214 Orang Penyandang Thalasemia di Kalbar dapat Bantuan Obat dari Pemprov Kalbar

Ketua Perhimpunan Orangtua Penderita Thalasemia Indonesia (POPTI) Kalbar, Windi Prihastari mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Kalbar atas bantua

Penulis: Anggita Putri | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Pemerintah Provinsi Kalbar melalui Diskes Provinsi Kalbar menyerahkan bantuan berupa beberapa jenis obat yang diserahkan oleh Kadikses Provinsi Harisson kepada Ketua POPTI Kalbar Windy Prihastari di RSUD Soedarso kemarin. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pemerintah Provinsi Kalbar melalui Diskes Provinsi Kalbar menyerahkan bantuan berupa beberapa jenis obat yang diserahkan oleh Kadikses Provinsi Harisson kepada Ketua POPTI Kalbar Windy Prihastari di RSUD Soedarso kemarin.

Ketua Perhimpunan Orangtua Penderita Thalasemia Indonesia (POPTI) Kalbar, Windi Prihastari mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Kalbar atas bantuan terhadap anak Thalasemia di Kalbar yang saat ini berjumlah 214 orang. 

Windy menjelaskan bahwa ada beberapa obat yang harus selalu dikonsumsi oleh penyandang Thalasemia, salah satunya harus rutin transfusi darah setiap bulan bahkan seumur hidup. 

Baca juga: POPTI Kalbar Terus Berjuang Cegah Thalasemia Makin Meluas

“Akibat dari rutin transfusi yang menyebabkan  penumpukan zat besi di dalam organ tubuhnya yang bisa mengakibatkan implikasi penyakit lain.

Maka dari itu mereka harus mengkonsumsi klasi besi rutin,” ujar Windy, Selasa 16 Februari 2021.

Lebih baik lagi apabila obat tersebut dikombinasi lagi saat konsumsi klasi besi untuk membuang zat besi ditubuh mereka karena sering transfusi. 

“Selain oral lebih baik kombinasi obat klasi besi injeksi. Dengan adanya bantuan ini akan lebih memaksimalkan perawatan penyandang Thalasemia,” ucapnya.

Ia mengatakan maka dari itu harus rutin mengkonsumsi obat tidak anya transfusi darah saja. 

“Kalau transfusi darah kita menggunkan pola high transfusi, ketikahemoglobinnya tidak terlalu rendah antara 9-10. Apalagi yang masih kecil agar tumbuh normal seperti anak lainnya,” ujarnya.

Windy mengatakan bahwa penyandang Thalasemia usianya bervariasi mulai daei usia bayi bahkan sampai ada yang sudah menikah. 

“Saya selalu bilang anak Thalasemia ini kalau dirawat dengan baik, dan cepat didiagnosa dia akan tumbuh seperti anak normal lainnya. Kita harus disiplin ketika transfusi harus berapa kali dalam sebulan juga harus sesuai,” ujarnya.

Namun dikatakannya kesulitan yan dialami okeh para penyandang Thalasemia dan orang tuanya adalah ketika transfusi harus dilakukan di Pontianak. Maka perlu mengeluarkan biaya transportasi pribadi. Sedangkan untuk obat sudah dicover oleh BPJS. 

“Jadi untuk transportasinya harus bayar sendiri walaupun pengobatan sudah ditanggung BPJS, tapi tidak semua para penyandang Thalasemia adalah orang yang mampu,” pungkasnya. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved