Apa yang Dimaksud Gerhana Bulan Penumbra yang Terjadi 30 November 2020?

Sementara Gerhana Bulan Penumbra adalah gerhana bulan yang terjadi saat posisi Bulan-Matahari-Bumi tidak persis sejajar.

Tayang:
Penulis: Nasaruddin | Editor: Nasaruddin
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Penampakan Gerhana Bulan Total (Super Blood Moon) diambil dari Kawasan Planetarium, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (31/1/2018). Fenomena langka gerhana bulan total yang terakihir kali terjadi 152 tahun lalu terlihat tidak sempurna dari wilayah Jakarta dikarenakan awan mendung. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Gerhana Bulan kembali terjadi di Indonesia, pada Senin 30 November 2020.

Gerhana Bulan yang terjadi disebut dengan Gerhana Bulan Penumbra (GBP).

Untuk diketahui, Gerhana Bulan adalah peristiwa terhalanginya cahaya Matahari oleh Bumi sehingga tidak semuanya sampai ke Bulan.

Peristiwa yang merupakan salah satu akibat dinamisnya pergerakan posisi Matahari, Bumi, dan Bulan ini hanya terjadi pada saat fase purnama dan dapat diprediksi sebelumnya.

Sementara Gerhana Bulan Penumbra adalah gerhana bulan yang terjadi saat posisi Bulan-Matahari-Bumi tidak persis sejajar.

Hal ini membuat Bulan hanya masuk ke bayangan penumbra Bumi.

Akibatnya, saat gerhana terjadi, bulan akan terlihat lebih redup dari saat purnama.

Baca juga: Panduan Lengkap Tata Cara Solat Gerhana Bulan atau Shalat Khusuf

Melansir https://planetarium.jakarta.go.id/, peristiwa Gerhana Bulan Penumbra aman dilihat dengan mata telanjang tanpa alat bantu semisal binokuler (kèkeran) atau teleskop (teropong).

Tidak berbahaya bagi kesehatan mata.

Namun demikian, tatkala melihat dengan alat bantu optik dan mengamati Bulan dalam fase purnama pasti cukup menyilaukan.

Jadi, tidak pula disarankan berlama-lama terlebih cuaca sangat cerah.

Bagi sebagian, dampak terlalu silau juga membuat tidak nyaman, kadang pusing.

Fenomena gerhana adalah peristiwa yang sangat wajar dan biasa terjadi.

Pada budaya di Jawa-Kawi dikenal istilah Growah untuk Gerhana Bulan Sebagian atau secara umum Lêntrèh untuk Gerhana Bulan.

Prasasti tentang fenomena ini di Nusantara pun sudah ada sejak abad 8

Mengapa fenomena ini menjadi lumrah dan banyak tercatat pada budaya dunia?

Baca juga: PROFIL Ustadz Dasad Latif yang Tolak Ceramah dan Suruh Pulang Ribuan Jemaah di Tanah Grogot Kaltim

Sebenarnya hal ini dapat ditinjau dari sifat Bulan yang bergerak mengedari Bumi, sementara Bumi pun secara bersamaan mengedari Matahari (tentang Bulan, dapat disimak pada Bulan, Satelit Bumi dan Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan).

Baik Bumi dan Bulan sama-sama tidak memancarkan cahaya sendiri, hanya mendapat cahaya utamanya dari Matahari.

Dengan demikian, akan dimengerti kalau baik Bumi dan Bulan memiliki bayang-bayang, baik bayang-bayang utama yang disebut umbra maupun bayang-bayang samar atau penumbra.

Jadi, dapat dimaklumi juga apabila permukaan Bumi terkena bayang-bayang Bulan, maka akan terjadi gerhana Matahari.

Atau berlaku sebaliknya, Bulan memasuki bayang-bayang Bumi sehingga terjadi gerhana Bulan.

Untuk kali ini adalah fenomena GBP di mana hanya sebagian piringan Bulan saja yang memasuki penumbra Bumi.

Gerhana Bulan Penumbra yang akan terjadi pada Senin 30 November 2020, dimulai pada pukul 14.32 WIB dan berakhir pukul 18.53 WIB bersamaan dengan Bulan Purnama.

"Secara teoritis (GBP) dapat diamati dari seluruh Indonesia bersamaan dengan Bulan mulai terbit di langit timur," kata astronom amatir Indonesia, Marufin Sudibyo, dilansir dari Kompas.com.

Gerhana Bulan Penumbra ini juga bisa disaksikan di sebagian besar negara-negara di Asia dan seluruh benua Amerika.

Satu di antara amalan yang bisa dilakukan saat gerhana bulan terjadi adalah solat sunnah khusuf.

Untuk umat Islam yang akan melaksanakan Salat gerhana bulan, berikut panduan yang Tribun kutip dari Kemenag:

1. Berniat di dalam hati. Untuk yang akan melafadzkan niat, berikut bacaannya:

أُصَلِّي سُنَّةَ الخُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامً/مَأمُومًا لله تَعَالَى

Ushallî sunnatal khusûf rak‘ataini imâman/makmûman lillâhi ta‘âlâ

Artinya, “Saya shalat sunah gerhana bulan dua rakaat sebagai imam/makmum karena Allah SWT.”

2. Takbiratul ihram, yaitu bertakbir sebagaimana shalat biasa

3. Membaca do’a iftitah dan berta’awudz

Baca juga: Login Http//dtks Kemensos.go.id , Cek Nama Penerima Bansos BST Rp 300 Ribu Per Bulan

4. Membaca surat Al Fatihah

5. Membaca surah yang panjang (seperti surat Al Baqarah) sambil dijaharkan (dikeraskan suaranya, bukan lirih)

6. Ruku’ sambil memanjangkannya

7. Bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan “Sami’allahu Liman Hamidah, Rabbana Wa Lakal Hamd”

8. Membaca surah Al Fatihah

9. Membaca surah yang panjang (berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama)

10. Ruku’ (ruku’ kedua)

11. I’tidal

12. Sujud yang panjangnya sebagaimana ruku’

13. Duduk di antara dua sujud

14. Sujud kembali

15. Bangkit dari sujud lalu mengerjakan raka’at kedua sebagaimana raka’at pertama hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya

16. Salam.

17. Setelah itu imam menyampaikan khutbah kepada para jamaah yang berisi anjuran untuk berdzikir, berdo’a, beristighfar, bersedekah.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved