Breaking News:

Resiko Kematian Covid-19 Pada Lansia Tertinggi, Berikut Saran Dari Ahli Epidemiologi

"Sedangkan angka kematian ini didominasi oleh usia lebih dari 59 tahun yaitu sebanyak 47,1 persen," ujarnya.

Penulis: Muhammad Rokib | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ Muhammad Rokib
Tim kajian Ilmiah covid-19 Poltekkes Pontianak Dr. Malik Saepudin, SKM, M. Kes 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Ahli Epidemiologi sekaligus ketua tim kajian ilmiah Covid-19 Poltekkes Kemenkes Pontianak dan Ketua Muhmamadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) Kalbar, Dr. Malik Saepudin SKM,M.Kes. menyampaikan, bahwa perkembangan kasus kematian akibat Covid-19 pada minggu pertama Februari 2021 ini semakin memburuk.

Sebagaimana, dikatakannya dicatat oleh Gugus Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito (03/02/21), mencatat kasus kematian tercatat meningkat tajam, yakni naik 25,3 persen dari minggu sebelumnya.

Sementara angka kesembuhan dapat ditingkatkan menjadi lebih mudah, karena berdasarkan data 77,5 persen kasus positif dan 78,6 persen kesembuhan berasal dari usia 19-59 tahun.

"Sedangkan angka kematian ini didominasi oleh usia lebih dari 59 tahun yaitu sebanyak 47,1 persen," ujarnya.

Baca juga: Pendistribusian Vaksin Covid-19 Tahap Kedua Diperkirakan Maret, Lansia Akan Jalani Vakasinasi

Mengapa manula banyak terpapar dan meninggal, sementara secara epidemiologis, Malik Saepudin menjelaskan, bahwa para lansia adalah kecil kemungkinan tertula atau terpapar covid-19, lantaran memiliki tingkat mobilitas yang rendah.

Untuk itu, ia mengatakan hal ini bisa dijadikan sebagai alarm bahwa penularan telah terjadi pada tingkat keluarga oleh orang yang mobiltasnya tinggi dan abai terhadap protokol kesehatan, sebagai orang tanpa gejala (OTG) dan sumber penular pada para lansia.

Untuk itu, ia mengingatkan kepada semua pihak agar tidak kendor mempatuhi protokol kesehatan 3 M.

Hal itu menurutnya, agar tidak sebagai sumber penular bagi keluarganya.

"Saatnya pemerintah melakukan evaluasi terkait dengan fakta yaitu peningkatan kasus kematian pada lansia, saatnya menjadikan peroritas utama dalam upaya menurunkan angka kematian lansia akibat covid-19, termasuk perioritas pemberian vaksin juga bisa bergesar pada para lansia untuk memberikan perlindungan imunitas terhadap penularan covid-19, serta mencegah keparahan kesakitan yang berkibat kematian pada lansia," jelasnya.

"Bukan hanya karena satu alasan saja, bahwa para ahli tidak mengikut sertakan lansia dalam uji klinis ke-3 di Bandung, kemudian diputuskan tidak menjadi perioitas dalam pemberian vaksin Sinovak. Sementara hasil uji klinis tersebut telah dinyatakan aman dan halal. Tanpa masuk dalam uji klinis, tidak diketahui secara pasti reaksi atau efek samping vaksin terhadap lansia," lanjutnya.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved