Breaking News:

Ahli Epidemiologi Sebut Pasien Covid-19 Tanpa Gejala Masih Tetap Menularkan Virus

Hal tersebut penting dilakukan, karena selain berdampak pada kesulitan dalan pencapaian target pemerikansan swab WHO yaitu 1/1000 penduduk per minggu,

Penulis: Muhammad Rokib | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ Muhammad Rokib
Ketua tim kajian Covid-19 sekaligus ahli epidemologi Poltekkes Kemenkes Pontianak, Dr. Malik Saepudin, SKM.,M.Kes. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Ahli Epidemiologi sekaligus ketua tim kajian ilmiah Covid-19 Poltekkes Kemenkes Pontianak dan Ketua Muhmamadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) Kalbar, Dr. Malik Saepudin SKM,M.Kes menyampaikan bahwa pasien covid-19 tanpa gejala (OTG) tetap menularkan virus kepada yang lainnya.

"Perlu diwaspadahi untuk pasien COVID-19 tanpa gejala (OTG), terbukti tetap dapat menghasilkan kultur virus yang positif berdasarkan penelitian. Oleh karena itu, pasien COVID-19 tanpa gejala tetap dapat menularkan ke orang lain, sehingga tetap wajib menjalani isolasi / karantina mandiri,"

"Dengan demikian masyarakat dan petugas kesehatan perlu memahami ketentuan baru ini, sehingga dalam pelaksaannya tidak terjadi miskomunikasi," jelasnya.

Hal tersebut penting dilakukan, karena selain berdampak pada kesulitan dalan pencapaian target pemerikansan swab WHO yaitu 1/1000 penduduk per minggu, juga otomatis ada perubahan terhadap pencatatan dan pelaporan status kasus baru.

Bisa jadi sejumlah kontak erat dengan pasien covid-19 itu sebenarnya positif covid-19, namun karena tidak menunjukan gejala atau menujukan gejala ringan saja, sehingga tidak diswab, sehingga tidak dicatat sebagai terkonfirmasi positif.

Hingga kini dijelaskannya pandemi COVID-19 di Indonesia telah memasuki bulan ketujuh sejak kasus pertama yang ditemukan pada awal Maret 2020. Menurut data dari terakhi, hingga pada pekan terakhir jumlah penderita positif di Indonesia telah mencapai angka 389.712 orang, sebanyak 313.764 pasien dinyatakan sembuh dan korban meninggal dunia sebanyak 13.299 orang.

Begitu juga kondisi pandemi COVID-19 di provinsi Kalimantan Barat belum melandai. Masyarakat perlu mengetahui pedoman baru dalam pemeriksaan tes swab / PCR, sesuai dengan Pedoman Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 Revisi Ke-5. Utamanya, bagi Kontak Erat dan Konfirmasi COVID-19 tanpa gejala.

Baca juga: Tiga Kriteria Pasien Covid-19 Dinyatakan Selesai Isolasi

"Jika selama pemantauan ditemukan gejala pada Kontak Erat, maka harus segera diperiksa swab / PCR, bagi Kontak Erat, perlu menjalani isolasi / karantina mandiri selama 14 hari sejak kontak terakhir dengan kasus probable atau konfirmasi COVID-19, tanpa harus dites swab / PCR. Jika setelah dilakukan karantina selama 14 hari tidak muncul gejala, maka pemantauan dapat dihentikan," ujarnya.

Akan tetapi, jika selama pemantauan ditemukan gejala pada kontak erat, maka harus segera diperiksa swab/PCR. Untuk kontak erat yang sudah selesai karantina/pemantauan, dapat diberikan surat pernyataan selesai isolasi mandiri dari petugas pelayanan kesehatan setempat.

Sementara itu, untuk kasus Konfirmasi, terdapat perbedaan manajemen kesehatan masyarakat yang dilakukan. Bagi kasus Konfirmasi tanpa gejala, gejala ringan, dan gejala sedang tidak perlu dilakukan follow up atau pengulangan pemeriksaan swab / PCR. Sedangkan, untuk kasus Konfirmasi bergejala berat / kritis tetap perlu melakukan follow up atau pengulangan pemeriksaan swab / PCR di rumah sakit.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved