Breaking News:

Peminat Kajian Sejarah dan Budaya Kalbar sebut RSJ Sungai Bangkong Pontianak Ada Sejak Zaman Belanda

RSJ Daerah Sungai Bangkong Pontianak saat ini terletak di Jalan Alianyang No.1, Sungai Bangkong, Kecamatan Pontianak Kota, Kota Pontianak, Kalimantan

TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Bangunan RSJ Daerah Sungai Bangkong di Kota Pontianak yang telah berdiri sejak tahun 1939 yang akan diusulkan sebagai Cagar Budaya. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Daerah Sungai Bangkong Kota Pontianak akan diusulkan sebagai Cagar Budaya Provinsi Kalimantan Barat. 

RSJ Daerah Sungai Bangkong Pontianak saat ini terletak di Jalan Alianyang No.1, Sungai Bangkong, Kecamatan Pontianak Kota, Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Menanggapi rencana tersebut, Peminat Kajian Sejarah dan Budaya Kalbar, Syafaruddin Usman mengatakan Rumah Sakit Jiwa Daerah Sungai Bangkong Pontianak sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.

Awal berdirinya RSJ Sungai Bangkong pada tahun 1900 karena banyak masyarakat Kalbar yang mengalami  depresi berat. Maka dari itu dibangunlah RSJ Sungai Bangkong untuk menampung masyarakat yang mempunyai keterbelakangan mental. 

Baca juga: Berdiri Sejak 1939, RSJ Sungai Bangkong Akan Diusulkan Sebagai Cagar Budaya Provinsi Kalbar

Rumah Sakit ini awalnya dibangun di kawasan Sungai Bangkong yang waktu itu lokasinya berada di luar Tanah Seribu, atau di luar Kota Pontianak.

“Saat itu rumah sakit Sungai Bangkong tersebut sebagai bangunan terpencil, dipagari hutan rimbun dan rawa-rawa.Termasuk dalam wilayah Sekip Darat dan dikenal sebagai Kampung Sungai Bangkong,”ujarnya kepada awak media, Kamis 18 Februari 2021.

Beberapa dari tenaga medisnya pada jaman dulu berasal dari Batavia dan Surabaya. Mereka adalah alumni STOVIA dan NIAS yang merupakan sekolah kedokteran yang ada di Indonesia ketika itu.

Hingga masa pendudukan Jepang, dokter pribumi yang bertugas di RSJ Sungai Bangkong adalah dr. RM Ismael, yang dalam peristiwa pembantaian sadis Jepang tahun 1944 ikut jadi korban kebengisan militer Jepang.

“Sayangnya nama dr Ismael tidak diabadikan untuk nama rumah sakit ini sebagaimana nama dr Agusdjam di Ketapang, dr Rubini di Mempawah atau dr Soedarso di Pontianak dan lain-lainnya,” ujarnya. 

Ia menambahkan bahwa bangunan fisik Rumah Sakit Jiwa tersebut pada  jaman kolonial dulu dikenal sebagai Roemah Sakit Gila yang telah dibangun sekitar tahun 1911 lebih dulu dari bangunan kantor Pos dan Telegraf serta Sekolah Rakjat di Jalan Tamar.

Saat dr. Soedarso kemudian dr. RM Notosoenario sebagai Kepala Inspeksi Kesehatan Keresidenan dan kemudian Propinsi KalBar tahun 1958-1960, dimulai renovasi bangunan. 

“Sejalan juga semakin mekarnya daerah Kota Pontianak sehingga keberadaan rumah sakit ini pun berada di dalam kota seperti sekarang ini,” pungkasnya. (*)

Penulis: Anggita Putri
Editor: Hamdan Darsani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved