Khazanah Islam

Doa Buka Puasa Senin Kamis Arab, Latin dan Terjemah Bahasa Indonesia

Sebelum berbuka puasa, ada baiknya kita mengetahui tata cara buka puasa yang sudah dicontohkan Rasulullah SAW.

Tayang:
Penulis: Nasaruddin | Editor: Nasaruddin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ENDRO
Ilustrasi buka puasa 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Puasa Senin Kamis adalah puasa sunnah yang dilaksanakan di hari Senin dan Kamis.

Waktu puasa Senin Kamis dimulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari atau azan Maghrib.

Berbuka puasa menjadi waktu akhir dari amalan ibadah puasa dalam satu hari.

Mereka yang berpuasa, akan berbuka saat masuk waktu Maghrib yang ditandai dengan kumandang azan.

Sebelum berbuka puasa, ada baiknya kita mengetahui tata cara buka puasa yang sudah dicontohkan Rasulullah SAW.

Dikutip dari Serambinews.com, Rabu (29/4/2020), Abu Riyadl Nurcholis Majid, Lc membeberkan urutan tata cara berbuka puasa seperti yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW, yakni:

Baca juga: Bacaan Niat Sholat Maghrib & Tata Cara Sholat Maghrib serta Bacaan Tahyad Awal dan Tahyad Akhir

1. Siapkan air putih atau kurma. Minimal kurma 3 biji atau lebih tapi disunahkan ganjil jumlahnya.

2. Tunggu suara azan magrib dan pastikan itu benar adalah azan maghrib.

3. Jika telah mendengar azan maka bacalah 'bismillah' kemudian makan kurma tadi baru anda minum air yang Anda sukai.

Tapi jika tidak ada kurma maka hendaknya minum air putih dulu.

4. Setelah makan kurma dan minum air putih maka ucapkan doa berikut:

ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله

Dzahabaz zhomaa-u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah

"Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, semoga pahala didapatkan. Insya Allah.” [HR Abu Daud no 2357, Ad Daruquthni no 2/401]

Setelah itu jika Anda ingin doa dengan doa-doa yang lain maka silahkan dan perbanyaklah.

5. Jangan lupa Anda ada kewajiban sholat maghrib.

Baca juga: Bacaan Niat Sholat Maghrib & Tata Cara Sholat Maghrib serta Bacaan Tahyad Awal dan Tahyad Akhir

Doa Berbuka Puasa

Doa buka puasa yang diajarkan Rasulullah SAW, ada dua.

Tetapi satu di antaranya bersumber dari hadits dhoif.

Demikian disampaikan Ustadz Abdul Somad dalam satu ceramahnya.

Berikut doa buka puasa bahasa Arab, Latin dan terjemahan bahasa Indonesia:

اللهم لك صمت، وعلى رزقك أفطرت

Berikut doa buka puasa Latin:

“Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu”.

Berikut terjemahan doa buka puasa bahasa Indonesia:

“Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan atas rezeki-Mu aku berbuka”.

Ustadz Abdul Somad mengatakan, lafaz doa buka puasa ini memang berasal dari hadits dhoif.

"عن معاذ بن زُهْرة: أنه بلغه أن النب ي صَلَّى الََُّّ عَلَيْهِ وَسَ لَّمَ كان إذا أفْطر؛ قال: " اللهم لك صُمْت، وعلى رزقك أفطرت

Dari Mu’adz bin Zuhrah: telah sampai kepadanya bahwa ketika berbuka Rasulullah Saw mengucapkan: “Ya Allah untuk-Mu puasaku dan atas rezeki-Mu aku berbuka”.

Menurut Syekh al-Albani, sanad hadits itu dha’if mursal, status Mu’adz ini adalah seorang tabi’i majhul. 

Namun Syekh Ibnu ‘Utsaimin Membolehkan Doa Yang Didha’ifkan Syekh al-Albani:

"Sesungguhnya waktu berbuka adalah waktu terkabulnya doa, karena waktu berbuka itu waktu akhir ibadah, karena biasanya manusia dalam keadaan sangat lemah ketika akan berbuka, setiap kali manusia dalam keadaan jiwa yang lemah, hati yang lembut, maka lebih dekat kepada penyerahan diri kepada Allah SWT,".

Doa buka puasa bahasa Arab yang dicontohkan Rasulullah SAW adalah sebagai berikut:

ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاءالله

Doa buka puasa Latin:

“Dzahaba azh-Zhama’u wabtallati al-‘Uruqu wa"

Terjemahan doa buka puasa bahasa Indonesia:

“Dahaga telah pergi, urat-urat telah basah dan balasan telah ditetapkan insya Allah"

Ustadz Somad mengatakan, kedua doa berpuka puasa itu boleh dipakai. 

Hal itu seperti disampaikan Syekh Ibnu Utsaimin ulama Saudi Arabia. 

Doa buka puasa dibaca saat kita sudah mendengar azan Maghrib atau memang masuk waktu Maghrib.

Doa berbuka puasa, ada dua versi yang sering kita dengar.

Pertama seperti di bawah ini:

اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

"Allaahummalakasumtu wabika amantu wa'aa rizkika aftortu birohmatika yaa arhamarra himiin"

Artinya :

"Ya Allah karena-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah dan dengan rezeki-Mu aku berbuka (puasa) dengan rahmat-Mu Ya Allah Tuhan Maha Pengasih"

Selanjutnya ada juga yang menggunakan doa berikut:

ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ

'Dzahaba-zh Zama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu wa Tsabata-l Ajru, Insyaa Allah'

"Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan telah diraih pahala, insya Allah (jika Allah menghendaki)."

Keistimewaan Orang Puasa

Ustadz Adi Hidayat dalam satu ceramahnya mengungkapkan, orang yang biasa berpuasa punya dua keistimewaan. 

Pertama, orang puasa sering meningkatkan amal soleh.

"Anda misalnya sedang puasa. Pasti amal soleh anda meningkat," kata Ustadz Adi Hidayat.

Biasa hanya melaksanakan solat fardhu, lalu saat puasa ditambah dengan solat sunnah.

"Kalau nggak solat sunnah bisa gelisah. Tiba-tiba rajin baca Quran. Tiba-tiba pengen infak. Tiba-tiba meningkat amal soleh, amal soleh," kata Ustadz Adi Hidayat.

Kedua, orang puasa itu umumnya punya kesanggupan dan kekuatan untuk menahan maksiat. 

"Nggak ada orang puasa maksiat. Karena minimal takut batal puasanya," kata Ustadz Adi Hidayat.

"Silakan cek, apa ada orang puasa mencuri? Tidak. Apa ada orang puasa mau dusta? Tidak," lanjut UAH.

Bahkan saat seorang yang puasa sedang sendirian, punya potensi untuk menyimpang, dia tahan. 

"Karena khawatir minimal takut batal puasanya," ungkap Ustadz Adi Hidayat. 

Ustadz Adi Hidayat menceritakan, suatu waktu, buka puasa sesuai jadwal jam enam sore.

Jam enam kurang seperempat ada orang diprovokasi.

"Orang puasa diprovokasi orang lain. Dimarahin, dicela, dihina, habis satu buku. Apakah marah? Tidak. Apakah membalas? Tidak. 

Temannya heran lalu bertanya, kamu nggak biasanya begini. Kenapa nggak dibalas?

"Entar habis Maghrib. Tapi habis Maghrib tidak dibalas, lupa, dah selesai. Dari pada pahala saya hilang," cerita UAH.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved