Citizen Reporter

Merawat Keberagaman Sebagai Perekat Bangsa

Kehadiran Gereja Katolik harus dirasakan dimanapun berada. Hal ini ditegaskan oleh Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus dalam rangka.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus. 

Sikap Gereja Katolik Terhadap Agama Lain yang bukan Pengikut Tuhan Yesus Kristus

Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus.
Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus. (TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA)

Dalam seminar itu pula, Mgr. Agus menegaskan bahwa Sikap Gereja Katolik terhadap Agama lain yang bukan pengikut Tuhan Yesus Kristus terdapat juga di Konsili Vatikan ke II pada (11 Oktober 1962 – 8 Desember 1965). 

Dalam dekrit (Surat Pastoral) Paus Paulus VI, yang dikeluarkan Vatikan 28/10/1965, berbunyi “Nostra Astate” (“Pada Zaman Kita”), artikel 2 ini dikatakan bahwa Gereja Katolik tidak menolak sesuatupun yang dalam agama-agama ini benar dan kudus. 

Dengan penghormatan ia, memandang cara-cara bertindak dan hidup itu, norma-norma dan ajaran yang meskipun dalam banyak hal berbeda dengan yang dianutnya dan tak ditemukan sendiri: tetapi tidak jarang mencerminkan pantulan kebenaran yang menerangi semua orang”.

Bahkan di artikel 5 dikatakan “Gereja Katolik menolak setiap diskriminasi atau penindasan terhadap manusia karena alasan ras atau warna kulit, status atau agama: sebagai bertentangan dengan semangat Kristus”.

“Jelas sekali bahwa penghormatan dan penghargaan terhadap siapapun yang berkeyakinan atau yang beragama lain, atau yang berbeda secara etnis, suku, golongan status dan lain sebagainya adalah sesatau yang melekat pada eksistensi gereja Katolik itu sendiri,” tuturnya Senin 16 November 2020.

Dokumen Abu Dhabi

Senin, 4 Februari 2019, di Abu Dhabi Paus Fransiskus bersama Imam Besar Al-Ashar, SheikAhmed e Thayeb, menandatangani Dokumen tentang “Persaudaraan untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama” (The Document Humen Fraternity for World Peace and Living Together). 

Paus Fransiskus menegaskan bahwa: “Iman kepada Allah mempersatukan dan tidak memecah belah. Iman itu mendekatkan kita, kendatipun ada berbagai macam perbedaan: dan menjauhkan kita dari permusuhan dan kebencian”. 

100 persen Katolik, 100 persen Indonesia

Kesempatan seminar itu, Mgr. Agustinus Agus juga mengungkapkan moto yang disampaikan oleh Mgr. Soegijapranata, 27 Desember 1954 tentang 100 persen Katolik, 100 persen Indonesia. 

Hal itu juga disamakan seperti Injil Matius 22: 21 yaitu tentang “Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah. 

Sejak sebelum kemerdekaan, umat katolik sudah terlibat untuk memperjuangkan, mempertahankan serta mengisi kemerdekaan NKRI. 

Beberapa catatan sehubungan dengan hal ini, dan baik untuk diketahui. 
Sabtu, 27/10/28 Kongres Pemuda berlansung di “Gedung Katholieke Jogenlingen Bod(KJB), berada di kompleks Gereja Katedral Jakarta sekarang. 

Dalam pertemuan tersebut membahas tentang 5 topik yaitu sejarah, hukum adat, pendidikan dan keamanan. 

Disampaikan oleh Mohammad Yamin. 
Pada minggu pagi, 28/10/1928, pertemuan dilanjutkan di Gedung Oost Java Bioscoop yang terletak di Jl. Merdeka Timur, dekat istana kepresidenan. Membahas tema, pendidikan. Pembicara saat itu ada Poernomowoelan dan Sarmidi Mangunsarkoro. 

Saat itulah Sumpah Pemuda diikrarkan dan lagu Indonesia Raya karya Wage Rudol Supratman dikumandangkan. 

Wakil pemuda Katolik dari luar jawa yang hadir kala itu antara lain, Leimena, Jong Ambon dan Cornelis Lefrand Senduk dari Jong Celebes. 

Bahkan juga Wage Rudolf Supratman yang menciptakan lagu Indonesia Raya hadri dan menyanyikan lagu tersebut. 

Menutup sesinya tersebut, Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus sedikit menceritakan bahwa tidak sedikit juga Pahlawan yang beragama Katolik saat itu. 

Mgr. Albertus Sugyapranata., SJ, Johanes Lattuharhary, Sam Ratulangi, Walter Mangunsidi, Piere Tendean, Agustinus Adisucipto dan Yos Sudarso.

Dalam penghujung materi, Mgr. Agus sedikit memaparkan apa yang sudah dilakukan gereja katolik khususnya dalam kegiatan nyata di masa pandemic covid 19 yang sedang melanda. Dalam menanggulangi dampak negatif Covid 19 bersama PB Ansor, Keuskupan Agung Pontianak membuat Program “Indonesia Peduli dan Bersatu”. 

Tepat pada 28 Januari 2020, Keuskupan Agung Pontianak mengundang Prof. DR. H. Nasarudin Umar. MA untuk menjadi pembicara dalam pertemuan yang dihadiri oleh imam, suster, bruder dan beberapa tokoh umat se Keuskupan Agung Pontianak dan pimpinan gereja-gereja Kristen yang ada di Pontianak. 

Hal serupa juga dilakukan Mgr. Agustinus Agus untuk memfasilitasi dan mendampingi salah satu tokoh NU Gus Yahya Cholil Staquf, bertemu Paus Fransiskus tanggal 25 September 2019 di Vatican. 

“Dalam semangat 100 persen Katolik 100 persen Indonesia, saya mengajak semua umat Katolik khususnya bersama-sama dengan seluruh warga negara Indonesia lainya memperjuangkan tanpa lelah agar Bhinneka Tunggal Ika diterima oleh siapapun yang hidup di bumi Pancasila, Indonesia ini,” pungkasnya sembari menutup materi ke tiga.

Selanjutnya untuk narasumber yang ke empat dibawakan langsung oleh Prof. Dr. Garuda Wiko S.H., M.Si. (Rektor Universitas Tanjungpura) dengan bertema “Semangat Kepahlawanan Generasi Muda Pada Masa Pandemi Covid Dan Era Digital”. 

Dalam momen itu, ia mengatakan bahwa Pijakan Bangsa adalah Pancasila, maka Perubahan harus diantisipasi dengan sumber daya manusia yang matang. 

Hal itu selaras dengan mengembangkan kapasistas mahasiswa agar siap inovasi dan renovasi untuk perubahan bangsa yang lebih baik. 

Prof. Dr. Garuda Wiko juga menambahkan untuk mengembangkan sumber daya manusia harus disertai dengan program perubahan perilaku untuk arah Indonesia yang lebih baik. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved