesakitan Covid-19 pada usia remaja di Indonesia memang rendah, namun data tersebut belum menggambarkan masalah yang sesungguhnya karena cakupan tes kita masih rendah apalagi pada anak.

"Hal ini terkait dengan masih tinggi positivity rate atau tingkat penularan virus corona di Indonesia berkisar 16,9 persen masih jauh dari standar WHO yang menetapkan 5 persen," jelasnya.

"Sehingga, WHO, belum memberikan rekomendasi pelonggaran kegiatan di suatu negara bisa jika posivity rate masih di atas persen. Pada saat ini WHO menyebutkan bahwa proporsi orang berusia muda yang menderita Covid-19 meningkat 3 kali lipat. Sementara itu, di Inggris, klaster kasus di sekolah meningkat dalam dua minggu terakhir. Adapun kenaikannya dari 4,5 persen menjadi 15 persen," tambah Malik Saepudin.

Malik menerangkan, bahwa kejadian yang di luar negeri menjadi suatu pembelajaran bagi kita semua. Menurutnya belajar dari pengalaman yang telah terjadi kluster Covid-19 di sekolah pada negara yang mengabaikan indikator pelonggaran sebagaimana di sarankan WHO seperti Amerika Serikat.

Halaman
123
Penulis: Muhammad Rokib
Editor: Try Juliansyah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved