Breaking News:

Penanganan Covid

Ahli Sebut Nyeri, Kemerahan dan Bengkak Pasca-Vaksinasi itu Reaksi Alamiah

Perkembangan vaksin COVID-19 sudah masuk uji fase III, tinggal menunggu laporan dari Brazil, China, Turki,dan Indonesia.

TRIBUNNEWS
ILustrasi 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), Prof. Hindra Irawan Satiri, SpA(K), MTropPaed, menanggapi  beragam mitos yang beredar di masyarakat, terkait vaksin yang disebut mengandung zat berbahaya.

Ia menerangkan, pasca vaksinasi efek samping ringan seperti nyeri, kemerahan, maupun bengkak, merupakan reaksi alamiah dan jarang bisa dihindari.

Baca juga: Diduga Pengaruh Obat Kuat, Seorang Pria Umur 53 Tahun Ditemukan Meninggal Dunia di Losmen Sintang

"Hal ini tidak benar, karena tentu saja kandungan vaksin sudah diuji sejak pra klinik. Sebenarnya vaksin tidak berbahaya, namun perlu diingat vaksin itu produk biologis.

Oleh sebab itu vaksin bisa menyebabkan nyeri, kemerahan, dan pembengkakan yang merupakan reaksi alamiah dari vaksin. Jadi memang kita harus berhati-hati mengenai mitos-mitos terkait KIPI ini," ujarnya dalam keterangan yang diterima, Jumat 20 November 2020.

Baca juga: Testing Covid-19 Indonesia Baru 86 Persen dari Target WHO

Apabila ditemukan KIPI, sebenarnya semua masyarakat bisa melaporkan ke Komnas KIPI melalui situs, www.keamananvaksin.kemkes.go.id.

 “Yakinlah keamanan vaksin itu dipantau sejak awal. Bahkan setelah vaksin diregistrasi, tetap dipantau dan dikaji keamanannya”, ungkap Prof. Hindra.

Ia menegaskan, bahwa aspek keamanan dalam pembuatan vaksin menjadi hal yang utama.

Baca juga: HASIL FP2 MotoGP Portugal 2020 Sedang Live - Oliviera Tercepat FP1, Rossi Bisa Lebih Baik? 

Semua fase-fase uji klinik vaksin memiliki syarat yang harus dilakukan. Semua syarat harus terpenuhi baru boleh melanjutkan ke fase berikutnya.

Namun dalam keadaan khusus, seperti pandemi COVID-19, proses dipercepat tanpa menghilangkan syarat-syarat yang diperlukan. Semua proses ini pun harus didukung oleh pembiayaan dan sumber daya yang dibutuhkan, sehingga proses-proses yang lebih panjang dalam penemuan vaksin bisa dipersingkat.

“Saya tidak setuju terminologi anti vaksin, masyarakat sebenarnya masih mis konsepsi, artinya pengertian masyarakat belum mantap karena mendapat keterangan dari orang-orang yang kurang kompeten atau bukan bidangnya.

Baca juga: Tak Bisa Tempati Rumah, Erwin Polisikan Developer

Halaman
12
Editor: Nina Soraya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved