Pemkab Sanggau Mulai Berlakukan Absensi Aplikasi e-PHYO

Absensi dengan pemindaian wajah, dimulai pada Senin 4 Januari 2021. Kendati masih dalam tahap percobaan, Namun berdampak pada tingkat kehadiran ASN di

TRIBUNPONTIANAK/HENDRI CHORNELIUS
Sekretaris Daerah Kabupaten Sanggau, Kukuh Triyatmaka. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SANGGAU - Sekretaris Daerah Kabupaten Sanggau, Kukuh Triyatmaka menyampaikan bahwa tahun 2021 Pemkab Sanggau mulai memberlakukan absensi melalui aplikasi e-PHYO. Sistem terconeccting di Dinas Kominfo tersebut dalam rangka uji coba penerapan penambahan penghasilan pegawai ASN untuk tahun 2021.

Absensi dengan pemindaian wajah, dimulai pada Senin 4 Januari 2021. Kendati masih dalam tahap percobaan, Namun berdampak pada tingkat kehadiran ASN di hari pertama masuk kerja di tahun 2021.

“Paling tiga bulan, kita evaluasi kembali. Tapi secara absensi memang sudah kita rencanakan, sistem e-PHYO itu. Tadi uji coba, karena ini tahun baru, Nampaknya bagus juga. Artinya ada peningkatan signifikan, Semuanya takut terlambat,"katanya, Senin 4 Januari 2021.

Sekda menjelaskan bahwa sistem PH-YO ini nantinya akan menjadi acuan pembayaran tambahan penghasilan ASN dalam hal Tunjangan kinerja (Tukin). Karena ada beberapa komponen yang menjadi penilaian, satu di antaranya absensi.

Baca juga: Dinkes Sanggau Alokasikan 1.5 Miliar Untuk Vaksin Corona, Prioritas Tenaga Kesehatan

“Sehingga kalau absensinya tidak tepat, akan ada pemotongan secara otomatis dari sistem. Sehingga dengan metode ini akhirnya kan jadinya kita semua tidak mau kalau hanya karena terlambat kemudian dipotong,"ujarnya.

"Secara kedisiplinan cukup membantu, Semua sudah dilakukan, sampai tingkat kecamatan. Yang masih manual mungkin sekolah, Puskesdes dan Puskesmas. Kalau yang kecamatan dan SKPD sudah,”tambahnya.

Disinggung terkait berapa yang akan dibawa pulang jika bisa memenuhi komponen yang ditetapkan melalui aplikasi e-PHYO, Sekda menjelaskan tidak dapat mengetahui pasti, hanya saja sebagai perbandingan, untuk staf setidaknya bisa membawa pulang tambahan penghasilan hingga Rp 2 juta di luar gaji pokok mereka.

“Sanggau ini memang kemampuannya belum maksimal, Kalau dulu itu KS nya Rp 800 ribu sampai Rp 900 ribu. Tapi itu kan masuk tidak masuk, Kerja tidak kerja, segitu. Artinya dengan sistem ini Rp 1 juta sampai Rp 2 juta rupiah nambah nya, untuk staf yang paling kecil. Kalau staf gajinya Rp 3 sampai Rp 4 juta, ditambah Rp 1 atau Rp 2 juta bisa Rp 4 atau Rp 5 juta rupiah. Dengan catatan tadi, harus bagus kinerjanya. Karenanya kinerja itu kan nanti ada beberapa komponen,”jelasnya.

Selain berpotensi meningkatkan kedisiplinan dan kinerja, Sekda berharap melalui sistem ini tidak ada lagi ASN yang nongkrong di warung kopi saat jam kerja.

“Mudah-mudahan, kita ini hanya menggiring. Mudah-mudahan kalau pukul 07. 00 Wib dan pukul 08.00 Wib kawan-kawan tidak lihat lagi di warung kopi, Makin berkurang lah. Dari pada Satpol PP ke sana-sini, lebih bagus kita menerapkan seperti ini,”pungkasnya. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved