Breaking News:

Cerita Kepala Kantor Kemenang Sintang, Didatangi Orangtua Siswa Minta Pembelajaran Tatap Muka Dibuka

Saking inginnya anaknya kembali ke sekolah, orangtua murid sampai-sampai mendatangi Kantor Kementrian Agama Kabupaten Sintang, untuk meminta agar seko

TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten Sintang, Anuar Akhmad 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID,SINTANG - Keinginan orangtua untuk anaknya kembali belajar tatap muka di sekolah nampaknya sudah tak terbendung. Setelah sekian bulan belajar dari rumah, melaui daring maupun luring.

Saking inginnya anaknya kembali ke sekolah, orangtua murid sampai-sampai mendatangi Kantor Kementrian Agama Kabupaten Sintang, untuk meminta agar sekolah tatap muka kembali dibuka.

Kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten Sintang, Anuar Akhmad mengungkapkan keinginan orangtua agar sekolah yang berada di bawah naungan Kemenag dibuka kembali untuk belajar tatap muka di kelas sudah banyak diterima.

Cerita Kepala Kantor Kemenang Sintang, Didatangi Orangtua Siswa Minta Sekolah Tatap Muka DibukaBahkan ada yang sampai datang ke kantor Kemenang.

Baca juga: Alokasi Vaksin Sinovac untuk Nakes di Sintang Ditunda Sampai Februari

“Keinginan dari Madarasah, pondok pesantren, soal sekolah tatap muka itu memang sudah berkali-kali disampaikan kepada kami. Sampai orangtua bahkan ke kantor, minta belajar tatap muka kembali,” kata Anuar kepada Bupati Sintang, Jarot Winarno saat rapat Satgas Penanganan Covid-19 di pendopo bupati, Rabu 13 Januari 2021.

Akan tetapi, Anuar Akhmad tidak bisa berbuat banyak. Terlebih, surat dari Kakanwil Kemenang Kalbar menyebutkan, bahwa proses belajar mengajar tatap muka mengacu pada putusan pemerintah daerah maupun gugus tugas.

“Selama bapak (bupati) belum mengizinkan, kami belum melaksanakannya (sekolah tatap muka),” katanya.

Menurut Anuar Akhmad, keinginan para orangtua untuk anaknya dapat kembali belajar tatap muka di sekolah boleh saja, namun resiko pelaksanaanya harus diantisipasi sama-sama.

“Jangan sampai pelaksanaan belajar tatap muka menjadi kluster baru di kabupaten sintang," ujarnya.

"Kalau Pondok pesantren memang ada beberapa yang anaknya tidak pulang, artinya anaknya tetap berada di pondok, tidak berinteraksi dengan masyarakat luar, itu tetap belajar di pondok, tetapi tidak keluar masuk,” ungkapnya. (*)

Penulis: Agus Pujianto
Editor: Hamdan Darsani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved