Breaking News:

Penanganan Pasien Covid-19 Meninggal Tertanggung dalam APBD Sintang, Ini Penjelasan Sekda Yosepha

Penanganan jenazah yang meninggal akibat covid berpatokan pada prosedur operasi standar yang dikeluarkan oleh kemenke

Penulis: Agus Pujianto | Editor: Jamadin
TRIBUN PONTIANAK/ ISTIMEWA
Sekretaris Daerah Kabupaten Sintang, Yosepha Hasnah mewakili Pjs Bupati Sintang, Florentinus Anum menjawab pandangan umum fraksi amanat persatuan DPRD Sintang yang mempertanyakan penanganan pasien covid-19 yang meninggal dunia.  

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID,SINTANG - Sekretaris Daerah Kabupaten Sintang, Yosepha Hasnah mewakili Pjs Bupati Sintang, Florentinus Anum menjawab
pandangan umum fraksi amanat persatuan DPRD Sintang yang mempertanyakan penanganan pasien covid-19 yang meninggal dunia.

Menurut Yosepha, mengenai penanganan pasien covid yang menjnggal dunia, bahwa fasilitas yang diberikan yang tertanggung dalam APBD Kabupaten Sintang adalah penyediaan peti jenazah, peralatan pemulasaran jenazah, serta transportasi sampai ke pemakaman.

Yosepha, tak menjawab pandangan Fraksi Amanat Persatuan, soal apakah penggali kubur terakomodir dalam APBP atau tidak. Dia hanya menegaskan, penanganan jenazah pasien meninggal akibat corona berpatokan pada SOP yang dikeluarkan oleh Kemenkes.

"Penanganan jenazah yang meninggal akibat covid berpatokan pada prosedur operasi standar yang dikeluarkan oleh kemenkes, di mana didalamnya telah tertuang tata cara penanganan jenazah sesuai dengan prosedeur yang disesuaikan degan keyakinan agama serta jenis kelamin," kata  Yosepha Hasnah.

Baca juga: Senen Maryono Soroti Penanganan Jenazah Covid-19 di Sintang

Diberitakan sebelumnya, Juru bicara Fraksi Amanat Persatuan, Senen Maryono mempertanyakan fasilitas apa saja yang diberikan dalam menanggulangi pasien covid-19 yang meninggal dunia. "Kenapa sampai penggali kubur tidak dibiayai. Karena mohon maaf, di media sosial, biaya (pengurusan) pasien meninggal covid mahal," tanyanya.

Selain itu, politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini juga menyoroti soal penanganan jenazah pasien covid yang kurang profesional dan lambat.

"Dua pasien meninggal saya turun langsung. Saya melihat, penangananya kurang profesional. Lambat. Ada informasi pemakaman pasien covid meninggal paling lambat 4 jam. Tapi yang kami alami lebih dari itu. Waktu saya tanya apakah kain kafan sudah siap, dijawab sudah. Tapi nunggunya sampai 2,5 jam," ungkap Senen.

Senen Maryono juga merasa kasihan dengan para penggali kubur karena tidak ada mendapatkan perhatian. "Penggali kubur di makam, tidak ada makan, tidak ada minum, dan terus terang saya keluarkan dompet untuk uang saku yang menggali kubur. (Biaya pemakaman) Kalau tidak ada katakan tidak ada, supaya masyarakat paham. Karena di medsos, pasien meninggal covid dibiayai oleh pemerintah," jelasnya.

Terakhir, Senen Maryono menyarankan ke rumah sakit, jika ada pasien covid meninggal, yang memulasarkan jenazah harus jenis kelamin dan agama yang sama. "Karena masing-masing agama tentu punya tata cara. Ini semua bukan untuk menyalahkan. Tapi meminta penjelasan supaya kedepan ada perbaikan. Mudah mudahan tidak ada lagi pasien covid yang meninggal," harap Senen. 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved