Pengamat Politik Untan Angkat Suara Atas Terpilihnya Mulyadi Tawik Kembali Nahkodai PKB

Pengamat Politik Untan, Dr. Jumadi, M.Si angkat suara terkait dengan terpilihnya kembali Mulyadi Tawik menahkodai PKB untuk periode 2021-2026.

Penulis: Ridho Panji Pradana | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Pengamat Politik Untan, Dr. Jumadi, M.Si . IST 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pengamat Politik Untan, Dr. Jumadi, M.Si angkat suara terkait dengan terpilihnya kembali Mulyadi Tawik menahkodai PKB untuk periode 2021-2026.

Menurutnya, diperiode ketiga ini mesti jadi ajang pembuktian Mulyadi Tawik kepada DPP.

Berikut penuturannya.

Hampir sebagian besar sekarang ini mekanisme untuk menentukan kepemimpinan parpol di daerah itu agak cenderung sentralistik, hampir semua partai.

Tentu partai ditingkat pusat punya pertimbangan-pertimbangan tersendiri barang kali, sehingga tetap menduetkan Mulyadi Tawik dengan Habib Abdullah Ridho Bin Yahya.

Baca juga: Mulyadi Tawik Kembali Dipercaya Pimpin PKB Kalbar, Ini Stuktur Pengurus DPW PKB Kalbar 2021-2026

Mulyadi Tawik sebagai Ketua Dewan Tanfidz dan Habib Abdullah Ridho Bin Yahya sebagai Ketua Dewan Syuro.

Memang kalau kita lihat dari aspek perolehan kursi di DPRD Provinsi ada peningkatan, walaupun memang barang kali orang juga terkejut figur Mulyadi Tawik dikalahkan caleg lain di dapil yang sama, padahal dia pimpinan parpol dan juga petahana saat itu.

Tapi tentu inikan soal pertimbangan lain, dalam aspek managerial mungkin, leadhership yang diperlukan PKB kedepan. Barang kali itu yang membuat DPP masih memberikan dukungan ke Mulyadi Tawik.

Memang idealnya dalam organisasi ada proses regenerasi, tapi itu kembali lagi kepada soal mekanisme yang dibuat parpol, kalau sudah menjadi keputusan kesepakatan tentu semua pihak harus menerima walaupun proses regenerasi itu penting.

Proses regenerasi itu tidak mesti tua muda, tetapi ada proses penyegaran.

Mulyadi Tawik dengan kepengurusan yang baru tentu pertaruhannya pilkada serentak akan datang dan pileg 2024.

Kita tau kenaikan perolehan PKB itu salah satu faktor utamanya efek ekor jas pilpres. Biar bagaimanapun KH Ma'ruf Amin tidak bisa dilepaskan dari PKB.

Untuk pemilu kedepan, dinamika politikkan terus berjalan, masih terlalu dini untuk kita berspekulasi. Paling tidak yang terpenting mereka tidak boleh terlena.

Apalagi sudah tiga periode, pertaruhannya adalah soal kredibilitas Mulyadi Tawik, yang terpenting konsolidasi.

Basis PKB itu sangat mudah di baca, tumpuannya PKB inikan dikomoditas yang mayoritas nahyidin, bagaimana PKB keluar dari itu walaupun tentu itu tetap menjadi modal utama yang tidak boleh ditinggalkan. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved