Breaking News:

Petani Ancam Tutup Pabrik Kelapa Sawit PT ASM, Manajemen Perusahaan Bingung Cairkan Dana SHK

Rencana penutupan pabrik itu pun akan dilakukan sesegera mungkin oleh petani apabila polemik berkepanjangan dua pengurus koperasi ASM belum juga berak

TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Warga yang tergabung sebagai petani plasma koperasi Agro Seriam Mandiri saat mendatangi Mapolsek Kendawangan dan mengancam akan menutup pabrik kelapa sawit PT ASM karena tak kunjung mencairkan dana SHK mereka. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Sejumlah petani yang tergabung dalam Koperasi Agro Seriam Mandiri (ASM) yang bermitra dengan perusahaan sawit PT Agro Sejahtera Manunggal (ASM) (BGA Group) di Desa Seriam Kecamatan Kendawangan mengancam akan menutup Pabrik Kelapa Sawit PT ASM, Rabu 17 Februari 2021.

Sebelumnya sejumlah petani tersebut sempat mendatangi Mapolsek Kendawangan pada Minggu 14 Februari 2021.

Kedatangan warga ke Mapolsek tersebut guna meminta aparat untuk membantu memfasilitasi pertemuan dengan pihak perusahaan dan dengan dua pengurus koperasi yang berseteru agar hak mereka yakni dana Sisa Hasil Kebun (SHK) selama hampir setahun untuk segera dibayarkan ke petani.

Rencana penutupan pabrik itu pun akan dilakukan sesegera mungkin oleh petani apabila polemik berkepanjangan dua pengurus koperasi ASM belum juga berakhir.

Baca juga: Raih Nilai Sangat Baik Dalam Pelayanan Publik, Kapolres Ketapang Terus Tingkatkan Pelayanan

Pasalnya, akibat polemik dua kepengurusan koperasi tersebu berimbas pada pendapatan petani.

Menurut warga Dusun Kertaraja Desa Kendawangan Kiri, Saparudin yang didampingi Pemuka Masyarakat dan Demung Adat Desa Seriam, Ningam dan Atong mengatakan bahwa polemik berawal dari kepengurusan koperasi ASM yang lama di masa kepemimpinan Ulis mengesahkan sejumlah anggota petani plasma yang lebih dari jumlah anggota yang sudah ada dalam SK Bupati berjumlah 660 petani.

Sehingga petani yang sudah memiliki SK tersebut merasa keberatan ketika SHK dibagikan kepada yang tidak memiliki SK.

"Jumlahnya mencapai ribuan bahkan SK tersebut dibagi tiga, ada SK A, B dan C dengan pembagian yang berbeda. Ini awal timbul karancuan sehingga kami para petani plasma yang sudah mengantongi SK Bupati menggelar rapat luar biasa untuk mengganti pengurus yang lama," kata Saparudin, Rabu 17 Februari 2021.

Baca juga: Satu Hektar Lebih Lahan Gambut di Desa Sungai Awan Kanan Ketapang Terbakar

Lanjut Saparudin, alhasil Zulkarnain terpilih menjadi ketua untuk memperjuangkan nasib petani plasma untuk memperoleh haknya.

Setelah memperoleh legalitas dan memenangkan kepengurusan Zulkarnain di tingkat Pengadilan Negeri Ketapang, pihak pengurus koperasi lama yaitu Ulis naik banding sehingga berakibat dua periode SHK yaitu periode 20 dan 21 milik petani di pending belum bisa dibagikan karena masih menunggu hasil kesepakatan dua kepemimpinan pengurus koperasi.

Halaman
12
Penulis: Nur Imam Satria
Editor: Rivaldi Ade Musliadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved